Chapter 3

130 16 0
                                        

Sudah lebih dari dua belas jam sejak Sean melemparnya ke lubang ini. Perut Vincent mulai terasa melilit, kram yang menyakitkan akibat rasa lapar yang tidak terpenuhi. Namun, rasa haus jauh lebih menyiksa. Tenggorokannya terasa seperti terbakar, kering dan kasar seperti amplas setiap kali ia mencoba menelan ludah.

Jeanne benar-benar menjalankan ancamannya tidak ada makan, tidak ada minum. Ia ingin melihat Vincent memohon. Ia ingin melihat sang jurnalis ambisius itu merangkak di kakinya demi setetes air.

Namun, Jeanne salah menilai mangsanya.

Di tengah kegelapan, Vincent menyandarkan kepalanya pada dinding beton yang dingin. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini berantakan, basah oleh keringat dingin.

Wajahnya yang rupawan, yang sering disebut orang memiliki karisma seorang model, kini penuh dengan memar keunguan hasil baku hantam di apartemennya. Meski tubuhnya remuk, api di matanya tidak pernah padam.

"Kau tidak akan bisa membunuhku secepat ini, Jeanne," bisik Vincent, suaranya parau dan hampir hilang.

Tiba-tiba, suara derit engsel pintu besi di kejauhan memecah keheningan. Vincent menyipitkan mata saat cahaya kuning pucat dari koridor luar merangsek masuk melalui celah pintu selnya yang berat. Langkah kaki itu kembali terdengar.

Tap, tap, tap, tap

Suara sepatu yang beradu dengan lantai marmer di atas, lalu berubah menjadi suara gema yang tajam saat menapaki tangga beton bawah tanah.

Pintu sel itu terbuka dengan suara derit yang memilukan. Jeanne berdiri di sana.

Pakaian nya sudah berubah, namun riasan di wajahnya masih sempurna, matanya yang tajam dibingkai oleh eyeliner hitam yang tegas. Ia tampak seperti dewi yang turun ke neraka, namun bukan untuk membawa kedamaian, melainkan untuk membawa kehancuran.

Di tangannya, ia memutar-mutar sebuah benda kecil yaitu ponsel milik Vincent.

"Masih hidup, Vincent Ortega?" tanya Jeanne, suaranya rendah namun penuh dengan nada penghinaan.

Vincent tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa energinya, lalu mendongak. Ia memberikan tatapan intimidasi yang luar biasa tatapan seorang jurnalis yang telah melihat sisi tergelap manusia dan tidak lagi merasa gentar.

Mata Vincent mengunci mata Jeanne, menantangnya tanpa rasa takut sedikit pun. Jeanne merasa terusik oleh tatapan itu. Harusnya Vincent memohon. Harusnya Vincent menangis.

"Kau melihat ini?" Jeanne mengangkat ponsel Vincent tinggi-tinggi. Layarnya menyala, menampilkan deretan notifikasi dari informan misterius tentang Saint Jude. "Kau pikir kau siapa? Seorang pahlawan? Kau hanya serangga yang salah masuk ke sarang serigala!"

"Berita ini tidak akan pernah keluar! Kau dengar?!" Jeanne memaki, napasnya memburu karena amarah yang meledak-ledak.

"Setiap dokumen yang kau cari sudah musnah. Rencanamu sia-sia! Aku memiliki dunia di telapak tanganku, Vincent. Sementara kau? Kau hanya tikus kampung yang akan membusuk di sini tanpa pernah ditemukan!"

Jeanne berbisik tepat di telinga Vincent, suaranya berubah menjadi sangat lembut namun mengandung racun yang mematikan. "Pikirkan ibumu di rumah. Apa dia tahu putranya yang sombong ini sedang merangkak di bawah tanah? Bagaimana jika aku mengirimkan foto mayatmu padanya? Bayangkan kehancurannya saat menyadari bahwa kau mati bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pecundang yang tidak berharga."

Silent HeadlineCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang