Orang-orang heran mengapa gadis usia 20 tahun itu tiba-tiba banting setir ke bidang lain
Dulu, ada Teman-teman satu tempat kos namun berbeda kamar dengan Mitha
Namanya Kirana, Celly dan Hana. Mereka bergabung dalam satu kamar karena mereka masuk kost dengan cara patungan
Kamar B14 di lantai dua di kost bernama Senjakala itulah tempat mereka bertiga, bersebelahan dengan kamar B13 yang ditempati Mitha
Mereka bertiga satu sekolah dan akrab dengan Mitha, gadis yang saat itu mereka kira adalah gadis biasa yang ramah
Namun salah, nyatanya gadis kelahiran ibu kota Priangan itu tak hanya gadis biasa
Okelah kelihatannya biasa saja, anggapan mereka akan terus begitu kalau saja tak mengintip ke dalam kamar Mitha
Lukisan terpajang di dinding kamar yang berwarna putih pucat, begitu kontras dengan warna lukisannya
Tiga lukisan yang terpajang adalah lukisan wanita berkebaya putih yang tengah memandangi pemandangan hijau dataran tinggi kebun teh dari balik jendela, lukisan pria berpakaian militer Belanda zaman kolonial yang tengah menembak setumpukan tubuh Pribumi yang sudah tak bernyawa, dan terakhir lukisan wanita berkebaya itu dengan pria Belanda yang memakai pakaian khas Sunda sambil menggendong bocah laki-laki yang rupawan
Mereka merasa biasa saja untuk lukisan pertama dan terakhir karena terlihat normal, namun yang kedua. .
"Apa-apaan itu? Kejam sekali pria itu!" Celly menatap ngeri lukisan kedua itu
Kirana menatap bingung sekaligus terkejut, "Pria itu.. Sama seperti pria yang di lukisan ketiga"
Suara hembusan nafas terdengar di belakang mereka, saat mereka menoleh rupanya ada Mitha dibelakang
"Sedang apa kalian di depan kamar orang lain? Oh dan lukisan itu, dari awal aku masuk kamar ini sudah ada" Mitha mengatakan itu agar mereka tak mengira dia pembuat lukisan itu karena memang bukan
"Tidak kau copot? Lihat lukisan kedua itu! Bukankah itu mengerikan?"
Mitha tersenyum kesal, "Sudah kulakukan tapi terpasang lagi"
"Anak pemilik kos bilang lukisan itu milik buyutnya, jadi dia bilang untuk tak menyingkirkan itu"
"Kalau takut jangan dilihat..mau makan pecel lele? Aku beli banyak nih" ajak Mitha
"Kadang mata mereka ngeliatin aku, but it's okay, udah biasa"
Tawa pecah dari mulut Mitha, merasa lucu melihat wajah pucat mereka
Benar kata Mitha, rasanya mata dari orang-orang di lukisan itu mengikuti setiap gerakan mereka
"Hiiii mithaaaa! Takut ah! Makan dikamar kami aja!" Celly benar-benar merasa tak nyaman
"Kamar yang paling sedikit pemakaian listrik nya itu kalian loh, furniture disini semuanya elektrik, kalian gak ada nasi kan?"
"Takut itu wajar, jangan melamun aja"
"Bentar tau darimana? Soal pemakaian listrik kami"
"Yang sering ngurus pembelian token kan aku, pasti ada data dari bagian keuangan kos ini"
"Pembayaran gak bakal bengkak kok khusus lantai dua, ada keringanan"
"Itu kan gara gara ada kamu"
Tak ada tanggapan dari Mitha, dia sibuk menyiapkan makanan
"Menyebalkan sekali" suara itu menggema, bukan suara dari mereka berempat
Mitha langsung mendongak ke atas dan melompat kebelakang
"Lari!"
Entah karena dorongan apa, adrenalin mereka meningkat dan tanpa berpikir mereka lari
Perlahan melupakan sesuatu.
....
Pendek?
Ya dong kan chapter come back ku dri hiatus
See ya.
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐀𝐥𝐭𝐡𝐞𝐚 𝐄𝐩𝐡𝐞𝐦𝐞𝐫𝐚𝐥
General FictionAlthea Ephemeral.. - Dibuat dan dikembangkan oleh @Rezynctheormy_
