Alo senang kita bisa bertemu lagi saya harap kalian selalu sehat.
Bagi pembaca lama saya infokan mungkin mulai chapter ini zewi nggak akan post part menggunakan mulmed foto lagi, nggak apa-apa kan? Pembaca berhak berimajinasi soal chapter TEMPORARY .
Selamat membaca.
____~~~____
Kisah kita sangat rapuh,
lucunya kamu tetap menantangnya dengan luka yang teramat gila.
____~~~____
17 tahun yang lalu...
Pertama kali mengenalnya, Alcace sudah tahu Blue memiliki kehidupan yang tidak biasa, jadi kebiasaannya mengetahui Blue menyembunyikan hal lain. Bahkan saat gadis itu tertawa dengan suara yang nyaring.
Blue hidup dengan banyak cinta dari teman dan keluarganya tapi di satu waktu matanya meredup dan keningnya mengerut, di waktu yang lain matanya berkaca-kaca dan nyaris meneteskan air mata bahkan di tengah perbincangan hangat bersama teman-temannya. Entah apa yang selalu tiba-tiba mengusik suasana hati gadis itu.
Alcace sangat ingat saat itu hampir memasuki bulan September ketika mereka baru saja memulai semester pertama dan dia menemukan Blue akhirnya benar-benar menangis, sesegukan--di tangga darurat kampus.
Walau sering memperhatikannya sejak masa orientasi, namun dia cukup terkejut menemukan Blue menangis seperti itu.
Niatnya menggunakan tangga darurat untuk menghindari senior, hilang begitu saja.
Dan Alcace tidak mengganggu gadis itu, dia hanya duduk di tangga paling atas dan mendengarkan tangisannya. Ketika Blue merasa sedikit tenang, barulah dia mendekat.
"Lewatlah, saya tidak terganggu."
Alcace terhenyak dan gadis itu berbalik menatapnya, masih dalam posisi duduk.
Alcace semakin bingung ketika Blue tersenyum lebar kepadanya.
"Terima kasih tidak melewati batas." Ucapnya lagi.
"Kamu tahu saya ada disini?"
"Saya punya telinga, pintu daruratnya kan bunyi saat kamu buka." Ucapnya ringan.
Alcace melongoh beberapa detik sebelum mengangguk-angguk paham. Setelahnya dia menuruni beberapa anak tangga itu lalu ikut duduk di sana, tepat di atas undakan yang Blue tempati.
"Di saat seperti ini, bisa saja saya nampar kamu. Orang normal akan bereaksi seperti itu."
Lagi-lagi Alcace terkejut, tidak yakin sebenarnya Blue sedang bicara dengan siapa. Tapi ketika gadis itu kembali tersenyum-kali ini dengan sinis menatapnya, Alcace sadar kalimat tadi ditujukan untuknya.
"Apa maksudmu?"
"Saya tahu kok, kamu..." Matanya yang masih sembab menyipit, "kamu selalu memperhatikan saya."
"Eh saya--"
"Wajar kalau saya berpikir kamu stalker-karena kamu terlalu sering melakukannya. Tapi kamu tidak pernah diam-diam mengikuti atau melanggar privasi saya, bahkan tadi kamu bersikap baik dengan membiarkan saya menangis dengan tenang."
Alcace cukup takjub dia menjelaskannya begitu rinci, tanpa sadar Alcace sendiri tersenyum tipis dan mengangkat bahunya tanda menyerah, tidak mau menyangkal lebih. Sepertinya Blue juga bukan tipe yang mudah di bohongi.
"Saya Bluelave Yapoland."
"Saya tahu." Jawab Alcace, "kita satu kelompok saat orientasi. Kalau saya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Temporary
FanfictionSelamat datang di penderitaan... Basic of the dark love メメBlulave Yapoland : Mereka menyebut saya jalang. Karena telah berselingkuh dengan suami dari kakak saya sendiri. Mereka menyebut saya egois. Karena menginjak perasaan seseorang yang tulus menc...
