34. Camaraderie

4.2K 387 40
                                        

Angin yang tenang berhembus lembut membelai wajah ketiga pemuda yang sedang berdiri di atas rooftop Rumah Sakit Askarava. Dari atas sana mereka bisa melihat keramaian lalu lintas di sore hari, dengan suara klakson yang saling bersahutan serta kepadatan dari pejalan kaki yang berjalan seakan sedang saling berlomba.

Sore itu, dengan matahari yang sudah hampir terbenam, Sky berdiri di sana, bersama kedua saudaranya-Rayyan dan Raja. Menjadi pendengar dari setiap cerita yang kedua Kakaknya sampaikan, tentang perasaan mereka dan apa saja yang telah mereka lewati selama ketidakhadirannya di antara mereka.

"Dan gue makin ngerasa gagal jalanin peran Kakak buat lo di saat gue baru tau tentang keadaan lo yang sebenernya di saat keadaan lo udah gak baik-baik aja, Dek. Di waktu lo udah nyaris ninggalin kita." ungkap Rayyan dengan suaranya yang parau. Tangannya menggenggam pembatas rooftop dengan erat sementara pandangannya sedikit menunduk, menatap kosong kepadatan lalu lintas di bawahnya tanpa terganggu sedikitpun dengan bisingnya suara yang berasal dari ratusan alat transportasi di sana.

Sementara itu Sky dalam diam setia mendengarkan keluh-kesah Rayyan tanpa berniat menyela, ia ingin mendengarkan semuanya. Semua yang ingin Rayyan katakan dan kejujuran Rayyan tentang perasaannya, Sky ingin mendengar semua cerita yang saudara-saudaranya miliki untuk dirinya kala ia sedang terlena dalam tidur panjangnya.

"Kalo seandainya hari itu Raja telat dikit aja atau gak inisiatif buat bawa lo ke rumah sakit, mungkin hari ini Kakak masih nangisin gundukan tanah yang masih merah dan masih sesalin semua ini."

Sementara Rayyan mengutarakan bagaimana perasaannya selama ini, Raja yang berdiri di sisi Sky yang lain memilih diam dan hanya mendengarkan dengan perasaan sendu. Semilir angin yang selalu datang untuk membelai rambut mereka bertiga tidak sedikitpun menganggunya. Terkadang, waktu-waktu seperti ini memang harus ada di antara saudara, terutama bagi mereka yang masih dalam proses membangun ikatan itu.

"Sejak tinggal bareng, kita udah liat banyak hal tentang diri masing-masing, sebelumnya gue pikir itu udah lebih dari cukup tapi gue lupa kalo kita bahkan belum setahun tinggal di bawah atap yang sama, nyatanya kita belum saling kenal sejauh itu. Masih banyak yang harus kita pelajarin tentang satu sama lain, ternyata kita belum sedeket itu dan andai hari itu lo gak berhasil diselametin, gue pasti bakal sesalin hal ini seumur hidup gue. Gue bakal nyesel karena gue gak nyoba buat kenal lo lebih jauh lagi." Rayyan mengangkat pandangannya, memberanikan diri untuk mempertemukan tatapannya dengan tatapan Sky yang tenang dan hangat. Perasaannya yang bergemuruh, perlahan tenang saat melihat senyum teduh yang diberikan Adiknya.

"Kakak selalu berharap kejadian hari itu gak bakal keulang lagi, El... Kalaupun harus keulang, paling nggak Kakak harus udah tau semuanya tentang lo, dek, dan bukan baru tau di saat semuanya udah hampir telat lagi. Kalo perlu, Kakak pengen jadi orang yang paling tau semuanya tentang lo mulai sekarang, dek." ujar Rayyan sendu. Matanya menatap Sky dengan penuh perasaan sendu dan sedih. Tatapannya seakan menyiratkan ketulusan dan harapan yang besar kepada sosok yang ditatapnya, yang tidak lain adalah Adiknya sendiri-Sky.

"Gue tau gak gampang buat lupain masa lalu dan berdamai sama semua kejadian buruk yang pernah ada di sana, tapi setelah semua yang udah kita lewatin sama-sama hampir satu tahun ini, gue berharap kita udah cukup layak buat lo kasih kepercayaan-untuk semua hal, selayaknya saudara kandung." ucap Raja sambil tangannya menggenggam tangan Sky yang sedang memegang pembatas rooftop, berusaha menunjukkan kesungguhan dari ucapannya.

"Gue berharap, kita udah cukup layak buat jadi pendengar dari semua cerita yang lo punya. Gue berharap, dalam waktu hampir satu tahun yang kita lewatin bareng-bareng ini buat lo cukup yakin buat mutusin bakal pulang di rumah yang mana di saat lo dalam kondisi yang gak baik-baik aja."

"Semoga kita udah cukup pantas buat jadi tempat lo pulang, buat jadi rumah yang lo tuju di saat capek walaupun dengan semua kekurangan yang rumah itu miliki." Kali ini tatapan Sky tertaut dengan Raja. Mata elang yang biasanya tampak tajam dan tegas, kini menatapnya lembut dan hangat.

SKY [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang