Hari itu Sky ditemani oleh Rayyan, Rasha dan Ragan sedang menunggu kepulangan Angel dan Renand di ruang tamu. Tak jarang Sky akan sesekali menoleh ke arah pintu untuk memastikan dan di saat itu juga Rayyan-yang sengaja meliburkan diri untuk menemaninya-akan sigap menenangkannya.
Di sisi lain Rasha menatap Sky dalam diam, perasaannya bergejolak dan ia tidak begitu tahu harus merespon situasi saat ini seperti apa. Bukan rahasia bahwa Rasha sangat tidak menyukai sosok Angel, lebih dari rasa tidak sukanya pada Sky dulu. Bahkan walau telah satu tahun berlalu, Rasha juga masih tetap belum bisa menerima Angel sebagai bagian dari keluarganya. Rasha tahu bahwa ini egois, sebab ia menginginkan Sky agar tetap tinggal bersama mereka namun di saat bersamaan ia tidak menginginkan kehadiran Angel di dalamnya. Namun dirinya harus bagaimana jika hatinya benar-benar tidak tergerak untuk memberikan Angel sebuah kesempatan?
Sementara di sisi lain Ragan tenggelam dalam lamunannya. Pikirannya berkecamuk memikirkan dari kemungkinan terburuk hingga yang terbaik dengan kembalinya Angel hari ini. Ragan berharap semuanya akan baik-baik saja namun ia cukup tahu bahwa dengan penolakan mereka terhadap kehadiran Angel maka semuanya tidak mungkin akan tetap baik-baik saja.
"Masih lama gak, Kak?" tanya Rasha memecah hening yang menyelimuti mereka dengan ketegangan yang tanpa sadar diciptakan.
"Tadi Papa bilang udah dalam perjalanan, jadi harusnya gak lama lagi. Mungkin mereka kena macet karena sekarang udah jam makan siang." jawab Rayyan tenang.
"Kalo gitu gue ke atas bentar deh, ntar gue balik lagi." ucapnya sambil bangkit berdiri.
"Yaudah." balas Rayyan membuat Rasha segera beranjak pergi dan Sky hanya bisa menatap punggung Rasha yang semakin menjauh dalam diam.
"Kak," panggil Sky pelan.
Rayyan lekas menoleh, bahkan Ragan turut serta memberikan atensinya. "Kalo nanti sikap atau kehadiran Bunda bikin kalian kurang nyaman, tolong maafin Bunda-dan gue, ya?" ucap Sky pelan dengan wajah khawatir yang tidak bisa disembunyikan. Benaknya dipenuhi keresahan, untuk kali ini Sky kesulitan menjaga pikirannya untuk tetap tenang. Entah kenapa langit yang ditatapnya malam tadi seakan mengirimkan sinyal waspada kepadanya. Seolah memberitahu bahwa alam baru saja membuat kisah baru dalam lembaran hidupnya.
"Lo gak ngelakuin apa-apa, gak usah minta maaf. Kalau tentang yang lainnya kita liat nanti, jangan terlalu khawatir, ya? Waktu bakal perbaikin semuanya." Rambut yang lebih muda dielus pelan penuh kasih sayang. Sky hanya mampu mengangguk pelan, tidak begitu bisa menanggapi ucapan si sulung.
Sementara itu Ragan menatap Sky yang ia sadari tampak jauh lebih diam dari biasanya, sedikitnya ia memahami alasan dari kegelisahan Kakak termudanya itu. "Gak usah khawatir Kak, Papa gak bakal biarin masalah apapun jadi berkepanjangan di dalam rumah kita."
Sky beralih menatap Ragan, kalimat itu sedikit bisa menenangkannya namun, entah kenapa di saat bersamaan juga seakan menjadi sinyal akan sesuatu yang belum mereka ketahui. Walau begitu Sky tetap mengangguk dan memberi senyum pada Adik satu-satunya itu. Bahkan Adiknya-yang lebih muda darinya berusaha menenangkannya, ia seharusnya bersikap lebih tenang seperti biasanya dan tidak terlalu memperlihatkan kekhawatirannya seperti ini. Namun ini benar-benar di luar kendalinya, ia tidak biasanya seperti ini dan keadaan yang tidak biasa ini membuatnya merasa semakin tidak nyaman.
Selain itu sepertinya dalam satu tahun terakhir, saudara-saudaranya berhasil membuatnya menjadi sedikit lebih terbuka mengingat mereka memperlakukannya dengan sangat baik hingga ia juga merasa semakin nyaman dan menjadi lebih mudah menunjukkan perasaannya seperti saat ini.
Tidak berselang lama, dua orang yang ditunggu-tunggu akhirnya sampai di kediaman keluarga Alatas. Sky segera bangkit berdiri saat melihat kehadiran sang Bunda dan Papanya di ambang pintu, karenanya Rayyan dan Ragan akhirnya ikut berdiri sementara Angel dan Renand berjalan masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY [END]
FanfictionRumah seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang bagi semua orang, tetapi jika rumah yang dimaksud tidak bisa memberikan kenyamanan yang seharusnya apakah masih pantas menyebutnya sebagai sebuah rumah? Ditinggalkan untuk pertama kalinya membua...
![SKY [END]](https://img.wattpad.com/cover/319624769-64-k907298.jpg)