"Rayyan, di dalam kepala El, ada peluru yang tertanam sejak empat tahun yang lalu nak,"
Rayyan berlari kencang memasuki gedung Rumah Sakit, total mengabaikan puluhan pasang mata yang menatapnya akibat suara keras dari langkah kakinya. Ekspresi wajahnya tidak bisa dijelaskan, matanya memerah dengan rahangnya yang mengeras.
"Pah..."
"Setelah tim Aparat berhasil memisahkan El dan Ayahnya dari para pelaku, terjadi insident kedua saat salah satu pelaku berhasil mengambil alih senjata salah satu anggota aparat kepolisian dan meletuskan tembakan ke arah aparat yang sedang bertugas. Namun karena pergerakan yang tidak terkontrol dengan baik akibat panik, peluru justru mengarah pada El yang sedang diamankan dan tanpa bisa dicegah peluru itu telak mengenai kepalanya."
Sembari berlari tangannya dengan kasar mengusap air mata yang lolos mengalir tanpa bisa ditahan. Pun dengan langkahnya yang semakin dipercepat saat melihat siluet Adik-adiknya di depan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis Unit Gawat Darurat.
"Setelah itu El seharusnya menjalani operasi pengangkatan peluru, namun karena usia yang masih terlalu muda pihak medis mengatakan tubuhnya yang saat itu masih berusia dua belas tahun tidak akan mampu menahan efek selama proses operasi berlangsung hingga presentase kematiannya mencapai angka sembilan puluh persen. Hingga mau tak mau, operasi harus ditunda hingga El berusia di atas tujuh belas tahun untuk mendapatkan presentase keberhasilan yang lebih tinggi saat operasi dilakukan."
"...."
"Inilah alasan kenapa El memiliki jadwal check up tetap yang ketat. Karena sampai waktu yang ditentukan nanti, El harus tetap berada di bawah pengawasan tim medis yang menanganinya. Begitupun dengan aktifitas dan kesehatannya yang juga berada di bawah kontrol tim medis, nak."
"Kak Rayyan!"
Rayyan tiba di depan Adik-adiknya dengan napas yang tersengal, namun ia enggan untuk menunduk walau hanya sekedar menarik napas dalam. Rayyan menatap Adik-adiknya yang juga menumpukan perhatian pada kedatangannya, sembari itu tangannya terbuka menerima Ragan yang datang padanya untuk dipeluk. Bisa Rayyan rasakan bagaimana tubuh Adik bungsunya itu gemetar ketakutan akibat kejadian beberapa saat lalu yang memicu traumanya.
"Mama... Kak El jadi kayak Mama, Kak...." ucap Ragan bergetar, membuat Rayyan mengeratkan pelukannya dan mengusap kepala belakangnya lembut dengan tangannya yang juga sedikit bergetar.
"Dokter bilang apa?" tanyanya menatap Raja, menanti jawaban, mengingat saat ini ialah yang terlihat paling tenang.
"Mereka lagi usaha buat selametin, mereka bilang masih ada harapan tapi... Kecil. Kemungkinan besar ini kasus henti jantung dan ... Kita diminta buat gak berharap terlalu besar." jawab Raja kemudian melanjutkan, "Tapi tadi sempet ada Suster yang keluar dan tanya kita siapanya El dan abis itu dia buru-buru pergi dan balik gak lama bareng Dokter lain yang keliatan lebih senior? Mungkin Dokter Spesialis atau di atasnya?" jawab Raja. Walau terlihat paling tenang di antara yang lain, namun tak bisa dipungkiri wajahnya juga terlihat begitu kacau.
Rayyan mengangguk mengerti, ia masih berusaha menenangkan Ragan yang masih gemetaran sementara itu matanya menatap Rakha dan Rasha yang duduk diam di kursi tunggu dengan Raffa yang berdiri di samping pintu dengan kepala yang menunduk hingga tidak ada yang bisa melihat ekspresi apa yang ada di wajahnya saat ini. Terakhir tatapannya jatuh pada Raja yang berdiri tidak jauh darinya, Raja jelas berusaha tampak tenang walau perasaannya begitu gusar sebab mengkhawatirkan kondisi Adiknya yang divonis hanya memiliki kemungkinan yang kecil untuk dapat diselamatkan.
Beberapa saat kemudian, setelah hampir satu jam menunggu seorang Dokter akhirnya keluar dari pintu UGD dan mendekati mereka. Raja dan Rakha adalah dua orang yang maju paling awal, disusul oleh Raffa dan tiga sisanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY [END]
Fiksi PenggemarRumah seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang bagi semua orang, tetapi jika rumah yang dimaksud tidak bisa memberikan kenyamanan yang seharusnya apakah masih pantas menyebutnya sebagai sebuah rumah? Ditinggalkan untuk pertama kalinya membua...
![SKY [END]](https://img.wattpad.com/cover/319624769-64-k907298.jpg)