Tidak semua luka bisa terlihat dan tidak semua masa lalu bisa ditinggalkan begitu saja. Sky, remaja yang tumbuh dalam bayang kematian dan trauma, bertahan hidup hanya karena napas yang masih terhembus. Namun sejujurnya ia tidak pernah benar-benar hidup, sinar di dalam matanya telah lama hilang. Dan ketika takdir memberinya enam saudara tiri dan Ayah sambung, Sky pernah tidak yakin apakah hubungan itu akan berhasil. Tetapi sejatinya Tuhan lebih baik dari prasangka siapapun. Hingga perlahan, Sky tidak hanya mencintai sendirian namun juga mulai merasakan diterima dan dicintai dengan setara. Dianggap ada dan berarti. Namun, masa lalu selalu menuntut penyelesaian. Cepat atau lambat. Dan peluru di dalam kepalanya menjadi simbol dari semua hal yang belum terselesaikan. Operasi besar yang dijalaninya sesungguhnya adalah batas dari hidup dan mati yang sesungguhnya.
Selama ini Sky tumbuh ditemani kehilangan dan rasa takut ditinggalkan. Saat takdir memberinya keluarga baru yang dingin dan asing, ia tidak pernah menyangka bahwa mereka akan menjadi obat dari luka yang dulu selalu ia biarkan sembuh bersama waktu. Mereka menjadi perban untuk setiap lukanya dan menyembuhkan setiap rasa sakitnya hanya untuk diuji kembali ketika hidup kembali memberinya pilihan antara bertahan—atau benar-benar pergi. Benar-benar pergi—keinginan yang hadir dari hari-hari paling sulit dalam hidupnya yang tidak pernah diucapkannya dan terkunci jauh di dalam alam bawah sadarnya.
Dan nyatanya, cinta yang paling tulus adalah yang tetap menunggu, bahkan saat kita lupa pernah mencintai mereka. Mereka yang tetap menunggu bahkan walau hanya untuk berakhir dilupakan.
After 2 Years,
Askarava Hospital.
"Kalau yang ini? Siapa namanya?" Jari telunjuk kurus dan sedikit ringkih itu menunjuk pada seseorang di dalam sebuah foto keluarga di layar tablet. Angin lembut berhembus pelan dari jendela, mengajak poni panjangnya menari lembut di antara terpaan sinar matahari sore yang menyorot brankarnya.
Rasha—yang telah tampak lebih dewasa setelah dua tahun berlalu tersenyum sambil mengusap lembut rambut yang telah tumbuh kembali di bekas luka operasi dua tahun yang lalu. "Itu Kak Raja. Kakak kedua kita setelah Kak Rayyan. Orangnya baik, tapi agak galak..." Rasha tertawa geli di dalam hati kala mengingat betapa galaknya Kakak keduanya itu. "Terus, mau tau gak? Kak Raja, sama yang ini dan ini, itu kembar loh~" ucapnya sambil menunjuk foto Raja, Rakha dan Raffa di dalam layar.
Pemuda yang masih tampak pucat itu sejenak tampak menahan napasnya sambil menatap Rasha dengan matanya yang bulat. "Kembar tiga??" serunya bernada rendah namun dengan mata berbinar lugu.
Rasha terkekeh pelan, terhibur dengan respon Adiknya yang polos. "Iyaa, tiga. Pertama Kak Raja, terus Kak Rakha dan terakhir Kak Raffa. Keren, ya?" Sang Adik mengangguk cepat hingga poni nya bergoyang lembut.
"Keluarga kita bahagia ya Kak?" Kalimat itu lolos dengan suara yang paling lugu, lembut dan sedikit harapan. Seakan sedang menagih janji yang pemiliknya sendiri bahkan tidak bisa mengingat janji itu, namun tetap saja tubuhnya seperti menyimpan kenangannya sendiri.
"Kalau... Kalau setelah bangun nanti gue lupa sesuatu... Tolong ingetin gue tentang kita, tentang bahagia yang kita bangun sama-sama di tempat ini sampe akhirnya jadi dunia yang cuma milik kita. Tolong ingetin gue tentang... Ramainya punya banyak saudara, tentang kehangatan yang disebut rumah yang di dalamnya lengkap—orang tua, lima Kakak dan satu Adek yang sangat gue sayang."
Sejenak, Rasha terdiam getir. Menatap lurus pada sepasang mata bulat yang menatapnya polos, menunggunya menjawab dengan sabar. Ia kemudian tersenyum, memindahkan tablet dari pangkuan Adiknya ke atas meja sebelum kembali mengelus rambutnya penuh sayang.
"Iya. Kita punya rumah dimana kita bangun semuanya sama-sama di sana. Rumah kita itu kayak dunia yang cuma milik kita aja. Rumah kita itu rame banget dan lengkap. Ada orang tua kita—Papa dan Bunda, Kak Rayyan, Kak Raja, Kak Rakha, Kak Raffa, Kakak, El dan Ragan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SKY [END]
FanfictionRumah seharusnya menjadi tempat ternyaman untuk pulang bagi semua orang, tetapi jika rumah yang dimaksud tidak bisa memberikan kenyamanan yang seharusnya apakah masih pantas menyebutnya sebagai sebuah rumah? Ditinggalkan untuk pertama kalinya membua...
![SKY [END]](https://img.wattpad.com/cover/319624769-64-k907298.jpg)