Sea pov
Perlahan aku membuka mataku saat mendengar suara yang sangat aku kenal. Dengan kepala yang masih sedikit pusing aku mencoba bangun dari tidurku, yang entah sejak kapan aku berada disini,
"Dimana ini? kenapa sepertinya aku mendengar suara Bibi?," gumanku pelan.
namun tak berselang lama seseorang yang sempat aku sebut datang menghampiriku, sangat jelas Bibi menarik nafas lega saat melihatku tersenyum kearahnya, aku bahkan sempat berfikir kalau rumah yang aku tempati ini adalah rumah Bibi. Begitu asing, dengan ruanggan tua yang terawat rapi. tapi aku kembali berfikir jika ini beneran rumah Bibi, kenapa aku bisa berada sisini? terakhir yang aku ingat aku tengah berdebat dengan juna, setelah itu aku tidak tau kenapa aku bisa berakhir disini.
"Bibi, ini dimana?," tanyaku tiba-tiba.
sebelum menjawab Bibi malah tersenyum kearahku, lalu melihat di sekeliling ruangan. "ini kamar Den Jeno ,Non. kemarin Non Sea dibawa Den juna dalam keadaan pinggan kerumah, karna panik Bibi membantu Den juna membawa Non kesini."
Aku hanya mengangguk tanpa berbicara sepatah katapun. "jadi selama ini Jeno tidur dikamar ini," gumanku. lalu tersenyum masam. "tapi setidaknya kamar ini masih layak dipakai"
"Non Sea mau kemana?" tanya Bibi.
"Aku bosan, Bik. Aku hanya ingin jalan-jalan ke halaman belakang sebentar,"jawabku.
"Mau Bibi antar,?" tawar Bibi.
"tidak usah Bik, terimakasih. tapi aku mau sendiri Bik," tolak ku cepat.
"baiklah."
🌙🌊
"ngapaain lo kesini?," ucap seseorang tiba-tiba,
"lo sendiri ngapain kesini?," tanyaku balik tanpa menjawab pertantaan, Juna. benar dia adalah juna yang sedang duduk di dikursi kayu berwarna coklat di halaman belakang.
"ga usah nanya balik, gue lebih dulu bertanya. lo ngapain disini?," ulang nya.
"entahlah, aku hanya rindu tempat ini, rasanya sudah begitu lama aku ga kesini-,"
"bersama Mark," potongnya tiba-tiba"
namun aku tidak menepis semua itu, memang kenyataanya dulu aku selalu bersama Mark kemanapun dan tidak bisa jauh darinya. tapi rasa itu berbeda dengan sekarang, bagai manapun saat itu kami hanyalah seorang anak kecil yang saling menyayangi ibaratkan kakak dan adik. ingin sekali aku menjauh dan membenciinya, tapi tetap saja aku nggak bisa meskipun aku punya alasan untuk itu.
"aku tau lo menyukai Mark, sedangkan perasaan lo ke Jeno itu hanya rasa kasihan lo sebagai manusia"
aku menggeleng, "lo salah Juna, meskipun dari awal aku bingung, namun seiring berjalannya waktu aku sadar kalau aku mencintainya,"
"meskipun lo tau dia sepesial?"
jujur aku begitu terkesan mendengar Juna mengatakan kekurangan seseorang dengan kata 'sepesial'
"aku rela melakukan apa saja demi Jeno, bahkan belajar bahasa isyarat pun"
"itu bisa saja penasaran"
"aku yakin, Juna"
"apa lo pernah merasakan hal seperti itu terhadap Mark? dan gue yaki pernah tanpa lo jawab pertanyaan gue, lo tau kenapa? tatapan lo ga bisa bohong ... nggak semua hal yang kita tau meski pun itu perasaan kita sendiri."
"apa iklas bisa menjadi jawabannya? apakah melihatnya bahagia saja sudah cukup, meskipun tidak ada aku didalam nya juga bisa jadi jawabannya?, atau merasa sesak saat dia menghilang tanpa kabar? apa semua itu cukup membuktikan kalau rasaku tidak lah keliru? ... aku tidak bodoh Juna lo tau kenapa? nggak semua hal yang lo paham mengenai seseorang, lo tau? lo itu begitu negitu naif, Juna. terlalu berat menerima kenyataan, begitupun dengan kesalahan yang ga mau lo akui. Aku tau lo marah sama keadaan dan lo nggak terima. karna itu lo selalu mencari keselahan seseorang untuk menutupi kesalahan lo."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cacat (Lee Jeno) Sudah Terbit
BeletrieLee Jeno, laki-laki yang begitu sempurna dengan kekurangannya, laki-laki tuli dan juga bisu yang memiliki hati selembut salju. Bahkan dengan kekurangannya, ia tidak pernah mengeluh meskipun keluarganya malu dengan kekurangannya, namun ia begitu teg...
