Bab 37. Psycho

56.2K 3K 233
                                        

Happy Reading

Kalau ada typo, maafin yak 💚✨️💓

Remaja Divonis 1 Tahun Pembinaan Usai Bela Diri dari Begal

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Remaja Divonis 1 Tahun Pembinaan Usai Bela Diri dari Begal

Seorang murid SMA (RJ) dan seorang temannya (M) dicegat oleh tiga orang yang bermaksud merampas motor dan ponsel mereka saat keduanya pulang les malam hari. Kawanan tersebut juga bahkan berniat ingin memperkosa M.

RJ yang berasa terancam kemudian mengambil pisau dari jok motor dan menusukkannya pada punggung salah seorang dari kawanan tersebut. Pisau ini diklaim RJ sebelumnya ia gunakan sebagai keperluan praktik di sekolah.

Hakim kemudian memvonis RJ dengan pidana pembinaan selama satu tahun di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak. Ia dinyatakan bersalah karna telah melakukan penganiayaan yang menyebabkan orang lain kritis.

....

***

Artikel yang Agnor kirim ketika langit mulai gelap tersebut menjawab siapa sampah busuk yang akan mereka buru malam ini.

Dari tiga pelaku pembegalan, tentu hanya dua yang akan diburu. Yang kritis di rumah sakit itu tak masuk dalam hitungan. Malika berharap ia mati saja. Namun kata Agnor, target mereka malam ini hanya satu, sisanya akan dibereskan besok malam. Ya sudah lah, Malika akan ikut tanpa banyak protes.

Akan tetapi, meski hanya satu orang, jantung Malika tetap tak bisa berhenti berdegup kencang. Ia berulang kali menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan dari mulut, berharap rasa gugupnya berkurang. Ia juga bertanya-tanya, apakah keputusannya sudah benar? Namun, berapa kali pun Malika pikirkan, jawabannya tetap sama.

Ia akan mengiyakan ajakan Agnor.

"Kedelai takut?" Malika tersadar begitu telapak tangannya diraih dan dibawa ke bibir lelaki yang baru selesai mematikan mesin mobil di sisinya. "Mau mundur?"

Gadis dengan pakaian serba hitam itu menggeleng. Malam ini rambutnya tidak dikuncir melainkan di sanggul rendah menggunakan hair stick berbahan metal dengan ujung sedikit runcing.

"Yakin?" Senyum lelaki berpakaian senada itu terkembang tipis. "Kedelai nggak akan lari ketakutan, kan?"

Entah kenapa, pertanyaan Agnor terdengar seperti ejekkan di telinganya. Walau kesal, Malika tak berniat mengomel. Ia hanya melirik sinis kemudian memperhatikan pusat perbelanjaan di depannya. Target mereka sedang sibuk berbelanja.

Sial, Malika gugup sekali.

Meski tak mendapat jawaban, Agnor tak bertanya lebih lanjut. Ia hanya menggenggam tangan Malika lebih erat, seolah mengatakan pada gadisnya untuk tenang. Akan tetapi, siapa yang tak gugup di situasi seperti ini?

Paduka Agnor (21+)[REVISI]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang