Haruna Sakurai, Haru. Seorang gadis berdarah Korea-Jepang yang bermimpi akan kehidupan yang lebih baik saat dirinya diterima bekerja di sebuah perusahaan bernama Group M. Dan mimpinya nyaris terwujud lima tahun kemudian begitu namanya masuk dalam ka...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
〰️ 20 〰️
Lima belas tahun lalu...
Incheon International Airport, Seoul
Berjalan mondar-mandir dengan gelisah, Mathias membuat Mujin dan Haru saling bertatapan sebelum tersenyum ke arahnya.
“Duduklah, masih setengah jam lagi sebelum pesawatnya landing.” Menepuk ruang kosong di sampingnya, Haru menatap putranya itu tersenyum.
“Ibu, tidak bisakah aku menelepon Sakura sekarang?” Berjalan mendekat, Mathias menatap ibunya penasaran.
“Tidak bisa, Sakura kan sedang di dalam pesawat.”
“Lagipula, paman Hirota dan bibi Seyoung tidak memberikan Sakura ponsel. Jadi, kau tidak bisa meneleponnya.” Sambung Mujin.
“Ah, sayang sekali. Aku sangat ingin segera bertemu dengan Sakura.”
“Daripada terus seperti itu, bagaimana kalau kau makan siang dulu? Bukankah tadi setelah wawancara kau langsung kemari dan tidak sempat makan siang dulu?”
“Oh? Wawancara? Lagi?”
Menimpali ucapan Haru, Mujin menatap istrinya itu bingung.
“Ya, putra pertama mu itu baru saja diwawancarai untuk majalah kampus edisi mahasiswa baru.”
“Tapi, dia kan baru akan masuk kuliah tahun depan?”
“Itulah hebatnya putra ku, bahkan sejak kelas 10 saja sudah ada tiga universitas yang melamarnya untuk masuk ke kampus mereka.”
“Ehey, tadi kau bilang dia putra ku sekarang putra mu.”
“Putra kita,” Ucap Mathias tiba-tiba sambil menatap Mujin dan Haru bergantian.
“Harusnya ayah dan ibu menyebutku putra kita, tidak bisakah jangan berebut sekali saja? Kalau Miles dengar, dia akan merajuk.”
Haru dan Mujin terkekeh, sebelum sama-sama memeluk Mathias yang kini sudah duduk di tengah-tengah mereka.
“Jadi, untuk ulang tahun ku besok, paman Hirota dan bibi Seyoung akan ikut membantu persiapannya? Tapi, apakah tidak apa-apa? Bukankah mereka akan sangat kelelahan karena baru tiba dari Jepang?”