Happy Reading💛
***
Tak seperti weekend biasanya, pagi ini rumah sudah di isi kegaduhan si kembar. keduanya kini sudah rapi dengan warna baju yang senada. Kaos putih yang di padukan dengan jaket denim dan celana jeans.
Semalam Atlanta mengajak Alexa untuk menghabiskan waktu bersama seharian penuh, tanpa mengajak siapun, hanya mereka berdua, ah kecuali supir keluarga yang akan mengantar kemanapun mereka pergi. katanya sih untuk menebus moment sebagai sepasang saudara kembar yang telah terlewat lama.
"Yakin, hanya pergi berdua?" Tanya sang papa kepada si kembar setelah menyelesaikan sarapan.
Atlanta mengangguk tanpa ragu. "Tentu, lagi pula tempat yang akan kami kunjungi gak terlalu jauh pah."
"ok, papa izinin. Tapi pulangnya gak lebih dari jam 9." Putus sang papa.
***
Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuan pertama mereka, Atlanta memejamkan kedua matanya, mendengarkan alunan musik dari earbuds yang terpasang sejak meninggalkan kediaman mereka. Satu tangannya berada dalam genggaman Alexa, memberikan kenyaman dan keyakinan bahwak tak akan terjadi apa-apa dalam perjalanan mereka.
keheningan menemani perjalanan mereka yang memakan waktu selama hampir satu jam akhirnya terpecahkan setelah mobil berhenti di tempat tujuan pertama mereka berdua. Rasa antusias Atlanta kembali muncul ketika telah menginjakkan kedua kakinya di dufan.
Dunia fantasi atau lebih dikenal dengan sebutan Dufan. Salah satu destinasi populer yang terletak di Taman Impian Ancol, Jakarta Utara. Banyak orang datang untuk menghabiskan waktu bersama orang terkasihnya. mulai dari teman, keluarga maupun bersama kekasih mereka.
Atlanta tampak terpaku pada banyaknya wahana menyenangkan yang akan mereka coba. mengamati kamera dalam genggamannya, yang sengaja ia bawa dari rumah untuk mengabadikan moment perjalanan mereka berdua hari ini. "Pak, boleh tolong fotokan kami berdua." Pinta Atlanta setelah memberikan kameranya pada sang supir yang mengikuti keduanya.
"Al, ayo ambil foto pertama kita sebagai sepasang saudara kembar." ucap Atlanta.
beberapa potret mereka dengan berbaga macam gaya telah diabadikan dalam kamera. Setelahnya Atlanta menautkan jari jemari mereka, dan menatap sekeliling penuh rasa minat.
" Al, ayo kita keliling dulu." Ajak Atlanta dengan menarik tangan Alexa untuk mengikuti langkahnya.
"Al, mau coba naik yang mana dulu, Hysteria, halilintar, Tornado, Bianglala, Kora Kora, Niagara gara, atau mau yang lainnya?"
"Al, menurutmu sereman Hysteria apa Halilintar?"
"Tornado kayaknya seru sih At."
"Ya udah ayo kita Tornado."
"Yang bener aja At, wahana pertama langsung naik yang macu adrenalin tinggi."
"Loh tadi katanya tornado seru, ya ayo naik, gue kan belom pernah coba."
"Tapi gak harus dijadikan wahana yang pertama di coba, At. Ayo naik bianglala dulu"
"ayo."
Kini keduanya telah duduk di bianglala setelah mengantri cukup lama, sebelumnya Atlanta terlebih dahulu mengambil kameranya dari sang sopir.
"Al, geseran dikit, ayo kita foto." Ucap Atlanta ketika mereka berada di atas.
Atlanta disuguhkan pemandangan sekitar yang begitu luar biasa indah dari ketinggian 33 m di atas permukaan air laut. Bibirnya tak berhenti berdecak kagum atas apa yang dilihatnya. senyumnya tak pernah luntur menghiasi wajahnya. tangannya aktif membidik objek-objek menarik dengan kameranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SPUTNIK (END)
Fiksi RemajaAtlanta Putra Mahardika, yang gak pernah ngerasaain apa itu arti "tenang" dalam hidupnya berada dalam dekapan luka, bertemankan rasa takut dan sesuatu yang dianggapnya seolah mimpi buruk, yang nyatanya itu adalah kenyataan yang ada, di dewasakan ole...
