Beberapa hari berlalu. Setelah makan malam dan berbagai kegiatan lainnya, mereka mulai masuk ke dalam kamarnya masing-masing untuk beristirahat setelah memulai hari yang panjang.
Di kamar mereka, Alana tengah duduk di sofa sembari memperhatikan istrinya yang tengah mengganti seprei karena basah terkena air yang tumpah akibat kebiasaan baru istrinya yang senang makan dan minum di atas kasur sembari membaca buku catatan atau hanya sekadar menonton film.
"Biru, dua atau tiga bulan lagi kita akan lulus. Ada hal yang ingin kamu lakukan setelah lulus nanti?" tanya Alana.
Sabiru terdiam, dirinya memang ada keinginan setelah lulus nanti. Namun, keinginan itu sudah tercapai sekarang, walaupun tidak sesuai dengan rencananya. "Aku ...."
"Ya? Kenapa?" Alana sontak menyahut saat istrinya tiba-tiba terdiam. Dia melihat tatapannya sedikit sedih dengan kepala yang tertunduk dan tangan yang masih memegang seprei. "Katakan saja, aku akan menurutinya."
"Aku akan memberikan hakmu malam ini. Maaf sudah membuatmu menunggu lama," kata Sabiru. Ia tahu, suaminya selalu menahan diri jika dirinya berada di dekatnya. Tidur pun ia selalu beri batasan dengan bantal guling di tengah-tengah.
Alana berdiri menghampiri istrinya, dia duduk di kasur yang bahkan belum selesai dipasang sarungnya. Menuntun sang istri untuk ikut duduk di sana, dengan memegang tangan Sabiru, Alana berkata, "tidak apa-apa, aku tidak memaksa. Jangan pikirkan aku, aku tidak ingin kamu terbebani."
"Aku tidak terbebani, Alana. Justru aku malah merasa bersalah, apalagi dua hari terakhir aku selalu bermimpi adikmu yang terus menyalahkanku karena tidak memberikan hakmu. Padahal itu bukan maksudku tidak memberikannya," jawab Sabiru. Matanya berkaca-kaca dan dengan sigap Alana menghapus air matanya yang menetes.
"Kamu tidak salah, Biru. Aku tahu kamu belum siap dan aku juga tidak memaksamu untuk memberikannya padaku." Tangan Alana memegang kedua pipi Sabiru.
"Tapi—"
"Engga, sayang. Jangan tapi-tapi, ya? Dengarkan aku, kamu itu cuman belum siap, bukan ngga mau. Jadi, jangan salahin diri kamu, ya? Untuk masalah mimpi, itu hanya bunga tidur, jangan dipikirkan." Sabiru mengangguk, jujur saja, dia merasa lebih lega setelah mengatakannya.
"Ada keinginanmu yang lain, selain hal itu tentunya," tanya Alana. Sabiru menggeleng, karena memang dia tidak ada keinginan apapun lagi.
"Hanya itu, dan ngga ada lagi," jawab Sabiru.
"Tapi aku tetap ngga mau kamu terpaksa menyerahnya, Biru. Itu buat aku malah merasa bersalah," tukas Alana. "Aku tidak terpaksa, Na. Aku mohon, mau, ya? Kita hanya dua bulan setengah lagi sekolahnya. Kalaupun aku hamil, itu ngga akan menyusahkan dan ngga akan ketahuan."
Sabiru terus memohon pada Alana, dirinya kembali meneteskan air mata yang tadinya sudah berhenti. "Baiklah, tapi bukan sekarang."
"Nanti saja, yang jelas bukan sekarang. Aku tahu kamu sedang datang bulan." Alana menggesekkan jarinya ke hidung Sabiru. Dia tersenyum karena Sabiru yang menatapnya penasaran lalu cemberut saat mendengar kalimat terakhirnya.
"Ish! Aku malu ... jangan gitu, ih." Kesal Sabiru yang langsung berdiri.
***
Delapan Minggu telah terlewati. Siswa-siswi kelas dua belas di SMA Valhalla Academy telah merampungkan belajar mereka. Kini, mereka tengah berada di sebuah gedung untuk melaksanakan kegiatan terakhir dari belajar selama tiga tahun di sana. Acara kelulusan.
Tidak seperti acara kelulusan SMA lainnya, Valhalla Academy memilih untuk mengadakan kelulusan dengan sederhana, hanya ada panggung untuk penerimaan penghargaan bagi siswa-siswi berprestasi dan pemberian kalung wisuda. Lalu acara foto bersama satu angkatan dan per-kelas, ada juga tukar hadiah untuk memeriahkan kelulusan kali ini.
Sabiru yang sudah berada di dalam gedung tersebut bersama dengan dua sahabatnya, Chika dan Lala. Mereka mengenakan baju yang sama, yaitu kebaya berwarna merah marun dengan masing-masing membawa sebuket bunga dan satu buah Tote bag yang berisi hadiah.
Di sisi lain ada juga Alana, dia mengenakan baju putih yang dipadukan dengan jas hitam dan celana hitam. Alana duduk di kursi yang menjadi bagiannya sembari melihat ke arah Sabiru. "Cantik," pujinya dengan senyuman yang tipis. Tidak ada yang bisa melihat senyuman itu.
"Na, tumben sendirian?" tanya salah satu temannya, Cakra, teman dari sekolahnya yang dulu.
"Hm, sendirian," jawabnya. Tatapannya tetap tidak teralihkan dari Sabiru yang sedang tertawa.
Tak lama kemudian, acara wisuda dimulai. Ada sambutan dari kepala sekolah, kesiswaan, perwakilan guru dan terakhir perwakilan dari murid. Semuanya berjalan dengan lancar, hingga kini adalah saatnya pembagian penghargaan untuk siswa-siswi berprestasi.
"Nama-nama yang saya sebutkan, dimohon untuk naik ke atas panggung." Kemudian MC yang ada di sana mulai memanggil satu persatu nama yang kali ini memiliki nilai tertinggi. Ada sekitar sepuluh orang yang berdiri di sana, salah satunya adalah Sabiru. Di barisannya, Alana tersenyum dibuatnya.
"Selamat, sayang. Akhirnya kamu ikut di barisan sepuluh besar dan kamu berada di urutan ke tiga kali ini," batin Alana.
Setelahnya, mereka melanjutkan acara selanjutnya, yaitu foto bersama satu angkatan. Kali ini foto diadakan di luar ruangan. Di sana sudah terdapat banyak kursi yang ditata dengan meningkat. Para tim dokumentasi yang disewa mulai mengarahkan mereka untuk pengambilan video. Murid perempuan berada di depan dan laki-laki ada di belakang.
Waktu terus berlalu, semua acara yang terencana kini sudah terlewati dengan baik dan lancar. Sekarang waktunya penutupan, sebelum mereka diperbolehkan untuk pulang.
"Baiklah semuanya, acara ini telah kita terlewati dengan lancar. Saya Kenzi, pamit undur diri," ucap MC tersebut sebelum turun dari atas panggung. Ada musik yang sengaja diputar saat Kenzi selaku MC turun dari panggung.
"Selamat teman-teman, akhirnya kita lulus," kata Sabiru pada Chika dan Lala. Ketiganya lalu berpelukan dan saling mengucapkan selamat untuk satu sama lain. Begitu juga dengan murid lainnya.
"Biru, mau pulang sekarang atau nanti?" tanya Alana.
"Nanti saja boleh? Mau sama Chika dan Lala dulu," jawab Sabiru. Alana mengangguk lalu pergi dari sana setelah mengatakan bahwa dia akan menunggu di luar bersama Cakra.
🫶🏻
.
.
.
.
.
.
.
Akhirnya up lagi guyss. Maaf lama banget yaa hehe. See you next time. 🫶🏻
Radenayu....
KAMU SEDANG MEMBACA
Awan Biru Alana [END]✓
Novela JuvenilTidak ada perjuangan yang sia-sia, yang ada hanyalah takdir yang belum waktunya. Kisah yang awalnya indah tidak mungkin akhirnya akan indah juga, tetapi tidak selalu seperti itu. Ada yang awalnya indah dan akhirnya juga indah, tetapi ada pula yang a...
![Awan Biru Alana [END]✓](https://img.wattpad.com/cover/367741335-64-k547316.jpg)