Dalam kurun waktu kurang dari satu minggu Kenzi telah melihat mata Rayi sembab sebanyak tiga kali. Mungkin dari sekian orang di kantornya yang secara terang-terangan bertanya pada Rayi, hanya Kenzi yang mengetahui alasan sebenarnya.
Setiap hari Kenzi membelikannya minuman coklat dingin yang di hari ketiga Rayi bilang bahwa Kenzi tidak perlu melakukan itu, kebanyakan minuman manis bisa membuatnya terkena diabetes di usia muda.
Sebetulnya kekhawatiran Rayi lebih kepada apabila Hayden mendengar bahwa matanya sembab, ia pasti tahu alasannya. Tapi mau bagaimana lagi, coping mechanism yang dapat dilakukan oleh Rayi sekarang hanya menangis. Ia selalu menjawab kepada koleganya bahwa ia sedang menonton film atau re-read buku kesukaannya. Alasan klise, tapi orang tidak akan bertanya lebih dalam kecuali sangat dekat dengan dirinya, salah satunya adalah Mada.
Pukul 7 malam Mada berjalan ke mejanya, menarik kursi yang kosong untuk duduk sangat dekat dengan Rayi.
"Jujur sama gue."
"Apa lagi?"
"Lo nggak mungkin nonton drama lama lebih dari dua hari. Ini udah 3 kali mata lo sembab."
"Ngitung banget?"
"Pasti ada kaitannya sama itu kan?"
"Apasi mas? nggak jelas."
"Lo yang nggak jelas. Buruan cerita, males gue menerka-nerka."
Rayi menolehkan wajahnya. Memberikan ekspresi kesal.
"Gue secara nggak langsung confess pas pelatihan kemarin. Terus Hari Sabtunya gue ketemuan sama dia buat ngomongin lebih dalam lagi. Intinya gue ditolak, terus gue lagi di fase sakit hati. Udah puas?"
"Woh emang bener kelakuannya sama kayak mukanya."
Rayi memutar bola matanya.
"Mau gue peluk nggak?"
"Nggak butuh, gila. Sana deh lo pulang aja. Makin malem ntar gue pulangnya."
"Bentar dulu ah." Mada semakin menghimpit Rayi.
"Gue jadi penasaran nih dek." Mada mulai memanggilnya dengan 'dek' artinya bentar lagi dia akan mengucapkan hal-hal yang tidak perlu.
"apalagi?"
"Dulu pas putus sama gue, lo kayak gini juga kah?"
"Kenapa mendadak ngomongin itu sih?"
"Penasaran aja, tinggal jawab."
"Lebih dari ini lah. Lo pikir hts kayak gini bisa dibandingin sama putusnya dari pacaran bertahun-tahun? Sakitnya lebih lah. Ini masih ada jeda hari mata gue nggak sembab. Dulu 24/7 mata gue sembab."
Mada terkekeh. Rayi sedang menyuapi ego Mada.
"Seenggaknya lo nggak secinta itu sama tuh bajingan satu."
Rayi memutar bola matanya.
Mada meneruskan, "Gue juga gitu kali ah. Gue tangisin semua barang dari lo. Satu-satu gue masukin ke dalam kotak sambil nangis. Semua surat gue baca satu-satu. Gue pegangnya ajak jauhan, takut luntur tintanya kena air. Kotaknya masih ada kalau lo mau liat, gue bawa ke Jakarta. Spotify gue juga nyala 24/7. Story of another us-nya 5SOS nggak pernah gue ijinin buat istirahat. Kasihan banget tuh mereka."
Tanpa sadar Rayi tersenyum.
"Kenapa juga harus dibawa-bawa sih kotak-kotak itu?"
"Kalau ditinggal di rumah ntar dibuka-buka sama nyokap, bisa-bisa dijejelin pertanyaan aneh-aneh gue."
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Place | Dongren | Hyuckren
Ficción GeneralHilang arah dan segala yang dapat menuntun. Aku hanya dapat melihatmu dari kejauhan, atau setidaknya itu yang aku rasa. Demikianlah kata orang, biarkan kebahagiaan yang menghampirimu, karena semakin kau kejar, ia akan semakin lari. Namun hal itu me...
