Tetangga

49 1 0
                                        

Di Siang hari yang terik...

Suara percikan air menggema di kamar mandi, sedang membersihkan diri—mandi—tentunya karena hari ini ia harus berangkat ke kampus, menggunakan setelan baju kasual dan tas hitamnya ditambah dengan kacamata kotak tanpa bingkai yang terlihat cocok untuknya. Keluar menuju parkiran apartemen dan mengendarai motor beatnya.

Dengan wajah ramah, ia berjalan di koridor menuju kelas membuatnya menjadi pusat perhatian, karena wajah tampan, senyuman manis dan badan rampingnya yang mampu membuat siapapun terpikat.

Sampai di kelas ia pun duduk dengan tenang di bangku bagian pojok belakang yang berdekatan dengan jendela, memutar lagu dari daftar putaran untuk memulai hari.

Kegiatan di kampus pun berjalan lancar—ah tidak, ia bertemu dengan tetangga di apartemen tempat ia tinggal. Sialnya lagi, tetangga itu seakan mengenalnya dan mulai tersenyum lebar sembari berjalan mendekat.

"Hai Rega cantik! Mau ke kantin kan, bareng yuk?" sapanya ramah tanpa basa-basi.

"O-oh, hai Zar. Iya nih tapi kayaknya gajadi–"

"Ehh harus jadi dong, cantik. Apa makan bareng di apartemen aja?" Ucap Wizar, memotong ucapan Rega dan menawarkan hal yang terdengar ambigu.

Rega yang bingung menanggapi pun langsung berjalan ke kantin dengan canggung, tentu ia tak lupa dengan kehadiran sang tetangga namun memilih tidak peduli.

Tiba di kantin fakultas, memesan menu paling murah–mie ayam dan es teh–lalu menuju ke meja kantin, sama halnya dengan Wizar, tetangganya itu terus saja mengikuti si manis seakan tak ingin lepas, bahkan ketika istirahat berakhir ia tetap menempel, sungguh membuat Rega merasa muak.

'Ya ampun.. kapan si brengsek ini lepas dariku? Sungguh, aku hanya ingin belajar dengan tenang'  ucap Rega dalam batinnya.

-------

Kelas selesai dengan cepat karena sang dosen yang tidak hadir, ia pun bersiap untuk pulang sembari bersenandung pelan lagu 'Gnarly – KATSEYE' dan keluar dari ruangan.

"Na-na-na-na-gnarly everything's gnarly—damn.." Rega menghentikan kegiatan bersenandungnya dan menatap kesal manusia yang sedari tadi selalu mengikutinya, siapa lagi jika bukan Wizar. Berkacak pinggang agar terlihat menyeramkan dan mengusak rambutnya cepat seakan stress dengan keadaannya saat ini.

"Lu kenapa si Zar? Aneh banget dari tadi.. pengen main sama gue?"
Tanyanya kesal, mendekat pada sang tetangga dan menyenggol bahunya pelan. Berlalu meninggalkan Wizar—yang pasti sedang menyusulnya.

Dengan senyum lebar, Wizar mengikuti Rega hingga sampai di pintu kamar apartemen, menepuk bahu Rega dan berkata, "Hehe.. iya nih mau main, yuk sini" menarik pelan lengan si manis menuju kamar apartemennya.

Rega yang malas merespon pun hanya berdecak malas dan merotasikan matanya, 'apa lagi yang akan dia lakukan kali ini?' .

Mereka pun masuk dan duduk pada sebuah sofa disana, Wizar beranjak untuk mengambil makanan ringan dan buah-buahan untuk menyambut si cantik.

"Nih makan, buah stroberi sama kue lapis buat lu"

Rega hanya mengangguk dan mengambil buah merah dengan beribu biji dikulitnya itu, menggigit pelan sembari menatap Wizar yang sedang merapihkan kamarnya. Terkekeh pelan saat si tetangga kepalanya terantuk pelan ke meja tempat ia makan.

Wizar yang melihat si manis tertawa karena tingkahnya pun hanya tersenyum hingga gigi rapihnya terlihat, 'senyumnya manis banget si, jadi pengen nyium'

Setelah selesai dengan kegiatannya, Wizar pun duduk di sebelah si cantik yang sedang melahap buah stroberi pemberiannya, ia pun ikut mengambil buah itu dan menyodorkan ke mulut Rega, menekan bibir itu dengan stroberi ditangannya, menggesekkan buah itu dengan pelan ke bibir si manis, tersenyum gemas dengan reaksi lucu lelaki manis di depannya yang sedikit terkejut.

"coba buka mulut lo, Re"

Rega yang mengerti maksud dari ucapan dan tingkah tetangganya pun menurut, ia membuka mulutnya yang kecil itu dan menatap mata manusia brengsek di hadapannya, dengan sengaja ia menjulurkan lidahnya—menjilat mengecup dan menghisap buah itu dengan sensual, melihat reaksi Wizar yang semakin melebarkan senyumnya, ia pun memasukkan buah itu kedalam mulutnya hingga sebagian jari telunjuk Wizar tidak sengaja—sengaja—ikut masuk ke dalam mulut hangatnya. Ia pun meletakkan tangannya di lengan Wizar, lanjut menghisap juga menjilat buah serta jari itu sembari terus menatapnya dengan tatapan sayu.
"eumhh.. gini ya Zarhh mmhh, enakhh yahh?"
melontarkan pertanyaan dengan nada lirih, seakan menggoda sang tetangga—yang memang tergoda.

"iya sayang, jilat terus... mmhh bener gitu"
Respon Wizar pun tak kalah menggoda, dengan tatapannya yang seakan siap untuk menyantap, tangannya yang menganggur kini menarik si manis untuk mendekat ke sisinya–meremas pinggang rampingnya pelan, menatap penuh minat bibir si manis yang terlihat lezat, mulutnya yang tadi mengunyah buah stroberi kini menggigit pelan jari telunjuknya yang masuk sepenuhnya, Wizar pun menambah jarinya, memainkan bagian dalam mulut kecil itu dengan gemas.

Rega menikmati hal itu, ia terus mengulum dan menjilat sembari memejamkan mata. Wizar yang melihat pemandangan penuh gairah itu menarik jarinya perlahan, tersenyum lembut dan mulai menjilat jarinya yang terbalur oleh alir liur si manis,
"haha, rasa stroberi ya.. bibir lo juga gak?" Tanyanya menatap si cantik intens, perlahan mendekatkan wajah sembari mengelus pelan bibir yang sedari tadi menyita atensinya, 'pasti manis' pikirnya.

Mata mereka pun terpejam...









Wajah mereka mulai berdekatan..










semakin dekat...














dan semakin dekat...










Wizar menyentuh badan Rega perlahan...









membelai setiap lekukan tubuhnya...














"WOI REGA BANGUN! UDAH JAM 9!!"

"ah Zar... geli-hhh~"


...


Sedikit terkejut, Wizar mengerti apa yang dimimpikan temannya itu, ia pun berbisik pelan di telinga Rega.

"hahh.. enak banget ya?"

"eumhh enakhh~"




bruk!

"HAH-"
Tas mendarat di wajahnya tepat saat ia bangun, dengan ekspresi kesal ia melirik seseorang yang melemparkan tas itu padanya–oh tidak.. ternyata itu Wizar, teman satu apartemennya.

"EH LU KOK DISINI ZAR?" Tanyanya heran.

"Lah.. Kita kan kemarin main kartu di kamar gue, lu malah ninggalin gue tidur, jadilah gue angkat lu ke kasur gue" Jelas Wizar, membuat Rega kembali pada kenyataan bahwa hal yang ia mimpikan itu hanyalah bunga tidur.

Terkekeh pelan, Wizar pun menanyakan hal yang membuat Rega merasa malu setengah mati.







"Lu kok tadi desahin nama gue?"



|

|

fin.

WIZAREGA | YEONGYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang