19. Break

64 45 4
                                        

••••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

••••

Melihat reaksi Lino yang diam saja, Lia tertawa sumbang. Sepertinya ia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut laki-laki dihadapannya.

"No? Jawab." Titah Lia.

"G-gue bisa jelasin, Li." Jawab Lino sambil menunjukkan raut wajah penuh penyesalan.

"Oh jadi bener ya? Lo macarin gue cuma karena dare doang? Iya?!" sahut Lia.

Lino menggeleng pelan, "Gak gitu, Li. Lo harus denger penjelasan gue dulu."

"Halah, penjelasan lo itu udah bisa gue tebak. Kali ini jawab gue, lo beneran macarin gue karena dare?"

"Iya, Li."

"Tapi itu dulu, dare sialan itu udah gak berlaku sekarang. Gue bener-bener sayang sama lo, Li."

Lia yang mendengarkan jawaban Lino menggeleng tak percaya, setitik air mata pun jatuh dari pelupuk mata Lia. Ia pun mendekat ke arah Lino dan menampar pipi laki-laki itu.

plakk

"Tega ya lo! Setelah apa yang kita lakuin selama ini dan ternyata itu semua karena dare semata? Udah gila lo!" teriak Lia.

Lino yang merasakan tamparan tersebut hanya mampu diam, ia mengumpulkan kesadarannya dan mendekati Lia. Ia meraih tangan gadis itu.

"Li, persetan sama dare itu! Gue bener-bener sayang sama lo. Dan dare itu udah lama berakhir." Ujar Lino sambil menatap ke arah Lia.

Lia menghempaskan tangan Lino yang sedari tadi menggenggamnya, "Kita break."

Lino yang mendengar kata itu lantas mendelik, "Gue gak mau, Li. Please kasih gue kesempatan." Ujarnya memelas.

"Eh! Udah bener gue gak mutusin lo! Pokoknya kita break." Final Lia, ia pun meninggalkan Lino sendirian di luar rumahnya.

Lino yang melihat Lia masuk ke dalam rumahnya hanya mampu terdiam, sedetik kemudian ia mengacak rambutnya frustasi. Bagaimana bisa Lia tau soal dare itu?

••••

Malamnya, Lino mengabari Han dan Esa untuk mengajak mereka bertemu di cafe domino. Ada hal yang ingin ia tanyakan kepada kedua sahabatnya itu. Saat waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB, Lino pun bersiap untuk keluar, ia berjalan menuju garasi tempat motornya diparkirkan. Sesampainya di garasi, ia lantas memakai helm dan mengeluarkan motor Nmax kesayangannya itu. Saat motornya sudah berada di luar garasi, Lino pun melajukan motornya, membelah langit malam yang sepi. Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya dipenuhi oleh Lia, Lia, dan Lia, ia masih memikirkan kejadian tadi siang, baginya ini adalah hari terburuk sedunia. Tak terasa Lino pun sudah sampai di cafe domino, ia segera masuk dan berjalan menuju ke arah teman-temannya berada.

"Bro!" sapa Lino sambil ber high five dengan Han dan Esa.

"Ada angin apa lo ngajak kita berdua nongki?" tanya Han sambil menyeruput ice americano miliknya.

"Gue break sama Lia." Ujar Lino.

"Kok bisa?!" sahut Esa.

"Dia udah tau soal dare itu."

"Parah sih! Lo udah jujur ke dia ya, No?"

"Belum, ini dia tau sendiri. Makanya alasan gue ngajak kalian ketemu itu mau nanyain sesuatu, lo berdua ada ngasih tau ke dia?"

"Gue enggak ya." Jawab Han.

"Gue juga enggak." Kali ini Esa yang menjawab.

Lino mengacak rambutnya, "Duh! Sial, siapa sih yang ngasih tau ke Lia?"

"Jangan-jangan ada yang nguping pembicaraan kita tempo hari?" ujar Esa.

"Gak mungkin, gue liat sekolahan waktu itu udah sepi."

"Kalau pun ada, siapa coba?"

Ketiganya terus memikirkan hal tersebut, kasian juga Lino yang harus break dengan pacarnya itu. Keduanya tahu bahwa Lino sangat menyayangi gadis yang bernama Julia Saraswati itu.

"No, lo yang sabar ya. Saran gue, tunggu masalahnya reda dulu baru lo ajak omong lagi dan bilang hal yang sejujurnya ke dia, ceritain semuanya, jangan ada yang ditutup-tutupin dari dia." Saran Han.

"Bener, No. Untuk saat ini biarin dia jalanin kehidupannya sendiri, kalau udah tenang baru lo ajak ngobrol empat mata." Sahut Esa.

Lino pun hanya mengganguk mendengarkan saran kedua sahabatnya, "Iya." Jawabnya singkat.

"Tapi, No. Kenapa lo gak ajak Devon ketemuan juga?"

"Eh goblok! Devon itu sepupunya Lia ya, kalau gue ajak ketemu juga bisa-bisa muka gue bonyok dihajar dia." Lino menjawab pertanyaan Han dengan kesal.

"Ehehe iya juga ya." Jawab Han sambil cengengesan.

Esa yang melihat hal tersebut hanya menggeleng pelan, ia pun beralih ke arah Lino.

"No, menurut gue hal kaya gini jangan sampe kedengeran ke telinga Devon." Ujar Esa serius.

"Iya, semoga anaknya gak tahu dah." Balas Lino.

"Kan Devon juga ada perlombaan di luar kota, ya bisa lah gak ketauan." Jawab Han.

Han dan Esa pun menyemangati Lino yang sedang dilanda badai percintaan itu. Keduanya turut prihatin mendengar cerita Lino malam ini, tak menyangka juga jika hal besar yang selama ini Lino sembunyikan dari Lia bisa ketahuan oleh gadis tersebut. Lino sendiri hanya pasrah jika Lia meminta break dengannya, toh ini juga kesalahannya.

••••

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

••••

Pendek dulu ya guys :)

Sorry, I love you ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang