Suara Yang Menepi Di Ujung Do'a

10 0 0
                                        

Ada satu nama yang tak pernah lepas dari cara langit menafsirkan rindu.
Aku, seorang pejalan di antara kabar angin,
masih berdiri di pinggirnya menunggu restu yang tak pernah berjanji datang.

Orang-orang bilang jalanku buntu.
Tapi bukankah hati tak butuh petunjuk jalan?
Ia cukup tau pada siapa mesti pulang, meski tak selalu sampai.

Aku mencintanya,
seperti seseorang mencintai hujan sore yang
tau caranya basah, tapi pasrah pada angin
yang kadang datang, kadang pergi, kadang hanya menipu pintu.

Apa aku pantas menuntut langit tunduk pada ingin?
Aku tak tau.Aku terlalu letih bertanya
terlalu sering mendengar jawaban yang tak pernah benar-benar kuterima.

Orang-orang berdiri di depan pintu,
membawa palu, membawa palang,
mengetuk pelan tapi suaranya menggema di kepalaku “Kau siapa? Kenapa di sini?”

Aku tak pandai menjawab.
Aku tak tau apa yang mengalir di darahku,
tak pernah punya stempel mulia yang bisa kubentangkan di meja restu.
Yang kupunya cuma gemetar di ujung lidah saat kutulis namanya di langit-langit doa.

Aku ingin bilang pada mereka,
aku tak berniat merampas apa pun.
Tapi aku tau, mulutku terlalu kecil untuk membungkam mulut orang banyak.
Mereka senang bertanya,
tapi tak sudi mendengar jawaban.

Jadi di sinilah aku,
menjadi reruntuhan di balik tembok rumahnya.
Menjadi tamu tak diundang yang mematikan suara langkahnya sendiri.
Menjadi apa pun asalkan tak sepenuhnya hilang dari senyum yang kubisik pelan,
hanya dia yang tau.

Jika besok langit memisahkan,
tak usah carikan aku nama pengganti tuhan.
Biarkan aku menua dengan sisa denting suaranya
yang pernah kupinjam untuk melawan sepi.
yang membuatku asa ditengah putusku.
yang mengantarkanku ke letak hati paling ikhlas yang pernah kuraih.

Aku rapuh.. tapi rela.
Aku hancur.. tapi ikhlas.
Aku kalah.. tapi tak lari.
Karena cinta tak pernah kucatat di kertas nasab,
tapi kuselip di dada,
di bagian yang tak bisa dirampas siapa pun.

Jadi kini biarlah begini,
aku merawat nama itu di dada,
kuselipkan di bawah bantal,
kusisipkan di pinggir sejadah.

Andai suatu pagi pintu terbuka,
aku hanya ingin berdiri di sana
bukan untuk meminta apa pun,
hanya menatapnya sejenak,
lalu menua dalam lega
bahwa pernah ada yang kucintai begitu tulus,
dan semesta pun tau aku tak main-main.

aku sangat mencintainya.

Samarinda, 21 juni 2025

it's never endCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang