Malam itu, di panggung yang remang,
dangdut menggema, mengiris langit
kau hadir, diam-diam
seperti angin yang hanya sesaat,
membawa bisikan yang tak sempat kudengar.
Aku melihatmu menari,
dalam tawa yang terbungkus riuh,
sesekali matamu menyeberang ke arahku
aku tak tahu, apa itu kebetulan
atau isyarat dari semesta yang bercanda.
Aku tak pernah tahu namamu,
hanya ingat sepasang mata
yang lebih berbicara daripada suara
dan senyum kecil, yang terasa seperti rahasia
yang hanya aku dan malam itu mengerti.
Kita berjarak,
aku di sini, kau di sana
di antara lampu neon dan hujan gerimis
aku berharap ada langkah yang mendekat
tapi kakiku seakan terkunci,
ketakutan lebih besar dari rindu yang kupendam.
Sampai akhirnya,
kau menghilang bersama keramaian
meninggalkan aku dengan bayang-bayang
yang tak pernah sempat menjadi nyata,
aku menatap punggungmu pergi,
dan bertanya-tanya,
apakah mungkin kita memang diciptakan
hanya untuk saling melihat,
tanpa pernah benar-benar mengenal?
Kau kembali ke kota sebelah
membawa separuh malam yang tak terselesaikan
sedangkan aku,
masih di sini, berbicara lewat tatapan
yang tak pernah sempat jadi kalimat.
Minggu, 15 september 2024
Hammudyy
