Bagian 10

330 20 3
                                        


"Aku bukan sembuh, tapi aku cuma belajar untuk tetap bernapas diantara banyaknya rasa sakit yang sama."

****

Kabar itu akhirnya meledak.
Foto-foto yang sebelumnya cuma beredar di akun kecil kini sudah sampai ke portal berita hiburan besar.

Judulnya beragam, tapi semua menyorot satu hal yang sama — Seokmin, idol yang tertangkap sering keluar-masuk rumah sakit, dan sosok laki-laki misterius di sampingnya.

Joshua membaca semuanya diam-diam, lewat ponselnya sendiri. Jantungnya berdetak terlalu keras. Tangan yang memegang layar bergetar. Semua komentar terasa menusuk, satu per satu menempel di kepalanya seperti duri halus yang tak bisa dicabut.

"Pacarnya siapa tuh?"
"Cowok? Serius?"
"Denger-denger dia tuh fans juga gak sih?"
"Fansnya Seokmin???"
"Iya fans, tapi berani banget deketin idol pake cara kayak gitu."
"Yang deket sama Seokmin sebenernya gila tau."

Ia menutup ponsel, menunduk. Dunia mendadak terasa sempit lagi. Napasnya berat. Dan di hati kecilnya, suara lama yang pernah diam itu muncul lagi — kalau aku gak ada, mungkin semua akan lebih baik.

“Shua?” Suara Seokmin memecah lamunannya.

Lelaki itu baru datang, membawa kopi hangat dan sekotak roti. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menampilkan senyum yang menenangkan.

“Udah baca, ya?” tanyanya pelan.

Joshua tidak menjawab. Ia cuma menatap jendela, seolah sinar sore bisa menyembunyikan semua rasa yang bergejolak di dada.

“Maaf,” lirihnya, “Aku bikin semua ini jadi runyam. Harusnya aku gak—”

“Jangan mulai lagi,” potong Seokmin.
Nada suaranya tenang tapi tegas. Ia meletakkan kopi di meja, duduk di tepi ranjang, jarak di antara mereka hanya beberapa inci.

“Aku yang pilih buat di sini, kan? Kamu gak minta apa-apa.”

Joshua menggigit bibir, menahan getaran di dadanya. “Tapi semua orang nyalahin kamu. Mereka bilang kamu—”

Padahal yang sebenarnya Joshua lah yang mereka bicarakan.

“Biarin.” Satu kata itu ringan, tapi menggetarkan.

Seokmin menatapnya lama, tatapan hangat tapi membuat dada Joshua terasa sesak.

“Yang penting kamu di sini. Aman. Itu aja cukup buat aku.”

Joshua menunduk, menarik lututnya, memeluk diri sendiri. Air mata naik tanpa suara. Rasa bersalah, rasa takut, semua bercampur jadi satu.

“Kenapa kamu gak pergi aja, Seok? Kalau kamu pergi, semua ini kelar. Aku gak bakal bikin kamu repot lagi.”

Seokmin tidak menjawab. Ia mendekat perlahan, sampai jarak mereka benar-benar habis. Tangannya terulur, menyentuh kepala Joshua, mengelus pelan seperti menenangkan anak kecil.

“Aku gak mau pergi,” bisiknya. “Kamu denger, kan? Aku gak akan ninggalin kamu.”

Sentuhan itu membuat Joshua air matanya pecah. Bahunya bergetar, napasnya tersendat. Semua perasaan yang ia tahan selama ini akhirnya tumpah—takut, malu, cemas, semuanya.

Seokmin memeluknya. Tidak rapat, tapi cukup untuk membuat Joshua berhenti menggigil. Hening mengisi ruangan. Hanya napas mereka yang terdengar, bergantian, menandakan bahwa keduanya masih hidup.

Joshua menunduk lebih dalam, pipinya panas. Degup jantungnya kacau, pikirannya berlari. Ia mulai overthinking:

Apa semua orang bakal benci Seokmin? Semua ini jela salahku, kan? Kalo aku masih bikin salah kayak gini, apa seharusnya aku…?

“Seok… aku takut. Aku gak tahu kapan aku bisa berhenti ngerasa kayak gini.” Suaranya nyaris tak terdengar.

“Gak apa-apa,” jawab Seokmin lembut. “Takut bukan berarti kamu lemah, Shua.”

Kata-kata itu sederhana, tapi menusuk tepat di tengah dadanya. Di tempat yang selama ini penuh luka.

Seokmin menarik sedikit jarak, menatap wajah Joshua yang masih basah.

“Aku cuma minta satu hal,” ujarnya.

“Kalau nanti kamu ngerasa semua ini terlalu berat, jangan diam sendirian. Cari aku. Cerita sama aku. Janji?”

Joshua menatap balik, ragu. Matanya merah, bibirnya gemetar. Tapi akhirnya, ia mengangguk pelan. Seokmin mengulurkan tangan, dan Joshua menggenggamnya. Jemari mereka bertaut, diam-diam menenangkan badai yang belum benar-benar reda.

Mereka duduk begitu lama. Kadang Joshua menatap Seokmin, kadang menunduk, terganggu oleh berita yang viral tapi tetap mencari kenyamanan di dekatnya. Seokmin sesekali menyingkirkan sedikit rambut Joshua dari wajahnya, atau membetulkan selimutnya. Sentuhan-sentuhan kecil itu membuat Joshua merasa —sedikit aman, meski gelisah masih menghantuinya.

Malam itu, mereka tidak banyak bicara. Joshua bersandar di bahu Seokmin, matanya setengah terpejam. Hujan turun pelan di luar, mengetuk kaca jendela. Suasana rumah sakit yang dingin terasa lebih hangat karena keberadaan satu sama lain.

Joshua tahu pikirannya masih kacau, kecemasan belum hilang. Tapi untuk pertama kalinya, di tengah segala ketakutan, ia menemukan sedikit ruang untuk bernapas—di bahu seseorang yang tak pernah lelah menunggunya pulih.




.
.
.
.
.
.
.
.
.
.



Halo!! Kembali lagi dengan Aeris disini😇
Semogaa update kali ini cukup mengobati kerinduan kalian terhadap Joshua dan Seokmin ya🥰
Aku masih dihadapkan oleh kehidupan yang sibuk bahkan untuk beristirahat pun sulit. Tapi!! Aku sempatkan untuk update chapter 10 ini buat kalian 🥰

Semoga suka!!!

Jangan lupa untuk klik poling dibawah 🙂‍↕️

See you in the next chapter!!

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

The Idol X Fans.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang