Ia memandang sinis pada gemerisik dedaunan yang tertiup angin,
Seolah tengah menertawakan ketidakberdayaannya,
Menertawakan wajahnya yang mulai pucat,
Dengan tubuh yang mulai gemetar kedinginan.
Namun, ia abai terhadap semua itu,
Tak berniat beranjak sedikit pun dari guyuran hujan yang semakin deras,
Hawa dingin itu mungkin menusuk tulang, tapi tak mampu menembus jiwanya yang telanjur hampa tanpa cinta,
Baginya, dunia ini tak lagi memiliki arti,
Sejak sang fajar tenggelam terkubur oleh mendung
Sekali lagi, ia memandang langit dengan nestapa,
Sorot matanya sendu, seolah tak lagi memiliki asa,
Kilat yang menyambar-nyambar tak membuatnya kehilangan nyali,
Bahkan, petir yang menggelar seolah tak terdengar oleh telinga.
Hujan sore itu, membuat semua kenangan yang terpendam kembali bangkit,
Tentang kebersamaan yang telah berlalu,
Tentang genggaman tangan yang telah lama terlepas,
Tentang ruang, dan waktu yang tak lagi mengizinkan untuk bersama,
Tentang takdir, yang merenggut semuanya dari genggaman tangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Kalbu
PoetryKetika kerinduan hanyalah sebuah harapan Sampai kapan hati dan jiwa ini akan bertahan?? Bertahan dengan segala luka yang kian mendera Bertahan dengan semua pengorbanan yang seakan sia-sia belaka Jika ingin copas puisi, silahkan tambahkan #BintangSen...
