Untuk Kamu yang Tak Lagi di Rumah Ini
Aku duduk di sofa favoritmu malam ini.
Sofa yang dulu selalu kamu duduki saat menonton acara kesayanganmu.
Mataku tertuju pada jam dinding yang masih tergantung di tempat yang sama —
diam, tapi seolah menjadi saksi bisu dari setiap detik yang pernah kita habiskan di rumah ini.Dulu rumah ini begitu ramai.
Tawa dan suara bercanda memenuhi setiap ruang,aroma masakan, cerita-cerita, dan langkah-langkah kecil yang saling berkejaran.Dan di antara semua itu, alasan orang-orang datang selalu satu — kamu.
Sekarang rumah ini sunyi.
Udara di dalamnya terasa berat,
dindingnya tampak tua dan rapuh,
namun entah mengapa, di setiap sudutnya
aku masih bisa merasakan kehadiranmu.
Kadang aku menatap ruang tamu dan membayangkan kamu masih di sana,menunggu semua orang datang,tersenyum, mendengarkan percakapan,menjadi pusat dari setiap kebersamaan yang dulu begitu hangat.Aku rindu,
rindu dengan cara yang tak bisa dijelaskan.
Rasa ini menetes pelan, menyelinap di antara jeda napas,menyiksa tapi juga menjaga kenanganmu tetap hidup.
Kamu tahu, ini bukan tentang rumah ini.Ini tentang kamu — yang tak lagi ada di sini,tapi tetap tinggal di setiap bayangan,di setiap aroma,di setiap ingatan yang tak mau pergi.Aku hanya bisa berharap,tempatmu sekarang adalah tempat yang damai,tempat yang layak untuk segala kebaikan dan cinta yang pernah kamu berikan.Dan suatu hari nanti,ketika waktuku tiba,
aku ingin datang ke tempat itu juga —bukan untuk menjemput,tapi untuk pulang.Dengan rindu yang tak pernah habis,Aku.
YOU ARE READING
THROUGH THE FEELING
Non-Fictioncerita tentang perasaan yang tak sempat terucapkan dimana setiap semua perasaan diikuti dengan suka dan duka. sebuah perasaan di masa lampau yang di ubah menjadi kalimat karena tak dapat di sampai kan oleh lisan dan dikemas dalam tulisan yang ma...
