---
Kelak tibalah saat ajalku datang mendekat,dengan bara kecil di jemari yang masih hangat.Jangan salahkan ia yang berasap pekat,salahkan diriku yang mencintainya teramat lekat.
Kutahu benar racun di balik nikmat,kutahu pula ia menggerogoti dengan khianat.Namun tetap kuhirup tanpa sesal dan sekat,seakan maut pun terasa samar dan lambat.
Aku terpaut pada cinta yang sesat,pada hasrat yang menjelma jerat.Walau sadar tubuhku kian sekarat,tetap kupeluk ia dengan tekad bulat.
Paru-paruku mengaduh lirih dan penat,napasku tersengal, langkahku terserat.Pikiranku redup, cahayanya tersayat,hidup pun terkikis, sedikit demi sedikit terserat.
Di antara sadar dan getir penyesalan yang berat,aku kembali pada bara yang tak pernah padam sesaat.
Pada asap yang sama, pada luka yang melekat,hingga jasadku rebah dalam sunyi yang pekat.
---
YOU ARE READING
THROUGH THE FEELING
Non-Fictioncerita tentang perasaan yang tak sempat terucapkan dimana setiap semua perasaan diikuti dengan suka dan duka. sebuah perasaan di masa lampau yang di ubah menjadi kalimat karena tak dapat di sampai kan oleh lisan dan dikemas dalam tulisan yang ma...
