66. Lamaran

132 22 0
                                        

Acara Lamaran berjalan dengan mulus dan tenang. Semua keluarga dan sahabat yang hadir turut merayakan dengan suka hati dan mendoakan kelancaran sampai hari pernikahan tiba nanti.

"Selamat ya Miqdad dan Rose." seru Ruby dan Brea bersamaan, sambil bergantian meyalami dua sejoli yang sedang berbahagia itu.

Yup, kalian salah kalau berpikir ini adalah acara lamarannya Jihan dan Jevan.

Emang cuma Miqdad yang seluruh hidupnya bisa dar-der-dor sat-set-wat-wet.

Jadi, meskipun Miqdad emang kadang kidding, dia yang ternyata paling cepet menyelesaikan skripsinya. Cepet banget sampe nggak ada yang tahu kalau diam-diam dia skripsian sendiri. Tau-tau udah sidang aja.

Kenapa ngebut banget Miqdad? Selain keburu pengen nikah sama Rose. Dia emang udah pengen banget apply kerjaan yang dia idamkan sejak masuk kuliah. Perusahaan besar di Jepang. Miqdad memang udah tahu kalau perusahaan itu bakal segera buka lowongan, jadi dia buru-buru nyelesaiin skripsi biar bisa cepet lulus buat apply ke perusahaan itu.

Dar!

Berkat doa Ibu dan Kerja keras, kalau kata Miqdad, dia keterima kerja di Jepang!

Der!!

Sehabis baca email kalau dia di hire di perusahaan itu, dia langsung bawa Ibu dan Ayahnya buat kerumah Rose untuk melamar sang kekasih!!

Dor!!!

Dua hari setelah itu, muncul undangan digital di hp anak-anak yang ngabarin acara privat lamaran Miqdad dan Rose. Dan acaranya itu besoknya. Undangan sama acara cuma selang satu hari!!!

Dar-Der-Dor banget kan??

Ruby langsung cuss ke mall buat cari baju untuk hadirin acara itu.

Hellooo, Ruby loh ini, mana mungkin dia cari baju untuk dia sendiri iya kan?

Ruby bela-belain ubek-ubek semua Mall buat nyari baju yang senada warnanya buat dia, Devon, Tyaga, Jihan, Jevan, Brea dan Naya.

Ada yang minta Ruby kayak gitu?? Nggak ada!
Tapi ya emang ini Ruby, mau gimana lagi.
Yang lain juga mau nggak mau pakai baju dari Ruby itu. Masa iya Ruby, udah nyari baju buat mereka tapi malah nggak di pakai??

"Miq, please jangan kayak gini lagi. Gue ribet nyari bajunya kalo lo dadakan terus." omel Ruby. "Buat nikah nanti, at least kasih tau gua minus satu bulan biar gue bisa jahitin baju anak-anak."

Jihan hanya bisa menghela nafas mendengar itu.

"Kalian juga ya!! Jangan sampai dadakan kayak gini kalau ada acara penting!!" titahnya untuk semua sahabat.

"Jadi, lo bakal nikah after or before ke Jepang?" tanya Tyaga.

"Mau gue sih sebelum ke Jepang, biar gue bisa tinggal disana bareng sama istri. Hahaha." Miqdad sendiri yang ngomong, tapi dia sendiri yang ketawa waktu nyebut kata 'istri'.

"Emang kapan lo ke Jepang nya?" kali ini Jevan yang bertanya.

"Hmm, kira2 dua minggu lagi. Gue masih urus berkas-berkas sih." ucap Miqdad santai.

Hening sesaat.

"DUA MINGGU LAGI?!!!"

Keterkagetan anak-anak di wakilkan oleh teriakan Ruby.

Miqdad sampai menutup telinganya saking kagetnya.

"Rose!! Rose!! Rose!! Nggak bisa nih gue ngomong sama Miqdad, nggak bisa!! Sini ikut gue, kasih tau gue detailnya. Gila aja gua harus nyapin baju-baju dalam waktu dekat!!" Ruby langung narik Rose untuk duduk di meja lain, diikuti oleh Brea dan Naya.

"Lo gila sih, Miq." komen Jihan. Yang dikatain cuma bisa nyengir nggak merasa bersalah sama sekali.

***

BECAKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang