BAB 1

73 7 6
                                    

Langit sore itu mulai menampakkan loreng-loreng jingganya disertai dengan campuran warna ungu dan kemerahan. Matahari mulai kembali ke peraduan. Sedangkan burung-burung berterbangan di langit dengan formasi yang biasanya berbentuk segitiga. Jalanan sore itu tampak lenggang tidak seperti biasanya. Para remaja berseragam pun bercengkrama dengan hangatnya sambil berjalan di trotoar.

Di sisi lain, Angkasa atau yang akrab dipanggil Asa masih berada di lapangan sekolahnya karena hari ini memang jadwalnya untuk mengikuti latihan harian ekstrakulikuler basket. Lama-kelamaan langit mulai menggelap, dan sang pelatih menyudahi latihan hari ini. Para anggota ekskul basket segera merapikan barang-barang bawaan mereka masing-masing.

"Sa, gue balik duluan, ya!" sahut salah seorang teman Asa seraya melajukan motornya keluar dari lingkungan sekolah. Asa hanya sekilas menoleh lalu kembali melanjutkan kegiatannya yaitu membereskan tas serta isinya.

Setelahnya, ia mengendarai motornya keluar dari pelataran parkir motor sekolah. Tanpa sengaja matanya menangkap seorang perempuan yang sedang berjalan keluar dari gedung sekolah. Rasa penasarannya hinggap sehingga dia memberhentikan motornya lalu memperhatikan perempuan yang sekarang sedang berdiri di lobby sembari memainkan ponselnya dengan kening berkerut.

Merasa diperhatikan, perempuan itu akhirnya mengedarkan pandangan ke sekeliling dan mendapati Asa sedang menatapnya dari jarak kurang lebih dua meter. "Kenapa berhenti di sana?" tanya perempuan tersebut dengan mata menyipit.

"Emangnya ada larangan untuk berhenti di sini?" tanya Asa balik dengan nada sewot untuk menutupi rasa malunya karena tertangkap basah sedang mengamati anak perempuan itu. "Lo itu cewek dan udah gelap gini belom pulang?"

"Ini baru mau pulang," jawabnya singkat lalu kembali memainkan ponselnya. Asa yang kini memajukan sedikit motornya hingga berada di hadapan perempuan itu menatapnya lagi lalu bertanya, "Katanya mau pulang, kok, diem di tempat?"

"Lagi nunggu kabar dijemput atau enggak," jawabnya seraya menghelas nafas lelah. Karena sudah lebih dari sepuluh menit yang lalu pesannya belum kunjung dibalas ataupun dibaca oleh orang tuanya.

Asa memikirkan sesuatu di dalam kepalanya. Ia tahu bahwa meninggalkan cewek itu di sini sendirian saja akan berdampak buruk. Akhirnya, kalimat yang tidak pernah terlintas di kepalanya keluar dengan mulus lewat mulut Asa. "Rumah lo di mana? Kalo deket, bareng gue aja baliknya."

"Gak deket tapi gak jauh juga," jawab gadis tersebut dengan mata yang tertuju sepenuhnya kepada Asa.

"Yaudah, lima menit lagi kalau masih nggak ada kabar, lo bareng gue aja," ujar Asa final.

Dalam hati perempuan tersebut timbul banyak pertanyaan. Seperti, mengapa lelaki di hadapannya ini mau mengantarkan orang yang bahkan belum dikenalnya begitu saja padahal yang sudah dikenal saja jarang yang mau menawarkannya tumpangan.

Lima menit itu diisi dengan keheningan. Langit sudah benar-benar gelap dan mereka berdua masih sama-sama berdiri di depan lobby sekolah. "Waktu habis. Cepetan naik sebelum gue berubah pikiran dan meninggalkan lo sendirian di sini," kata Asa.

"Gue gak tau harus bersyukur atau kesel karena bertemu lo sekarang," gumam si anak perempuan sambil naik ke atas jok motor Asa yang sedikit tinggi.

Dengan cepat, Asa melajukan motornya keluar dari lingkungan sekolah. "Eh, ngomong-ngomong, kayaknya gue pernah liat lo sebelumnya deh. Lo kelas sepuluh juga, kan?" tanya Asa di tengah perjalanan.

Gadis di belakangnya memajukan sedikit wajahnya ke sisi kanan Asa lalu bertanya balik. "Tadi lo ngomong apa?"

Asa berdeham pelan. "Lo kelas sepuluh juga?" tanyanya lagi dengan suara yang lebih kencang dibanding sebelumnya.

"Oh, iya. Nama lo Angkasa, kan? Anak X IPA 4 yang deket sama Dhira, kan?" tanya perempuan itu bertubi-tubi.

Mendengarnya Asa terkekeh pelan. "Iya, dan dulu iya," jawab Asa sebelum bertanya kembali, "Nama lo?"

Perempuan yang duduk di belakangnya tersenyum simpul dan Asa dapat melihatnya melalui kaca spion. "Gue Elena. Dan makasih ya, buat tumpangannya hari ini!" seru Elena tepat di telinga Asa lalu kembali menginstruksikan. "Depan belok kiri, terus nanti ke kiri lagi."

"Stop," ujar Elena lalu turun dari motor tinggi milik Angkasa. "Sekali lagi, makasih ya, Sa."

Asa mengangguk dan kembali melajukan motornya keluar dari komplek perumahan tersebut.    


FallTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang