Beautiful Nightmare

11 2 0
                                    

Hari sudah mulai larut malam. Adi segera bersiap untuk pulang ke apartementnya.
Setelah semua persiapan beres Adi segera bergegas menuju lift khusus yang hanya dinaiki untuk pejabat perusahaan miliknya.

Sampailah dia dilantai basement lalu dia menaiki mobil mewahnya.

Dalam perjalanan pikirannya kembali berkecamuk dalam masa lalunya. Adi sama sekali tak fokus dalam perjalanan.

Tiba-tiba didepannya ada seorang wanita berlari tanpa arah. Adi segera menghentikan mobilnya dengan mendadak.

'Citttttt.....'
Wanita itu terbentur dibagian perut lalu terjatuh diaspal tanpa menghiraukan rasa sakit diperutya wanita itu berlari lagi karna dikejar oleh 2 preman dibelakangnya.

"Toloooongggggg..." wanita itu meronta minta tolong beberapa kali.
2 preman tersebut masih megejar dirinya. Adi segera keluar dari mobil untuk menolong wanita itu.

Semakin lama lari wanita itu semakin pelan dia mendengar suara aliran air yang cukup deras tak jauh dari tempat dia berjalan.

"Eneng mau kemana? Didepan eneng itu kali besar lohhh.." Kata salah satu preman itu yang badannya lebih besar.

"Mending main sama kita berdua hahahahah..." suara tawa 2 preman tersebut membuat wanita Itu tambah takut.

"LEBIH BAIK AKU MATI!!! DARIPADA AKU HARUS MELAYANI NAFSU SETAN KALIAN!!!"

Adi melihat wanita itu semakin terpojok oleh 2 preman tersebut. Adi segera menghampiri 2 preman tersebut dari belakang.

"Hey, jangan ganggu dia!" Suara perintah Adi yang terkesan dingin mengagetkan 2 preman didepannya.

"Bikin kaget gua aja lu! Lu mau jadi sok pahlawan untuk tuh cewe? Mau jadi sok kaya sinetron sinetron gitu ye? Kaga bisa! Mendingan lu pergi aja deh ato mau ngikut nikmatin ni cewe? Boleh aja sih tapi lu bayar!" Jawab preman yang lebih besar seenaknya.

Adi tidak menanggapi ocehan preman itu. Dia hanya memperhatikan gadis yang dibelakang preman itu yang tengah berdiri di ujung kali besar dengan badan bergetar.

"Bos kayenye die orang kaya deh bos, lihat aja setelannya kaya orang kantor gitu. Mendig kite rampok die."  Kata preman yang tubuhnya lebih kecil.

"Lebih baik kalian minggir. Atau tidak wanita itu akan jatuh kedalam kali dan hanyut."
Adi masih bertahan dengan tampang tanpa ekspresi sedikit pun dan suaranya yang sangat dingin.

"Halahhh banyak gaya lu!!! Hajar aja boss!!"

2 preman itu langaung menghatam Adi tapi segera ditangkis oleh Adi. Segera Adi mengeluarkan pistol yang ada disaku jasnya dan langsung menodong senjatanya ke 2 preman tersebut.

"Kalian ingin mati?" Adi mulai menarik pelatuknya.

"Hahahahahah, itu cuman pistol mainan." Kata preman yang disebut sebagai bos.

2 preman itu sama sekali tak takut dengan pistol yang ditodong oleh Adi. Mereka malah mengeluarkan golok dari sarung golok yang mereka selipkan dicelanya.

"Hayo bos hajar!" Seru anak buah preman itu.

Saat mereka akan menghantam Adi. Adi menembakkan pistolnya ke kepala bos preman tersebut tanpa mengeluarkan suara. Mengakibatkan preman itu terkapar ditanah dengan darah yang mulai bercucuran dikepalanya dan bau hanyir darah mulai menyerbak dimana mana.

"BOSSSS!!"

"Tadi aku sudah bertanya kepada kalian. Tapi kalian memilih untuk mati. Jadi aku mengabulkannya. Aku akan bertanya sekali lagi. Apa kau mau menyusul bos mu?"

"Tolong ampuni saya tuan. Saya minta ampun tuan." Preman itu bersimpuh dikakinya.

"Pergilah." Suruh Adi tanpa menatap preman itu.
Preman tersebut langsung lari dengan tubuh gemetar.
Adi langsung menyimpan kembali pistolnya kedalam saku jasnya.

Adi berjalan menghampiri wanita yang sudah diujung kali itu. Wanita itu membelakangi Adi dan masih menghadap kali besar.

"JANGAN MENDEKAT!"

"Kau ingin bunuh diri di tengah malam seperti ini?"

"KAU MAU APA?!"

"Aku sudah menyelamatkanmu. Jika kau mau bunuh diri aku akan membirkanmu untuk mati."

"Aku tidak mau bunuh diri."
Wanita itu lalu membalikan tubuhnya untuk menghadap Adi. Tapi dia salah dalam mengambil langkah dan mengakibatkan dia tergelincir kebelakang.

"Aaaaaa....."

Adi menangkap tanganya dengan cepat. Dan menarik wanita itu kedekapannya.

Wanita itu terkejut dengan perlakuan Adi.  Wangi parfum baju Adi membuat jantungnya berdebar dengan cepat.

"Kau menikmati dekapanku?"
Wanita itu langsung melepaskan dekapannya dari Adi.

"Te..terima kasih." Jawabnya karna gugup kepalanya terdunduk malu.

"Ini sudah tengah malam, mengapa kau masih berkeliaran disini."

"Sebernarnya saya tersesat."

"Jika kau sedang berbicara dengan lawan bicaramu. Lihat lawan bicaramu."

Wanita itu menegakkan kepalanya tapi tidak melihat ke arah Adi.

"Mohom maaf tuan jika anda tersinggung. Mata saya tidak bisa melihat."

Adi terkesima dengan kecantikan wanita itu. Rambutnya bergelombang dengan warna hitam sehitam langit malam,Wajahnya sangatlah cantik, mata hitamnya yang tidak bisa Adi lupakan, bibirnya tebal bewarna merah.

"Tuan?" Suara wanita itu mengagetkan Adi.

"Jadi kau tersesat?" Jawab Adi kembali.

"Ya tuan."

"Baiklah saya akan mengantarmu. Dimana rumah mu?"

Wanita itu sesaat wanita itu ragu dengan Adi. Adi menyadari keraguan wanita otu terlihat dari ekspresinya.

"Aku hanya akan mengantarmu"

"Baiklah."

"Pegang tanganku agar kau tak salah langkah."

Adi memegang tangan wanita itu untuk membantunya.
Saat mereka berjalan sesaat wanita itu mencium bau hanyir darah.

"Darah? Aku mencium bau darah. Apa ini bau darahmu? Apa tadi kau terluka karna tadi melawan 2 preman tadi?"

Adi tidak langsung menjawab wanita itu. Dia membukakan pintu mobil untuk wanita itu.

"Naiklah."

"Apa kau tidak apa-apa?"

"Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kau segera naik agar aku antar pulang karna Ini sudah mulai pagi."

Wanita itu mengangguk setuju. Lalu Adi membantunya menaiki mobil.

Adi segera naik ke kursi pengemudi setelah membantu wanita tadi
.
"Dimana rumahmu?"

"Dijalan nagrek no.106."

Adi segera menjalankan mobilnya unutk mengantarnya pulang.


####

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 08, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Rembulan Tanpa BintangTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang