Bocah ini terus condong kesana kemari selama perjalanan ini.
Kadang aku mencuri pandang ke wajahnya - yang sekarang tidak lagi tampan - bahkan rasanya dia terlalu senyap. Aku memegang lengannya untuk memeriksa suhu tubuhnya. Aku melakukan itu juga karena memberi tahunya bahwa aku selalu bersamanya dan tidak akan meninggalkan dirinya.
Suhunya benar-benar tinggi sampai aku terpaksa bilang kepadanya, "Ayo kita periksa ke dokter." Tapi tentu saja, nggak peduli bagaimanapun caranya aku memaksa, meminta, memohon bahkan mengancam dirinya, dia bersikeras dengan kalimat yang dia ucapkan 15 menit yang lalu. "Nggak papa, Aku nanti baikan sendiri setelah istirahat." Emang aku kelihatannya seperti perawat bagimu? T____T
Aku terus mengoyang-goyangkan kakiku dengan tidak sabar sambil memberi tahu belokan-belokan yang harus diambil oleh supir taksi ini. Tidak butuh waktu yang lama, taksi berwarna biru ini terpakir didepan rumahku.
"Tidak semewah rumahmu memang, semoga kamu bisa tidur disini." Aku bicara sarkastik. Tapi dia hanya membalas dengan senyum lemah. Dia tidak punya tenaga lagi untuk membalas hinaanku, aku sudah tahu itu. Haha.
Aku bertemu Ma dan Pa di ruang keluarga sambil memapah Phun masuk ke dalam. Aku harus bilang apa ke mereka?! Anak cowoknya membawa laki-laki asing masuk kerumah. Tapi Ma dan Pa gak mungkin punya pikiran yang sama dengan orang-orang di kediaman Phumimpat, kan? Hahaha....
"Hai, Pa! Ma!" Aku tetap menjadi anak yang baik walaupun terburu-buru menuju kamarku. (Aku takut kalau Phun mati ditanganku.) Tapi aku tetap harus menyapa dengan sopan orang tuaku untuk mengamankan aset-asetku (dalam hal ini uang saku).
"Sudah makan malam belum, Noh? Eh? Temanmu kenapa?" Ma adalah orang pertama yang menyadari ada sesuatu yang salah. Tapi Ma bertanya cukup keras sehingga Pa menoleh dan akhirnya melihat juga. "Siapa itu yang kamu bopong?"
"Ha-Hallo." Phun menyapa mereka dengan cara yang cukup menyedihkan. Dia sedang sakit tapi masih sok sopan. Aku berpikir seperti itu saat menyaksikan dia berusaha keras mengangkat kedua tangannya untuk menghormati mereka.
"Ini temanku. Dia terlalu sakit untuk bisa pulang kerumah. Bolehkan dia menginap disini?
"Cepat, bawa dia naik supaya bisa lekas tiduran, aku akan bawakan obatnya nanti." Ma-ku sungguh manis sekali kan? Tapi sebenarnya, semua orang disini baik hati. Kalau nggak, mana mungkin Om, Keng dan lainnya sering main kesini.
Setelah mendapat lampu hijau, aku buru-buru memapahnya naik dan masuk ke kamarku.
***
" Tidurlah disini. Maaf ranjangnya tidak sebesar punyamu." Aku kepayahan membantu menidurkannya di kasur. Kelihatannya dia merasa lebih nyaman setelah ada kasur yang menyangga punggungnya.
Dia menggumam pelan saat mengucapkan terimakasih tapi aku tidak memperhatikannya. Aku terlalu sibuk menyesuaikan AC-nya agar tidak terlalu jomplang dengan kondisinya sekarang. Sambil merasakan agar ruangan tidak terlalu dingin.
Karena demamnya yang lumayan tinggi, dia memeluk selimutku seolah-olah merupakan harta karun. Haah. Dia harusnya merawat dirinya lebih hati-hati.
Tok tok tok.
"Masuk."
"Ma membawakan obat untuk temanmu. Ini. Dia demam kan?" Aku tersenyum lebar ketika melihat sebotol air minum dan obatnya. "Iya benar. Aku nanti menyuruhnya berterima kasih kalau dia sudah bangun."
"Iya. Jadi ini siapa? Ma tidak pernah melihatnya sebelum ini. Kamu sudah memberi tahu keluarganya?" Ma-ku biasanya hanya bertemu dengan si brengsek Om, si lubang-pantat Keng, dan pecundang-pecundang lainnya. Seseorang dengan reputasi yang baik seperti Phun belum pernah menginjakkan kaki disini. Aku merasa bersalah ke Ma.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE SICK THE SERIES
RomanceIni adalah versi indonesia dari "love sick the series" yang berasal dari negri gajah putih sana!! Awal mula diterjemahkan dengan bahasa inggris oleh kudalakorn.com Dan saya mulai tertarik dengan alurnya dan jadilah translate tan nya!! Novel asli di...
