(9)

3.7K 483 11
                                        

Lusi membuka mata, kandung kemihnya terasa penuh. Teringat ia memang menenggak cukup banyak air mineral sebelum tidur, dan seperti ini lah akibatnya. Di saat yang lain masih terlihat tidur pulas di tempat masing-masing, Lusi harus terjaga karena kebelet buang air kecil.

Ia mengangkat tubuhnya perlahan, melirik ke jam digital yang ada di atas pintu. Jam masih menunjukkan pukul lima, baru dua jam ia tertidur. Pantas kepalanya sangat pusing dan matanya sangat berat dibuka. Ia duduk di pinggir kasur dan menengok ke sisi kanan. Hampir terkejut namun langsung menyadari, bukan dia orang yang pertama bangun. Adam sedang sholat subuh tepat di belakang pintu.

"Kamu sudah bangun?" tegur Adam setelah menyelesaikan sholatnya. Lusi mengangguk sambil merapihkan rambut. "Toilet di sebelah mana?" tanyanya kemudian.

"Mau ke toilet?" Adam bangun dari lantai sambil melipat sajadah kemudian memasukkannya ke dalam tas. "Ayo aku antar."

"Tidak usah!" Bisik Lusi, tak mau membangunkan yang lain.

"Aku sudah ke toilet tadi, memang tak ada obs di sana, tapi tetap saja bahaya kalau sendirian." Adam mengambil ponsel dan pistolnya, "Ayo, biar aku antar."

Lusi juga mengambil ponsel dan pistolnya yang tergeletak di atas kasur, dengan mata masih setengah terpejam ia memasang earphone-nya di telinga kiri. Tak mengiyakan tawaran Adam namun tak memberikan penolakan lagi. Ia juga sadar bahwa keadaan di luar pasti menyeramkan. Ia mengikuti langkah Adam saat pria itu membuka pintu dan berjalan keluar.

Adam menunggu tepat di depan pintu toilet, menahan nafas ketika melihat beberapa obs jalan melewati lorong yang berjarak sekitar dua puluh meter dari tempatnya. Sementara di dalam toilet Lusi membuka jaket Adam yang ia kenakan dan menyingkap lengan kausnya. Lengan atasnya memar, berwarna biru kehitaman dan terdapat luka gores. Ia meringis sambil mencoba menggerak-gerakkan tangannya perlahan.

Beberapa menit mencoba melenturkan tangannya yang terasa kaku, Lusi kembali menurunkan lengan kausnya. Bermaksud membuka pintu toilet saat sesuatu jatuh dari jaket Adam yang ia sampirkan di bahu. Lusi segera meraih benda yang ternyata adalah selembar foto itu dari lantai, kemudian memandangnya.

Lusi bisa mengenali pria yang ada di foto adalah Adam, tapi jelas ia tak tahu siapa anak kecil dan seorang wanita yang ada di sebelahnya. "Ahhh!" gumam Lusi, mengerti bahwa Adam adalah pria yang sudah berkeluarga, ia ingat cincin perak yang melingkar di jari Adam.

Dengan rapih Lusi kembali memasukkan foto tersebut ke dalam saku jaket Adam segera keluar toilet. "Ini, terima kasih!" Lusi mengembalikan jaket kepada pemiliknya.

"Sama-sama," sahut Adam langsung mengenakan jaketnya dan melangkah menjauhi pintu toilet. Lusi membututinya dalam diam, tak tertarik bertanya siapa wanita dan anak kecil yang ada di dalam foto tadi. Sudah menjadi sifatnya untuk tidak peduli pada urusan pribadi orang lain. Lagi pula ia sudah bisa menduga mereka siapa, menanyakan dan membuka obrolan tentang itu hanya membuatnya menjadi orang yang lancang.

Di depan sebuah ruangan Lusi memberhentikan langkah, melihat seseorang di dalam ruang obat. Seorang wanita mengenakan jilbab berwarna putih, berdiri membelakangi, Lusi memperhatikan dengan seksama. Sadar tengah berjalan sendirian Adam pun berhenti dan menengok. Melihat Lusi sedang mendekatkan wajahnya ke sebuah kaca tampak serius dengan tatapannya. Adam berjalan menghampiri.

Lusi tak memperhatikan langkahnya, ujung sepatunya terpatuk ke pintu kaca di hadapannya, menimbulkan bunyi yang cukup terasa. Wanita berjilbab putih itu membalikkan badan dan dalam sekejap mata menabrak pintu kaca di hadapan Lusi. Lusi berteriak dan menyilangkan kedua tangannya di depan wajah ketika kaca di hadapannya pecah dan obs wanita itu menabrak tubuhnya hingga terjatuh.

Adam berlari dan menendang obs berkerudung itu sekuat tenaga hingga tubuh mayat hidup itu terpental dan membentur sebuah pot tanaman. Adam sedang membantu Lusi untuk berdiri saat obs tadi kembali berjalan ke arahnya, seakan tendangan Adam dan pecahan pot yang menancap di tubuhnya tidak mempengaruhinya sedikitpun.

[ Sudah Terbit ] JAKARTA'S RUINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang