Ada hitam dan putih. Hitam dan putih. Jelas. Tapi, jangan lupakan abu-abu. Warna yang bimbang? Memang. Banyak orang menyuruhku mengambil salah satu antara hitam dan putih. Tapi....
Aku memilih abu-abu.
Tidak peduli dengan ketidak jelasannya. Abu-abu...
Eca berlari menjauh dari orang itu. Dari kenangan pahit mereka. Eca tidak mau lagi ingat semuanya yang pernah terjadi dengan orang itu.
"Kenapa... Kenapa harus dia lagi?"
*hiks*
Rintik air mata turun membasahi wajah Eca sembari ia duduk di rooftop sekolah, sembari menenangkan dirinya. Ia mencoba menenangkan hatinya. Mencoba menenangkan jiwanya yang terusik.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
*hiks*
"AAAAAAAAHHH! Kenapa sih harus ketemu lagi?! *hiks*"
"Capek... *hiks* capek..."
ucap Eca terus sembari menangis.
Ia lelah dengan dirinya. Lelah dengan orang itu. Hatinya ngilu bak luka basah yang ditaburi garam. Luka itu baru. Masih basah. Sedang mencoba untuk menutup. Eca mencoba untuk menyembuhkan hatinya. Ia menutupi luka itu dengan senyuman sebagai perbannya. Tapi.. luka itu belum siap untuk sepenuhnya menghilang. Luka itu masih terasa sakit. Seperti saat ini.. Bertemu lagi dengan orang yang membuat luka itu. Eca merasa ingin menghilang dari dunia. Eca tidak lagi mau bertemu dengan orang itu.
tes
.
.
.
tess
.
.
.
Hujan perlahan turun membasahi bumi. Tidak beruntung? No.
Eca merasa sangat beruntung. Langit menemaninya menangis. Ia tidak sendirian. Langit bersamanya. Merasakan kesedihannya. Membantunya untuk setidaknya mengubur memori kelam yang mulai muncul.
*flashback*
"Ah.. Gue ngga peduli sama cewek kaya dia, Mar. Gue 'kan sayangnya sama lo. Ngga usah mikirin dia. Dia mah ngga ada apa-apanya dibanding lu. Dia murah, kok. Rayu dikit juga nanti baik lagi sama gue. Yang penting sekarang bukan gue sama dia. Tapi..... kita" ucap Calvin seraya tersenyum kepada Marui, wanita di sebelahnya yang adalah salah satu teman dekat Eca.