Bagian Dua

232 20 1
                                    

Jongin terus membatin, kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan berjawaban kosong. Ah, tak seharusnya ia berpikir sejauh itu, menjadi sosok yang tak pernah peduli dengan makhluk hidup lain di sekitarnya sudah menjadi kewajibannya sekarang.

"Ingin tau mengapa aku dipanggil Miss White?". Mata Soojung sesaat menelusuri tiap sisi ruangan sempit berukuran tiga kali empat itu. "Kurasa karena mereka sudah terbiasa menyebut wanita penggoda yang belum ditiduri dengan sebutan itu".

Ia tertawa perih dan mengempaskan tubuhnya di atas sofa dengan kasar hingga hampir merosot—bukannya terpental, secara garis besar sofa tersebut sudah terlalu tua dan rapuh untuk menahan beban.

"Tak usah dramatis," jawab Jongin datar. Ia membentangkan sebuah matras biru gelap di atas lantai karena merasa malam sudah cukup larut.

Soojung bergeming, sekaligus diam-diam melanjutkan pengamatannya pada tiap mili relief yang terpahat pada wajah pria itu, rahangnya yang tegas, bibir tipis berisi, dan pandangan tajamnya menawan—ciptaan Tuhan yang benar-benar indah.

Ia segera mengusap setetes air yang secara spontan menetes dari pelupuk matanya. Wajah di depannya adalah sebuah penggambaran sempurna terhadap yang setia membayangi benak Soojung tiga tahun lalu.

"Aku akan menikahimu, Klee". Pria kaya itu memasangkan selingkar perhiasan dengan berlian di tengahnya pada jari manis Soojung.

Janji telah digenggam kuat, cincin berlian itulah saksinya, sekaligus menjadi saksi bahwa Soojung menangis haru dengan tulus kala itu.

Maka hari itu Soojung mengelak palsu dengan sebuah ucapan yang menyatakan tak mungkin bilamana sebuah langit bersatu dengan bumi.

"Berhentilah merendahkan dirimu, sayang. Jangan berlebihan, bukankah sudah seharusnya milikku juga disebut milikmu? aku menginginkan hatimu, sangat membutuhkannya".

Mereka kembali tersenyum manis sekali. Si pria berani bersumpah jika tiap perkataannya memanglah dari hati terdalam, kekasihnya itu seorang wanita polos berbudi pekerti luhur dan sudah dikenalnya dengan sangat baik.

Namanya Kai, Kim Kai.

"Kim Kai," gumam Soojung pelan, sepenuhnya tak sadar jika dirinya sudah kembali dari lamunannya ke tanah bumi sekarang.

Jongin berpaling dari aktivitasnya, memandang lekat wajah Soojung dan menerka jika telinganya mulai tak bekerja dengan baik.

"Mungkin tak sedramatis dongeng, kadang aku berpikir betapa beruntungnya tokoh utama yang hidupnya berubah sekejap hanya karena bertemu sang pangeran". Soojung tersenyum getir, sesekali terkekeh. "Ah, tidak juga, bukankah cerita itu memang fiksi yang dilebih-lebihkan?".

Jongin melempar selembar kain tak tebal yang difungsikan sebagai selimut ke atas sofa. "Berhentilah omong kosong, perkataanmu sungguh membuatku tak peduli".

Sejeda kemudian, mereka tertidur paksa dengan hati yang dongkol serta rasa risih menggebu.

*****

Brukk!!
Tumpukan uang yang mulanya tertata rapi berubah sedikit berantakan ketika tangan Jongin menaruhnya di atas meja. "Seratus lima puluh ribu won, sebanyak itu nilainya".

"Lalu apa maumu?". Soojung masih sibuk mengepel lantai, membuat rumah ini terlihat jauh lebih baik dari kondisinya lima hari lalu. Ya, sudah lima hari sejak Soojung pindah kemari dan membersihkannya.

"Carilah tempat tinggal baru, maka itu sebanding dengan ini".

"Darimana kau mendapatkannya? mencuri?" tanya Soojung pedas. "Maaf, aku tak mau. Segera kembalikan uang itu". Ia tak memandang Jongin barang sedetik dan justru membelakanginya.

"Aku meminjamnya, tak usah kaupikirkan." Jongin menghela napas. "Pergilah!".

Air mata melesat dari pelupuk mata Soojung, meyakini keraguannya sendiri—bukti yang ada bahkan terlalu banyak untuk disangkal. "Aku tau". Air matanya menderas. "Itukah dirimu, Kai?".

Sunyi sejenak. Identitas Jongin sudah terbongkar, maka ia memutuskan untuk menjawab sekenanya.

"Jika ya, kenapa?".

Pergilah, Jung. Jangan biarkan aku mencintaimu lebih dalam.

"Semudah itukah kau melupakan dan meninggalkanku?". Kaki Soojung melemah, tubuhnya yang jatuh terkulai duduk di lantai. "Semudah itu, ya? meskipun aku hafal benar bagaimana gaya hidupmu, bagaimana caramu menata pakaian di lemari, atau bahkan kebiasaanmu meletakkan sikat gigi dengan posisi menghadap belakang?".

"Ya, seharusnya aku pergi". Soojung mengusap air matanya. "Bukankah kita impas sekarang? kejalanganku senilai dengan kau yang melukai perasaanku. Selamat tinggal, Kai". Ia tersenyum paksa sambil meraih barang-barangnya.

"Tunggu".

Soojung berjalan cepat ke arah pintu, hingga langkahnya terhenti karena Jongin menahannya.

"Lepaskan!". Gadis itu menepis genggaman Jongin dengan menutup matanya rapat, berharap air matanya enggan menetes lagi. "Tak seharusnya kau berjanji untuk melamarku saat itu. Aku tau, aku memang tak memiliki apa-apa, tetapi tak usah menyibukkan dirimu untuk merendahkan harga diri dan perasaanku, Kai".

"Dan aku juga tau, maaf, aku memang tak pantas untukmu. Bawalah uang ini, carilah pekerjaan dan pria baik yang mampu menafkahimu, serta tempat tinggal baru. Setidaknya uang ini cukup untuk satu bulan".

*****

Untuk Jung Soojung,
Aku sungguh menyesal telah meninggalkanmu. Tetapi ayahku pun juga melakukan hal yang sama kala itu. Perusahaan kami bangkrut, ayah membutuhkan dana besar untuk membiayai pengobatannya. Keluarga kami terjebak hutang dengan lintah darat, jumlahnya satu milyar won. Aku sebagai satu-satunya yang tersisa di keluarga kami, terpaksa bekerja menjadi porter bir dan berganti identitas. Maafkan aku, Jung. Aku sungguh mencintaimu dan merasa tak pantas menjadi pendamping hidupmu hingga aku berpura-pura menjadi orang lain. Sekali lagi maafkan aku. Jalani hidupmu dengan baik, dan apabila surat ini mampu menyentuh tangan indahmu, maka jiwaku sudah tenang disana.
Tertanda, Kim Kai.

Soojung membeku, angin dingin yang masuk dari jendela telah menembus hanbok hitamnya, merasuk jauh dalam hati. Setelah menyalakan dupa di meja, ia membungkukkan badan sebagai penghormatan terakhir di hadapan wajah Jongin. Wajah yang secara jelas terpampang pada fotonya.

Surat peninggalan itu dilipatnya, digenggam erat dalam tangannya yang mengepal oleh ribuan rasa bersalah dan mulai dibasahi keringat.

"Sayang, mari kita pulang," ujar pria berjas hitam di sampingnya. Sosok pria baik, yang selalu diimpikan Jongin supaya menjadi pasangan hidup Soojung kelak. Dan kini, mereka berdua sudah menikah dengan buah cinta mereka berdua menjadi kandungan Soojung selama enam bulan.

"Biarkan ia beristirahat dengan tenang," lanjutnya. Pria bertatapan sendu itu tersenyum, mampu membayangkan seberapa baik sosok Jongin sampai Soojung tertekan seperti ini.

Tetapi tau juga, tak seharusnya ia cemburu pada mayat yang akan dikubur beberapa hari lagi.

Ya, semoga ia beristirahat dengan tenang. Ia pasti bekerja terlalu keras hingga tak memedulikan kesehatannya, hingga ditemukan dalam kondisi kritis, sakit-sakitan parah tanpa seorangpun di sisinya. Mungkin sekarang memanglah waktu yang tepat untuk melepas penat.

Lagipula, ia juga sudah terlalu lelah menghadapi wanita sepertiku.
Kali ini aku takkan menyusahkanmu lagi. Selamat jalan, Kim Kai, dan berbahagialah bersama keluargamu disana.

–END–

Wth -_-
Wtf ><
No comment.

Helter SkelterTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang