"Aduhh!"
"Eh, maaf kak."
"Ya."
Kakak kelas yang tak sengaja tertabrak itu menjawab sekenanya kemudian melongos melewati adik kelasnya yang tertunduk karena merasa bersalah.
"Yailah.. Cantik-cantik tapi cuek." Cibir adik kelas tadi yang tak sengaja menabrak kakak kelasnya. Kini ia sudah tidak tertunduk lagi ketika kakak kelas tadi melewatinya dengan acuh. Ia lalu berjalan menyusuri lorong sekolah barunya untuk menuju ke ruang kelas di mana tasnya berada.
Hari terakhir Masa Orientasi Siswa tidak begitu melelahkan karena hari ini juga merupakan hari penutupan dimana ada pentas seni mini yang diadakan di aula sekolah hanya siswa baru beserta anggota organisasi siswa intra sekolah dan guru pembimbingnya yang ada di aula.
Penutupan hari MOS itu sudah selesai sejak tiga puluh menit yang lalu. Tapi bocah perempuan yang juga termasuk murid baru di sekolah ini masih ada di sekolah barunya hanya untuk sekedar melihat-lihat sekeliling sekolah.
Setelah mengambil tasnya, bocah perempuan itu berjalan ke arah gerbang untuk menunggu jemputannya. Tiga menit yang lalu, ia sudah menelpon ayahnya bahwa ia sudah pulang melalui telepon umum. Ayahnya mengatakan bahwa sepuluh menit lagi akan tiba disekolahnya.
Bocah itu bersandar di dinding luar sekolahnya. Jalanan saat itu ramai, membuatnya semakin ingin pulang. Suara bising dari klakson kendaraan serta bunyi deru mesin memenuhi telinganya. Sesekali ia melirik jam tangan lucunya yang melekat pada pergelangan tangan kirinya.
Sudah sepuluh menit. Batinnya.
Ia pun menoleh ke arah gerbang yang masih ramai dengan siswa-siswi di sana. Bertepatan dengan itu, keluarlah seseorang yang tadi dikerubungi banyak kakak kelas perempuan ketika pentas seni selesai. Seorang bocah laki-laki yang tadi sibuk meladeni para kakak kelas. Tak lama, ia pun mengalihkan pandangannya menuju jam tangan miliknya lagi. Lima belas menit.
Bocah laki-laki itu berjalan melewatinya dan berhenti beberapa meter dari tempatnya berdiri. Seperti ada magnet dari dalam diri bocah laki-laki itu yang mengharuskan siapa pun yang ada di dekatnya untuk menoleh ke arahnya, si bocah perempuan pun menolehkan kepala ke arah seseorang yang baru saja melewatinya dan mendapati dia sedang menelpon seseorang. Sekali. Pandangan mereka bertemu. Dengan gerakannya cepat si bocah perempuan mengalihkan pandangannya. Kemudan,
"Cantika!"
"Eh, iya, Yah!"
Sekali lagi, bocahperempuan yang dipanggil Cantika tadi menoleh ke arah bocah laki-laki itu.Beberapa detik kemudian ia mengangkat kedua bahunya acuh dan berpaling menujuke arah ayahnya berada. Bersama ayahnya, Cantika perlahan pergi meninggalkansekolah barunya.
~~~~~
Hope you'll enjoy it! Don't forget to vote and comment!
Sincerly,
Me
1 June '16
02:41 am(edited: May 5, 20 - 03:28 am)

KAMU SEDANG MEMBACA
CANTIKA
Novela JuvenilMenunggu itu emang gak enak, apalagi menunggu hal yang tak pasti. Tapi Cantika tetap setia menunggu Anta sejak lama dan tahan akan sikap dingin Anta. Suatu hari, Cantika mendapatkan hasil dari penantiannya yang panjang. Namun tak berlangsung lama...