Part 5

120 2 0
                                    

Menunggu sesuatu yang tak pasti itu belum tentu akhirnya menyedihkan. Karena sesuatu yang tak pasti itu bak sebuah misteri yang mempunyai banyak sekali kemungkinan yang tidak bisa dinalar oleh akal manusia.

Sudah seminggu sejak percakapan singkatku dengan kak rey, aku sama sekali tak pernah melihat dan berbicara dengannya. Berita yang aku dengar kak rey tengah berlibur dengan calon tunangannya. Tapi siapa? Tante ondel-ondel? Kemaren aku masih liat dia berkeliaran di lantai 1.

"Sebaiknya anda tidak melamun jika sedang bekerja". Sebuah suara mengintrupsiku untuk tersadar dari lamunanku. Aku terkejut ketika kak reyhan sudah duduk manis di kursinya dan yang membuatku lebih terkejut adalah beberapa luka yang ada di wajah tampannya.

"Bisa ambilin kotak P3K?". Tanya kak reyhan yang kujawab dengan sebuah anggukan kecil.

"Biar saya yang obatin".

"Tidak perlu saya masih punya tangan sendiri".

Kak reyhan mengambil alih kotak P3K dan mengobati lukanya

"Sepertinya anda kesusahan mengobatinya sendiri".

"Gue bilang gak usah ya gak usah! Lo itu tuli budeg apa nggak ngerti bahasa manusia sih?".

"Sorry dori stroberi aja ya om, gue cuma mau bayar yang tempo hari. Gue gak mau utang budi sama lo".

Kurebut kapas yang berada di tangannya dan membersihkan lukanya dengan sesegera mungkin

"Dasar keras kepala". Cibirnya pelan

"Biarin yang keras kepala juga gue lagi, kenapa lo yang repot?".

"Karna gue mau lo jadi pacar gue".

Aku hanya terbengong-bengong dan menatap kak reyhan tak percaya

"Dan gue nggak mau denger penolakan dari lo". Lanjutnya

"Idih mana bisa pacaran kok maksa". Kupasang wajah sejutek-juteknya

"Nggak ada penolakan, jadi sekarang kita pacaran titik".

"Up to you".

"Yaudah duduk sana, bentar lagi pasiennya dateng. Dan nggak ada lo gue, adanya aku kamu. Paham?". Aku hanya memutar bola mata dan duduk di kursiku

@@@

Kulirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku yang telah menunjukkan pukul 16.45. itu artinya 15 menit lagi aku bisa pulang.

"Selamat sore dokter". Sapa seorang wanita paruh baya

"Sore, silahkan duduk bu". Dan ibu itu duduk di depanku

"Dokter baru ya?". Tanya ibu itu berbinar

"Saya cuma pelatihan saja disini".

"Padahal saya lihat aura dokter cocok dengan aura dokter rey, mungkin kalian jodoh".

Ibu itu melayangkan tatapannya pada kak rey dan yang ditatap hanya senyum seadanya.

"Hehe, ibu ada keluhan apa?". Kucoba untuk mengubah topik pembicaraan sebelum merembet kemana-mana

"Saya mau cabut gigi geraham saya yang belakang, kalo buat makan yang manis-manis rasanya sakit". Keluh ibu itu

"Mari saya periksa". Aku mempersilahkan ibu itu untuk berbaring diatas dipan

@@@

Kuregangkan otot-ototku yang kaku."Pulang bareng aja". Suara kak rey memecah keheningan

"Nggak usah, aku mau jalan-jalan dulu sama anak-anak".

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 06, 2016 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

MY BELOVED DOCTORTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang