Berawal Dan Berawal Lagi Di Taman Ini

128 13 4
                                    

Sore ini --lebih tepatnya dua hari setelah kejadian memalukan di taman waktu itu--, Ghea kembali mendatangi taman. Ya, taman dekat rumah yang biasa ia kunjungi demi menunggu orang itu beberapa hari lalu.

Ghea tahu ia telah mengingkari janjinya sendiri untuk tidak datang ke taman itu lagi. Namun suatu hal penting membuatnya rela untuk menginjakkan kaki di sana cukup lama.

Kameranya...

...tertinggal...

...di bangku taman.

Sekali lagi. Kamera kesayangannya yang merupakan hadiah juara umum dari orang tuanya tersebut tertinggal di bangku taman.

Gara-gara panik, ia meninggalkan kameranya sembarangan saat ia tertangkap basah sedang memotret orang itu. Dan sekarang, ia menyesal.

"Ya ampun, ceroboh banget, sih!" rutuknya, pada dirinya sendiri.

Ghea berjalan tergesa-gesa menuju bangku tempat ia biasa duduk. Ia mencari kameranya di sekitar sana, bahkan Ghea rela lututnya sedikit kotor sebab menempel dengan rumput saking serius mencari.

Ghea tidak peduli kalau orang-orang menganggapnya aneh atau bahkan gila. Yang terpenting adalah; kameranya dapat ditemukan!

Setelah mencari di sekitar bangku taman --bahkan ke sisi taman yang lain yang cukup jauh dari tempat ia meninggalkan kameranya-- dan tetap tidak menemukan hasil yang baik, Ghea terduduk lemas di atas bangku yang biasa diduduki orang itu tanpa sadar.

Ghea menundukkan kepalanya. Ia benar-benar sedih sekaligus kesal atas kecerobohannya. Bisa-bisanya aku ninggalin benda sepenting itu di taman, batinnya.

Pikirannya terlampau jauh ke berbagai kemungkinan.

Pertama, kameranya diambil orang dan ternyata orang itu adalah orang jahat. Ia tidak mau mengembalikan kamera Ghea dan malah berniat menjualnya.

Kedua, kameranya diambil seseorang yang berhati mulia untuk berusaha mengembalikan kepada pemiliknya karena ia tahu, itu bukan haknya.

Ketiga, kameranya dianggap sampah oleh petugas kebersihan sehingga dibawa truk sampah menuju tempat pembuangan sampah sementara.

Di kala pemikiran-pemikiran itu menghampiri otak Ghea, sebuah tangan menjulur dari atas kepalanya sambil menggenggam sebuah benda yang sangat Ghea kenali.

Kameranya!

Ghea merebut kameranya dari tangan orang itu dengan cepat, lalu memeluknya sambil mengusap-usap badan kamera dengan sayang. Perilaku Ghea layaknya seorang Ibu terhadap anak bayinya.

Di tengah keasyikannya memeluk kamera, terdengar kekehan seseorang di sebelahnya.

Ghea menoleh ke arah orang itu. Ia terkesiap karena orang di sebelahnya itu ialah laki-laki berkacamata dengan hidung mancung dan tubuh atletis.

Ghea menahan nafasnya, salah tingkah. Tidak salah lagi! Orang itu... Orang yang selalu Ghea tunggu di taman!

Orang itu yang sadar sedang diperhatikan Ghea dengan intens seketika menghentikan tawanya dan ikut menatap Ghea.

Mata mereka bertemu.

"Hai," sapa orang itu, berusaha santai walau terlihat kikuk.

Ghea memaksakan senyum. "Hai... Ja-jadi, kamu yang nemuin kameraku?" tanya Ghea, terbata-bata.

Orang itu mengangguk. "Iya. Kamu, sih, langsung lari aja pas aku senyumin."

Ghea menggigit bibir bawahnya pelan. Sungguh, ia benar-benar salah tingkah!

"By the way, foto-foto jepretan kamu bagus-bagus semua."

Secara refleks Ghea memelototkan kedua bola matanya. "Kamu lihat gallery foto di kameraku?!" pekik Ghea, terkejut.

"Iya..." ucapnya. "Semuanya."

Pipi Ghea memanas. Warna merah mulai menghiasi pipi kanan dan kirinya. "Ka-kamu..."

Orang itu menyunggingkan cengirannya yang sama sekali tidak merasa bersalah. "Maaf kalau aku lancang. Apalagi, aku nambahin satu foto di kamera itu. Sorry, ya, kalau kamu marah."

Mendengar itu, Ghea bergegas membuka gallery fotonya. Ia melihat foto terakhir dan matanya terbelalak saat menangkap sebuah foto yang berisi gambar dirinya di buku sketsa milik orang itu.

Ghea cukup tercengang. Dan ya... lagi-lagi, Ghea kembali blushing.

Orang itu tersenyum manis ke arah Ghea. "Aku gambarin ini buat kamu. Semoga suka, ya," ujarnya, sambil memberikan selembar kertas berisikan sketsa wajah Ghea yang sudah diberi warna dengan komposisi yang pas -sama dengan foto di kameranya.

Ghea menerima kertas itu dengan perasaan berbunga-bunga. Ia balas tersenyum malu-malu.

"Makasih."

"Sama-sama," balas orang itu. Ia menjulurkan tangan kanannya, bermaksud menjabat tangan Ghea. "Umm... namaku Ryan."

Ghea membalas uluran tangan Ryan dengan tulus. Segalanya dengan Ryan berawal dan 'berawal lagi' di sini. Di taman ini, batin Ghea.

"Aku Ghea."[]

Ckrik!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang