1

3.3K 170 14
                                        

YUNA'S POV

"YA! Apa kau gila? Hanya karena ada laki-laki itu lantas kau ingin melepas kesempatan emas ini?" Jung Eunha melebarkan kedua bola matanya dan melotot kearahku

"YA! Apa kau gila? Hanya karena ada laki-laki itu lantas kau ingin melepas kesempatan emas ini?" Jung Eunha melebarkan kedua bola matanya dan melotot kearahku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Wanita itu pun mengeluarkan suara melengkingnya, sehingga membuatku sedikit malu karena beberapa orang di dalam kafe ini melihat kearah kami.

"Kalau begitu kau ingin aku bertemu dengannya setiap hari dan memanggilnya Sajangnim? Tidak mau! Membayangkannya saja sudah membuatku ingin segera menolak tawaran bekerja di perusahaan itu!" Jelasku

"Yuna ya..." Eunha memelankan suaranya kemudian menatapku tajam

Aku tak mempedulikannya dan terfokus pada iced cappucino yang sedari tadi kuaduk.

"YA! CHOI YUNA!" Teriaknya untuk kedua kali dan kembali membuat orang disekeliling kami kembali melemparkan tatapan tajam

"Ah waeee?" Jawabku dengan sedikit emosi

"Kau benar-benar akan menyerah begitu saja? Mimpimu? Bagaimana dengan mimpimu itu?" Pertanyaan yang selama ini aku takutkan pun keluar dari mulut sahabat mungilku ini

"Seribu laki-laki seperti dia bahkan tak pantas membuatmu menyerah begitu saja." Eunha meyakinkanku

" Eunha meyakinkanku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Eunha ya..." Sahutku lirih

"Aku hanya takut menjadi Yuna yang bodoh untuk kedua kalinya." Tambahku berhasil membuat Eunha terdiam

-------------

Aku segera beranjak dari tempat tidurku, sedikit bermanjaan dengan selimut serta kasur ini sebelum akhirnya terdiam saat ternyata Eunha sudah memandangiku dengan spatula yang dipegangnya.

Kami memang sudah terbiasa mandiri. Orang tua kami berada di luar negeri. Appa kami adalah rekan kerja disalah satu perusahaan Korea di Amerika.

Mereka memberikan hadiah sebuah apartement untuk kami tempati berdua karena kami sudah bersahabat sejak kecil.

Sehingga sudah hampir setengah hidup ini telah aku  habiskan bersama gadis imut dengan seribu aegyo ini.

"Neo...gwencanha?" Tanyanya polos seperti terheran dengan kebiasaanku bangun dipagi hari bak putri di cerita dongeng, namun terlihat aneh karena selalu menepuk kedua tanganku dan mengigau

LOVE IS PAINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang