Taman tak Bernama adalah buku yang berisi 10 kumpulan cerpen terbaik yang ditulis oleh Fileski. Untuk pemesanan buku ini bisa langsung hubungi:
Email: fileskifileski@gmail.com
Twitter: @fileski_
Facebook: Fileski
Instagram: Fileski
Telp/Sms/Wa +6288...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Yono berubah menjadi kucing setelah dikutuk ibunya yang murka. Ia akan kembali menjadi manusia jika menemukan pasangan sejatinya.
Di rumah sederhana itu, hanya ada dua orang yang tinggal. Bu Biar dan anak semata wayangnya, Yono. Suami Bu Biar yang bernama Pak Joko, yang juga merupakan bapak dari Yono, telah lama meninggalkan mereka karena sakit. Pak Joko meninggal dunia sejak Yono duduk di bangku kelas enam sekolah dasar.
Untuk menyekolahkan Yono, sehari-hari Bu Biar berjualan makanan di warung. Pelanggan Bu Joko biasanya sopir taksi, sopir bus, sopir truk, sopir bemo, tukang ojek, tukang becak, hinggga pegawai terminal. Maklum, warung itu berlokasi di sekitar terminal dan dekat dengan pasar.
Yono setiap hari membantu ibunya berjualan di warung. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan di warung daripada kongko dengan teman-teman sekampungnya. Hingga pada suatu ketika, Yono meminta doa restu ibunya di pagi buta, untuk berangkat melamar kerja.
"Bu, aku pamit berangkat interview kerja. Doakan anakmu supaya diterima," ucap Yono sambil memasang sepatu di kedua kakinya.
"Kamu melamar kerja di mana?" tanya Bu Biar.
"Anu, perusahaan baru buka, belum tahu apa, di koran infonya gajinya bisa sampai puluhan juta. Coba-coba aja siapa tahu rezeki," jawab Yono seraya berdiri dan menyium tangan ibunya.
"Ya nak, ibu doakan supaya kamu diterima, dapat kerja yang gajinya puluhan juta buat beli rumah. Masa dari dulu ngontrak terus," ujar Bu Biar.
"Ya Bu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Sampai di lokasi tempatnya melamar kerja, Yono menunggu giliran dipanggil untuk wawancara. Sudah satu setengah jam menunggu, namun ia belum dipanggil juga. Terlihat para pelamar kerja yang juga menunggu dengan raut wajah berbeda-beda. Yono mengamatinya, ada yang sumringah, ada yang masih ngantuk, dan ada yang jenuh menunggu lama.
Tiba-tiba terdengar suara riuh dari lantai atas kantor itu. seperti suara tepuk tangan bergemuruh diiringi yel-yel. Yono sedikit terkejut dan bertanya-tanya, suara apa gerangan. Mengapa suara itu lebih mirip suporter pertandingan olahraga daripada para pekerja kantoran. Tak lama kemudian, suara itu menghilang. Berganti dengan langkah-langkah kaki yang berjalan turun menuju lantai satu dan masuk ke sebuah ruangan.
Tak ada panggilan satu persatu untuk para pelamar yang sudah menunggu. Yang ada, Yono dan pelamar lain yang berjumlah belasan itu dipanggil bersamaan untuk masuk ke dalam ruangan yang sama. Di ruangan itu, sudah berkumpul banyak orang, jumlahnya belasan pula. Mereka membentuk kelompok masing-masing tiga orang, dan Yono pun masuk ke dalam salah satu kelompok. Yono kebingungan, mengapa tidak ada wawancara kerja, tahu-tahu dia sudah di-briefing untuk menjual produk. Ya, produk alat-alat kesehatan. Seperti alat pemijat, pengecil perut, dan lain sebagainya.
Yono kebingungan, kini ia sudah berada di dalam mobil dan menuju suatu tempat. Ia mulai diliputi rasa takut, karena apa yang terjadi tidak sesuai apa yang ia gambarkan sebelumnya. Tibalah Yono dan dua orang lain ke suatu perkampungan. Satu orang laki-laki merupakan orang kantor tempat Yono melamar kerja, satu laki-laki yang lain merupakan pelamar kerja. Rupanya Yono diajak berputar keliling kampung. Padahal ia sudah memakai pakaian rapi lengkap dengan dasi dan sepatu pantofel hitam mengkilat hasil disemir. Yono diajak masuk ke rumah warga yang terlihat berduit, di dalamnya pegawai kantor yang membawa Yono dan pelamar lain mulai melakukan aksi, yakni menawarkan alat kesehatan.