Yuu vote dulu😘
"Kenapa kamu selalu bikin masalah, Issa!" Issa memejamkan matanya sembari menghela nafas berusaha meredam amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun. Dia tidak habis fikir kenapa orang tua yang ia miliki satu satunya ini selalu memarahinya, memakaki-makinya, apapun yang Isa perbuat selalu salah di mata pria yang masih gagah dengan seragam kebesarannya itu.
"Dia yang mulai."
"Jangan mengelak!" satu tamparan berhasil mendarat dengan keras di pipi Isa. Tidak, ini yang kedua.
Issa menggertakan giginya. Tamparan ayahnya ini memang sangat menyakitkan. Ia menyunggingkan senyum sinisnya. Ia memang sudah terbiasa dengan hal-hal seperti ini. Ia bahkan sudah kebal dan tidak membuat dirinya goyah sama sekali.
"Udah?" pria atau yang lebih layak disebut ayah dari Issa ini tidak bergeming. Apa Issa tidak merasa kesakitan setelah menerima cacian dan makian yang ia lontarkan sedari tadi? Itulah yang difikirkannya. Ia berbalik dan berjalan berniat meninggalkan Ruangan ayahnya yang seorang direktur Q company dan rumahnya ini.
"Ubah kebiasaan buruk kamu. Berhenti jadi orang yang mudah emosi." lalu kembali mengatakan
"Maafin ayah..." dua kalimat itu berhasil membuat langkah Isa terhenti.
Issa terkekeh "Bukannya ayah juga gitu? Issa cuma ngikutin ayah." ayah wira hanya bisa tersenyum getir. Sampai kapanpun Anak itu akan membencinya."Hari ini ayah ada urusan bisnis ke manado. Ayah gatau kapan ayah balik lagi ke jakarta. Ada proyek yang harus di selesaikan."
Setelah merasa ayahnya itu selesai berbicara. Issa kembali berjalan dan membuka pintu dengan gusar. Ia keluar dari rumah, mengambil kunci motor dalam kantung celananya lalu menancap dalam gasnya setelah sebelumnya menderum-derum pedal gasnya dengan sengaja.
Otaknya tau kemana dia akan pergi. Rumah Adit. Sangat texas. Orang tua adit yang sangat sibuk membuat Adit, Issa dan Gaga memutuskan kamar adit sebagai basecamenya mengingat kamar Adit sangat luas terdapat sofa, playstation, dan lainnya membuat mereka betah disini. Sebenarnya kamar Issa lebih dari ini. Tapi Issa lebih menyukai kamar Adit.
Mulutnya masih merutuki pria musuh bubuyutannya di SMA Nusantara. Zikra. Dulunya mereka berteman baik. Sebelum seorang wanita masuk dalam persahabatan mereka dan merusak segalanya. Itulah alasan mengapa issa selalu mempermainkan wanita. Menurutnya wanita hanyalah mahluk cantik yang diciptakan untuk disakiti.
Issa pribadi yang pendiam. Dalam artian membenam masalahnya sendiri. Menurutnya tidak akan ada orang yang mengerti bagaimana rasanya merasakan apa yang sedang ia rasakan. Kecuali 2 sahabatnya itu.
"Bangsat!" Issa melempar kunci motornya diatas meja. Kedua sahabatnya sudah menunggunya sedari tadi.
Issa menghempaskan bongkongnya di sofa. Di samping Adit, dan Gaga bersebrangan dengan mereka berdua.
"Harusnya gua matiin tuh anak. Nyari gara-gara mulu sama gue." ujarnya pelan namun penuh penekanan. "Motor jadi di sita mamah. elo sih, sa!" ujar Gaga. Adit yang sibuk memperhatikan mereka berdua hanya menggeleng. Memang Adit-lah yang memiliki sifat paling dewasa diantara Gaga dan Adit.
Awal cerita. Tadi pagi Issa sudah mengumpulkan niatnya yang sudah ia tanamkan dihari-hari sebelumnya. Ia tipe cowo yang sangat enggan untuk mendatangi tempat yang bernama sekolah.
Ia membuka pintu kelas yang tertutup dengan seperlahan mungkin untuk tidak menghasilkan suara ketika dilihatnya wanita tua yang di sebut guru itu sedang menulis di papan tulis. Issa berjalan mengendap dan semua mata tertuju pada Issa. Karena ia sangat jarang sekali sekolah , bisa dibilang hanya 2kali dalam seminggu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Issa & Bella
Teen FictionMencintai Bella mungkin hal yang paling Indah dalam hidup Issa. Mencintai Bella juga mungkin hal yang paling rumit baginya dimana ia mati-matian melindungi gadis polos itu dari kenakalan dunia. Begitupun bagi Bella. Mencintai Issa seperti penenang d...