Entah bagaimana tampang Dito hari ini, kala bertandang ke rumah Clara bersama kedua orangtuanya untuk makan malam bersama di kediaman orangtua gadis itu sekaligus membahas kelanjutan rencana pertunangannya dengan Clara. Yang pasti, wajah Dito teramat kusut dan datar tanpa ekspresi.
Sepulang sekolah, Dito diberitahu oleh maminya yang dengan tegas memerintahnya agar segera bersiap-siap untuk ikut dalam acara itu.
Tentu hal itu membuat Dito tak bisa menolak perintah sang mami. Selain karena tidak ingin bertengkar, Dito juga berencana untuk menolak pertunangan itu serta berniat memutuskan Clara seperti janjinya pada Alta seminggu yang lalu.
Dan sekarang, dengan tampang yang tak kalah kusut dari sebelumnya, dia menyantap hidangan yang disajikan di atas meja tanpa selera. Semua terasa hambar di lidahnya. Wajah cantik Clara yang dipoles make up tipis juga tak membuatnya tertarik bahkan terpesona. Kembali hanya tatapan datar tanpa minat yang dia tunjukkan pada gadis itu.
Sementara itu, di balik senyuman manis yang selalu tersungging di bibir Clara, ada jutaan pisau belati yang siap menghunus Dito jika niat anak itu benar-benar terlaksana. Hanya saja, Dito tak menyadari sejuta ekspresi di balik sikap anggun gadis itu.
"Ngomong-ngomong, Nak Clara bisa ajak Dito keliling-keliling rumah nggak? Biar dia betah kalau mau main-main ke sini!"
Kalimat bernada pertanyaan sekaligus perintah itu langsung dijawab dengan anggukan penuh semangat oleh Clara. Gadis itu juga tersenyum lebar pada Wanda dan sangat menyetujui ide tersebut.
"Bisa dong, Tante. Clara malah seneng banget," jawab Clara kelewat sopan dan manis.
"Jeng Wanda nggak usah khawatir, Dito nggak akan bosen kalau main ke sini. 'Kan ada Clara yang nemenin," jawab Jeng Lia--mama Clara.
Dito ingin sekali memutar bola matanya mendengar jawaban mama Clara. Tapi sayangnya dia tidak mungkin melakukan hal itu karena sudah pasti akan terlihat sangat tidak sopan jika melakukannya di depan para orang tua.
"Sayang, sana temenin Clara ngobrol sambil lihat-lihat rumahnya!" perintah Wanda pada Dito.
Dengan malas, Dito bangkit dari duduknya lalu berjalan mengikuti Clara keluar dari ruang makan menuju halaman belakang rumahnya yang terdapat taman besar dengan sebuah gazebo di tengahnya. Tak lupa juga ada sebuah kolam renang mini di depannya.
"Kamu kenapa sih? Dari tadi cemberut mulu?" tanya Clara. Gadis itu memilih untuk mengajak Dito duduk di gazebo yang mengarah pada air kolam yang tenang.
Dito diam tak segera menjawab. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans-nya. Hari ini dia datang dengan kemeja slimfit hitam polos yang lengannya digulung sampai siku, dipadukan dengan skinny jeans berwarna hitam. Dan semakin dipermanis dengan sepatu casual berwana senada. Sebuah bracelet melingkar di lengan kirinya dan jam tangan Armani di lengan kanannya.
Dito terlihat tampan dengan setelannya malam itu. Tidak terlalu formal tetapi masih pantas digunakan untuk acara makan malam bersama orang tua.
"Aku mau kamu batalin rencana pertunangan kita!" ucap Dito mencoba setenang mungkin dengan pandangan tetap lurus ke arah kolam renang.
Dito tak ingin melihat Clara yang saat itu mengenakan dress selutut tanpa lengan dari bahan chiffon berwarna peach. Wajah Clara nampak pucat mendengar ucapan Dito. Make up tipis yang dipoleskan di wajahnya juga tak mampu menutupi rasa terkejut sekaligus marah pada ekspresinya.
Clara mencengkeram iPhone yang sejak tadi berada dalam genggamannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa?" tanya Clara dengan tatapan tajam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Between You and Us
Romans[SELESAI] __________________________ Altavian Danish, tak pernah membayangkan jika ia akan dipertemukan lagi pada satu kesempatan dengan sosok laki-laki tampan yang dicintainya itu setelah sekian tahun. Anindito Mahawira, cin...
