BAB 2

105 73 85
                                    

"AL BANGUNNN! INI UDAH JAM BERAPA COBA, LO GAK MAU SARAPAN?"

Mentari nan menyilaukan menelusup bagaikan mata pedang yang menancap tepat sasaran. Biasanya di saat seperti ini banyak orang meluangkan waktu weekendnya untuk menghabiskan beberapa kegiatan yang tidak mungkin bisa dilakukan di hari lain. Berbeda dengan Alta yang tidak mengindahkan ajakan sang pusat tata surya. Pengecualian bagi pemilik suara sumbang yang sangat ia kenali ini.

"HOAAMMM.. Emang udah jam berapa?"

"Lo lihat tuh dah jam berapa." Alta mengucek-ngucek matanya yang masih terkatup rapat.

"Pasti baru jam 7."

Ratna heran dengan sikap adiknya seperti ini. "Lo buta angka ya Al?"

"Baru kali ini Al dengar ada penyakit buta angka. Yang Al pelajari hanya buta warna. Wah berarti penyakit ini perlu diteliti dah."

"Astagfirullah. Lo ternyata gak melek-melek ya?" Ide cemerlang tiba-tiba terbesit di kepala Ratna. Segera saja ia mengambil ponsel dan segelas air. Langkah pertama yang dilakukan Ratna : buka instagram. Langkah kedua : menyiapkan segelas air

"Hai guys, kalo lo sering nemuin orang yang susah banget dibangunin dan kalo teriakan paling kencang lo nggak mempan, ikuti langkah berikut ini. First..." Ratna mengacungkan jari telunjuknya ke arah ponselnya. "Siapkan barang berikut ini."

Segelas air telah dipegangnya kemudian diteguk namun air tersebut tidak dialirkan ke dalam kerongkongan melainkan ditahan dalam mulut hingga pipi Ratna menggembung. Alta yang tidak menangkap suara Ratna mulai menggeliat dan saat ingin mengembangkan kelopak matanya..

FYURRT

"Kyaaa! Are you kidding ?" Teriak Alta yang refleks bangkit dari tidurnya.

"Guys, lo lihat sendiri kan ternyata cara ini sangat ampuh. Vlog gue ini kagak ada rekayasa sama sekali.
So, let's practice my method. Sekian dulu vlog gue hari ini. Jangan bosan-bosan mampir liatian gue live. Byebye." Kiss bye dari Ratna merupakan penutup dari livenya tadi di instagram. "Gimana lebih segereran kan?"

"Segeran apanya? Ini air disemburin dari gelas kan?" Alta waswas ketika melihat Ratna memperlihatkan senyum kucing yang tercetak di wajahnya. "Jangan-jangan ini dari mulut noona dan giginya belum disikat kan?"

"Lo tau kan kalo gue orangnya bersih banget. Tapi menu sarapan hari inikan bubur ayam. Kemungkinan sisa ayam yang gue makan nyangkut di sela gigi dan.." Ratna mulai beranjak mundur ketika memperhatikan Alta sudah melancarkan serangan yang tak main-main.

NOONAAAAAAA.....

---

Di sepanjang perjalanan, pemilik kedua bola mata hitam legam itu tiada henti berdecak kagum dengan lukisan yang diwujudkan sang maha pencipta pada kanvas nyata ini. Uluran tangan dari jendela mobil seolah ajakan semesta untuk bergabung bersama mengikuti irama angin yang berombak tidak keruan. Hingga suara Ratna menggeletar kesunyian di dalam mobil.

"Al lo ingat kalo bentar pulang lo yang bawa mobil." Gertak Ratna yang sedang memegang kendali setir.

"Tau ah! Ternyata ada alasan tersembunyi di balik ini semua." Lirikan tajam bak elang tertuju pada Ratna.

"Ya elah, gue kan udah janji ke dunkin kan?"

"Tau begini lebih baik Al bersemedi dalam rumah."

"Biasanya kalo orang bersemedi, kagak ngancurin seisi rumah kale." Ratna melirik Alta yang bungkam seribu bahasa. "Pokoknya gue mau elo yang nyetir pas pulang titik."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 16, 2017 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Why?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang