BAB 1

157 89 121
                                    

Diberitahukan kepada penumpang Garuda Airlines dengan nomor penumpang 13FE4 atas nama Altara Andara untuk segera datang karena pesawat akan take off dalam waktu 10 menit.

Pemberitahuan itu bagaikan masuk lewat telinga kanan lalu keluar melalui telinga kiri. Saat ini Alta atau yg sering disapa dengan panggilan Al kini sedang sibuk dengan mata jelalatan mencari sesuatu. Spot demi spot telah ia kunjungi namun apa daya sepertinya ia tak berhasil.

"Bodoh! Masa gak ada sih?"Alta kini kebingungan dengan apa yang telah ia lakukan. Ponsel di saku celana yang sedari tadi bergetar tanpa henti, ia abaikan begitu saja.

"Seandainya aja gue punya jam yang bisa di atur ulang.."Tiba-tiba ia ingat tempat terakhir yang ia datangi sebelum ia duduk di ruang tunggu. Dengan tergesa-gesa ia berlari menuju tempat tersebut.

"Mbak, ada lihat buku yang ketinggalan disini? Tanya si Alta kepada mbak café yang sedang mengelap meja yang dan dibalas dengan wajah bingung.

"Sebentar ya, saya tanyakan dulu ke teman lain." Kemudian mbak café ini menanyakan barang yang diincar si Alta oleh rekan kerjanya. Tak lama berselang si mbak membawa buku bersampul kulit berwarna cokelat ke hadapannya.

"Yang ini ya dek?"

"Iya! Ini yang saya cari daritadi. Makasih ya mbak!"

"Oh! Ini ada lagi barangnya dek. Lain kali jangan teledor kayak gitu lagi dek. Kalau ni satu barang ilang kan sama saja kayak adek bakar gaji bulanan saya."Alta tertawa kecil dengan apa yang baru saja ia dengar. Si mbak menyodorkan barang apa yang membuat Alta agar lebih hati-hati.

"Makasih ya mbak, terutama sarannya. Saya pamit dulu, daritadi tuh toa manggil nama saya terus." Alta pun berdadah ria dengan mbak café. Dengan segera ia melangkahkan kakinya untuk menjauh dari café tersebut. Namun langkahnya terhenti ketika getar hp yang terus ia rasakan di saku celananya.

"Bentaran dong! Lagi otw ke situ." Alta memutuskan hubungan telepon. Segera saja ia kerahkan seluruh tenaganya untuk berlari dan akhirnya ia naik dan masuk ke dalam pesawat.

Semua mata tertuju padanya setelah apa yang telah ia perbuat. Dari sorot mata mereka saja Alta dapat menebak bahwa mereka kesal dan rasanya ingin menerkam habis-habisan dirinya.

"Halo" sapa Alta kepada penumpang yang duduk di pojokan jendela yang kedua matanya di hiasi oleh kacamata ribben dan ternyata duduk bersebelahan dengannya.

"Lo gak usah duduk! Lesehan aja di situ!" Balas si penumpang dengan tatapan menuju ruas jalan dalam pesawat seolah-olah ia menyuruh Alta untuk lesehan di situ.

"Enak aja. Di kira gue kecoak apa?" Sontak membuat semua penumpang tertawa kecil karena kalimatnya tersebut.

"Kalo gak mau ya sudah, lo angkat kaki dari sini!"

"Eh, kok jadi gini sih? Jangan gitu dong. Kita kan sama-sama bayar tiket."

"Enak aja! Lo bilang apa? Kita sama-sama bayar?" Kemudian si penumpang yang seharusnya duduk bersebelahan dengan si Alta melepas kacamatanya. Alta terbelalak ketika tahu siapa penumpang yang di sebelahnya.

"Eh noona. Kirain siapa. Maafin Al ya noona, maksud Al gak kayak gitu kok."

"Dasar nih bocah, emang lo dari mana aja sih? Lo emang pengen gue cepat mati ya?"

Diberitahukan kepada seluruh penumpang untuk segera memasang sabuk pengaman yang telah tersedia di setiap kursi karena kami akan take off

"Permisi mbak pramugari. Saya penumpang atas nama Alta Andara tidak diizinkan untuk...." dengan segera Ratna, noona nya Alta menarik tangan Alta untuk duduk di kursinya. "Noona, gomawo." balas si Alta dengan senyum kemenangan yang terukir di wajahnya.

Why?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang