"Ki... Kita selamat!". Kata Asai yang masih menggendong Ishikura, lalu mereka terjatuh bersamaan. Asai melihat isi rumah itu, dan ia melihat sebuah telepon rumah. Asai berdiri lalu mengangkat badan Ishikura dan menyandarkannya ke tembok.
Asai pergi menuju telepon rumah itu lalu ia mengecek kantong celanya, dan ia menemukan dua koin 10 yen dan memasukkannya ke dalam telepon rumah itu dan menekan tombolnya.
"Halo, ini rumah persinggahan no.3 gunung Owari... ya, itu benar. Yang terakhir... yang paling atas lereng... iya! Kami terjebak dan ada yang terluka... Tidak bisa turun gunung sendirian... Betul. " Kata Asai yang Sepertinya sedang menelpon Regu penyelamat.
"Kami tidak bisa kesana malam ini... Badainya cukup keras dan sudah hampir malam... Mungkin besok atau lusa... Laporan cuaca untuk besok juga buruk... mungkin akan makan waktu 2 hari... Bisakah kalian bertahan selama itu?" Kata regu penyelamat itu.
"Baik!" Jawab Asai.
"Yang pasti, besok pagi... Kami akan kabari apakah kami bisa menjemput kalian atau tidak. Lalu.. tut.. tut..tuutt..." Kata Regu penyelamat itu yang tiba-tiba koneksinya terputus akibat badai salju.
Asai meletakkan gagang teleponnya ketempatnya.
"Aku ingin menjelaskan situasinya sedikit lagi... tapi tak ada yang bisa kulakukan dengan hubungan yang terputus... Setidaknya, aku sudah informasikan detail minimumnya, lokasi kami... bahwa kami terjebak dan ada yang terluka..." Kata Asai berbicara di dalam hati.
"Ishikura!" Kata Asai sambil melihat Ishikura. Ishikura yang sedang membelakangi Asai tak menghiraukan.
"Jangan khawatir, mereka akan segera ke sini begitu badainya berhenti. Hanya saja tidak hari ini, karena badainya tidak akan reda sampai 2 hari kedepan. Tapi... mereka pasti akan datang. Kita akan selamat...!" Kata Asai yang sangat gembira. Ishikura yang sedang memeriksa kondisi kaki kirinya yang terluka hanya menjawab "Begitu...".
Asai yang mendengarnya langsung terdiam, lalu ia melanjutkan perkataannya.
"Tenang saja. Kita akan baik-baik saja di sini. Kita punya cukup makanan dan tidak akan mati beku... Kita bakal bisa melewati ini!" Kata Asai.
"Begitu..." Lagi-lagi Ishikura menjawab seperti itu.
"Ishi..." Kata Asai yang tiba-tiba terdiam saat ia melihat wajah Ishikura dari cermin yang ada di depan Ishikura, wajah Ishikura terlihat seperti wajah penyesalan.
"Apa mungkin...!!" Kata Asai berbicara dalam hati.
"Pengakuan yang dia berikan padaku di saat dia sekarat..." Kata Asai yang masih berbicara didalam hati, lalu ia menatap wajah Ishikura dari balik kaca, dan... ia melihat Ishikura sedang memperhatikan Asai lewat cermin. Asai langsung mengalihkan pandangannya.
"Dia menyesalinya... Ishikura... Jelas sekali dia menyesali pengakuannya... Pengakuan yang terlanjur dia katakan padaku... Apa yang harus kulakukan? Kita tidak bisa membiarkannya seperti ini...!" Kata Asai berbicara dalam hati sambil merebus air dengan kompor yang berada di depannya. Asai memperhatikan Ishikura yang sedang merendam kakinya yang sakit di dalam air panas sambil membasuhnya.
"Apa yang kau pikirkan, Ishikura…? Apa kau berpikir aku akan memberitahukan orang lain tentang apa yang telah kau katakan padaku? Tidak... Tidak... Tidak... Aku tak 'kan pernah memberi tahu seorang pun! Akan kubawa rahasia itu kedalam kubur! Aku tak 'kan pernah mengatakannya! Tak 'kan pernah!! Aku... Tak 'kan pernah mengatakannya... Tapi... Tapi... Tak masalah kalau dia cuma menyesalinya. Dia menyesal bukanlah masalah, tapi... hal setelah penyesalan itu!! Jika dia mulai berpikir tentang cara untuk melepaskan dirinya dari pengakuan itu. Cara yang paling primitif dan efektif... adalah... Tidak... itu tak 'kan terjadi...! Apa yang kupikirkan... dia tak 'kan pernah melakukan itu. Itu akan terlalu beresiko..." Kata Asai yang masih berbicara di dalam hati dia sangat gelisah.
"Nggak berefek..." Kata Ishikura.
"Inderaku tidak kembali. Rencana menahan kakiku yang patah dengan mengikatnya erat-erat malah jadi berbalik... Kakiku sekarang mati rasa... Nggak bisa balik seperti semula..." Lanjut Ishikura. Asai hanya terdiam melihatnya, Lalu Asai melihat ke arah jam dinding dan terlihat pukul 03:15 pm. Lalu ia berdiri dan memakai jaket tebalnya.
"Aku pergi sebentar, jika salju ini berlangsung terus, aku tak'kan bisa menemukan ransel kita nanti. Mereka akan terkubur saju besok. Lagi pula, kita punya persediaan darurat di dalamnya" Lanjut Asai sambil bergegas di depan pintu.
"Begitu, ya..." Jawab Ishikura dengan wajah lemasnya.
Di tengah badai salju, Asai berjalan menuju tempat mereka terjebak tadi.
"Ketika kembali nanti... aku akan menjernihkannya... Akan kukatakan langsung padanya. Akan kukatakan bahwa aku tak 'kan memberitahukan orang lain. Mungkin... inilah pilihan terbaik. Dalam situasi ini, tidak baik jika terus berdiam diri berada di sekitar dia. Kenapa ini...? Aku merasa aneh..." Kata Asai dalam hati, ia telah sampai ke tempat ia meninggalkan ranselnya. Asai mengangkat 2 ransel yang besar itu kepunggungnya tapi ia tak bisa berdiri karena ranselnya terlalu berat.
"Nggak bisa... Aku harus kembali untuk mengambil yang satunya..."Kata Asai sambil melihat kesana-kemari dan ia melihat sebuah tiang yang ada Sign yang bertuliskan ' Rumah persinggahan ke 3' di atasnya, dan ia meletakkan salah satu ransel tersebut ke tiang itu.
"Dengan begitu, meski tertimbun salju, aku bakal bisa menggalinya" Kata Asai sambil meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumah persinggahan.
Setelah sampai, Asai memegang gagang pintu sambil melihat kaca yang ada di pintu itu. Ia melihat Ishikura sedang bertelepon dan terdengar "Ya... Tidak.. Cuma saya sendiri...".
Asai yang mendengarnya terkejut. Ishikura meletakkan pegangan teleponnya ke tempatnya. Lalu ia melihat Asai yang baru pulang.
"Oh, kau sudah kembali" Kata Ishikura dengan wajahnya yang lemas.
"Sendiri...!?"Kata Asai berbicara di dalam hati.
"Baru saja ada telepon dari markas di kaki gunung. Mereka ingin memastikan kita masih disini" Kata Ishikura sambil berjalan memakai tongkat selancar.
"Begitu... Ini ranselmu..." Kata Asai sambil meletakkan ransel yang digendongnya ke lantai.
"Apa maksudnya... 'hanya aku sendiri'?" Tanya Asai dalam hati.
"Ada kami berdua di sini. Kenapa dia bilang dia hanya sendirian...? Kecuali... dia akan sendirian di saat tim penyelamat tiba disini...!? jadi... orang yang mengetahui rahasianya... akan mati!? " lanjut Asai yang masih berbicara di dalam hati, ia berkeringat dingin, ia gelisah sambil memperhatikan Ishikura.
"Ah, tidak... Aku berpikir terlalu keras... mungkin mereka menanyakan 'berapa yang terluka?' atau 'berapa yang di dalam rumah persinggahan sekarang?'... ya, pasti itu!!" Kata Asai yang masih berbicara di dalam hati. Ia menatap Ishikura, ia terus memperhatikan Ishikura. Ia mengawasi Ishikura agar tidak berbuat yang aneh-aneh pada dirinya. Ishikura yang sedang berselimut tebal, terlihat seperti orang yang sedang frustasi. Wajahnya masih memperlihatkan wajah penyesalan.
___________
Makasih udah baca ya...
Sorry banget kalau lama update-nya ya...
banyak kegiatan sih...
tapi serukan...
jadi mohon vote sama Comment-nya ya...🙏
see you next chapter guys.. bye...🙋

KAMU SEDANG MEMBACA
CONFESSION
Mistério / SuspenseAsai dan Ishikura terjebak di tengah badai salju di gunung Owari, Ishikura yang terluka cukup parah dan yakin dirinya akan mati, mengakui pembunuhan yang pernah dilakukannya di masa lalu.