Chapter 4

2.1K 48 5
                                    

Aku masuk ke mobilku dan mengaduk-aduk tas, memastikan semuanya ada disitu. Aku segera menstrarter mobil dan menngemudikannya keluar halaman sekolah.

Aku memarkir mobilku dihalaman rumah. Sepertinya bibi belum pulang. Aku bisa mengetahuinya dari lampu rumah yang belum dinyalakan dan mobil bibi juga tidak ada. Aku keluar dari mobil dan membuka konci pintu. Aku menaruh tas dimeja makan dan mengambil uang yang bibi titipkan padaku.

Sebelum bibi berangkat kerja, dia memberi ku tugas untuk pergi berbelanja. Bibi bilang dia akan lembur dan tidak akan sempat pergi belanja. Jadi, aku diberi tugas olehnya.

Aku mengambil daftar belanja yang bibi berikan padaku. Aku kembali keluar dan mengonci pintu. Lalu, aku menstarter mobil dan mengemudi pergi.

Aku memarkir mobilku perlahan di tempat parkir. Supermarket ini tidak begitu besar, tapi barang-barang yang aku butuhkan tetap ada disini. Setelah selesai mengambil barang-barang yang aku perlukan, aku membayar barang belanjaanku kekasir dan berjalan keluar.

Aku berjalan disepanjang parkiran. Barang belanjaan ini berat sekali, jadi aku harus membawanya dengan kedua tanganku.

Pandanganku terhalang oleh bawaan belanjaku, sampai-sampai aku tidak melihat tali sepatuku yang kuinjak. Aku tersungkur keaspal dan mendelik marah. Shit! Aku sudah jatuh kedua kalinya dalam sehari. Aku segera membereskan barang belanjaanku yang berserakan. Aku memasukannya kedalam kantong plastik.

"Mari aku bantu."

Aku mendengar suara pria didepanku, dia berjongkok dan membantuku memasukkan barang-barang kekantong plastik. Diam-diam aku melirik orang didepanku. Dia memakai tudung jaket, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Dia berdiri setelah semua barang-barang belanjaanku tidak berserakan lagi. "Lain kali, kalau jalan harus lebih berhati-hati lagi."

Aku berdiri dan menatapnya. Tudung jaketnya benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk melihat wajahnya.

"Maaf, aku terburu-buru. Selamat malam dan jangan lupa untuk lebih berhati-hati."

Aku baru saja ingin berterima kasih padanya. Tapi dia sudah berlari pergi. Ah, coba saja aku tahu wajahnya. Jadi kalau aku bertemu dengannya aku bisa berterima kasih.

Aku segera berjalan ke mobil dan membuka bagasi. Setelah semua barang belanjaan sudah kutaruh dibagasi mobil, aku langsung menstarter mobil dan kembali kerumah. Jalanan licin karena hujan yang mengguyur kota Helston. Aku mengemudikan mobil pelan, takut hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Aku segera memarkir mobil dan berjalan masuk kerumah dan mengonci pintu. Bibi belum pulang juga kerumah. Sesampai di dapur aku mengeluarkan semua barang belanjaan, lalu menyumpalkannya dimana-mana. Aku harap bibi tidak keberatan.

Aku tidak berniat makan dan segera membawa tas sekolahku keatas. Sebelum mengerjakan PR yang diberikan Mr. Wedge, aku mengganti pakaian dengan yang kering, mengikat rambutku yang coklat lembab jadi kuncir kuda. Tidak butuh waktu lama mengerjakan PR Biologiku, kebanyakan soal yang sudah aku tahu jawabannya.

Aku membaringkan tubuhku dikasur. Aku memikirkan tentang kejadian ku disekolah dan ditempat parkir. Dua kali aku berhasil terjatuh karena kecerobohanku sendiri. Dan dua kali aku dibantu oleh sosok misterius yang sama-sama tidak sempat aku lihat wajahnya dan berterima kasih.

Aku jadi bergidik ketakutan dan membuang jauh-jauh fikiran takutku. Bagaimana bisa aku tertidur dalam suasana berisik karena hujan deras ini, ditambah lagi suara petir yang menggelegar membuatku semakin ketakutan. Aku menyeret selimutku sampai menutupi wajahku. Lalu baru aku bisa tertidur saat mendengar suara deras hujan berubah menjadi gerimis.

My Life With a VampireTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang