Dia Kwon Jiyong
teman masa kecilku
Aku tau dia seorang gay
dan sekarang , dia menjadi suamiku.
Pacarnya Choi Seunghyun
Pria dingin yang mencintai suamiku.
Orang yang tak bisa di tebak
Sekaligus sesorang yang membuatku selalu terusik...
Dan aku tingg...
Aku sudah peringatkan ini ff SEMI GAY. Jadi yang Homophobic boleh tinggalkan ff ini XDD
+++++++++++++++++++++++
"Yaaaakkk!! Kenapa masih belum berangkat kerja?? "
Suara nyaring ibuku.
Selalu mencoba memecahkan gendang telinga setiap paginya.
Aku melangkah gontai menuju wastafel dengan sikat gigi yang menempel di mulutku. Mata pandaku semakin melebar, seiring dengan pikiran kacauku tentang pernikahan bodoh ini.
Ingat Kim Jiwon. Kau akan menikahi pria yang menyukai seorang pria!! Dan kalian akan tinggal bersama. Kenapa kau mengambil keadaan bodoh ini?? — monologku.
"Eomma —"
Ibuku mendengus untuk menjawab panggilanku. Ku lihat ia sibuk mengolah kimci yang jelas akan kuberikan nanti pada keluarga Kwon.
"Apa yang dikatakan bibi Kwon padamu? Kenapa eomma begitu saja menerima ajakan itu? " rengekku.
Ibu masih acuh tak acuh, "Kau sendiri bagaimana? Langsung menerima kan? "
"Anni. Aku dipaksa !!—"
"Memang apa kurangnya Jiyong itu? Kalian sudah lama dekat dan saling mengenal? Dia kaya dan baik —"
Tapi dia gay bu... Gay!! - sungutku dalam hati.
"Tapi aku belum siap —"
Setidaknya, aku ingin menikah dengan orang normal yang mencintaiku juga. Ah, paling tidak pria itu bisa belajar mencintaiku setelah menikah.
"Semuanya akan terasa mudah kalau kau sudah menjalaninya nanti —"
Kakiku sudah menjadi jelly karena tak mendapatkan dukungannya.
Ibuku kemudian bertanya, "Aku dengar ada gosip aneh tentangnya. Tapi aku tak ingin mempercayainya."
"Ghoossiip aaffaa? " tanyaku yang sedang menyikat gigi.
Ibu mengerucutkan bibir lalu mengatakannya dengan sangat gamblang, "Ada yang bilang, Jiyong itu suka dengan laki-laki , ehm seperti itu lah —"
Aku nyaris memakan semua busa dari odolku. Segera aku berkumur - kumur lalu berjalan mendekati ibu di dapur.
"Kalau itu benar, apa ibu tak masalah menikahkanku dengan pria seperti itu??"
Satu detik
Dua detik
Dan detik berikutnya.
Aku masih berharap, ibu akan menolaknya.
Namun...
"Nikahi saja! Yang penting dia masih punya peluru dan tak memotongnya, itu tak masalah —"
"EOMMAA!!"
Suara gaduh datang dari lantai atas. Kedua adik kembarku berebut sesuatu yang akhirnya membuat ibuku marah karena berisik.
Yeoju dan Yeojin. Mulai bisa tenang saat aku mengambil benda yang mereka rebutkan.
"Eonnie, kembalikan !! —" rengek Yeojin si kembar perempuan.
Yeoju yang laki-laki tak mau mengalah dan ikut merengek memintanya padaku.
"Jaahh!! kalian liat apa sih ?" aku beralih ke ponsel.
Sebuah komik bertemakan yaoi tampil di layar ponsel tersebut.
"Yyaakk, siapa yang baca ini??" giliranku yang berteriak.
Yeojin mundur selangkah dan Yeoju menimpali, "Dia!! Dia!! Yeojin suka baca komik yaoi, noona !!"
Yeojin mencicit di sudut dinding, "Aanniyoo —"
Aku menatap sinis Yeojin sebelum akhirnya beralih ke layar ponsel.
Membaca beberapa part yang entah kenapa ilustrasinya mirip dengan Jiyong dan kekasihnya — Seunghyun.
Khayalanku tergambar jelas di atas kepalaku. Membayangkan dua sejoli itu saling berpelukan ditepian meja makan —
Lengan tegap Seunghyun mengunci pergerakan Jiyong di atas meja. Mendesak untuk menggoda Jiyong lewat perlakuan menggelikannya.
Menjilat sambil menyecap setiap inci wajah runcing kekasihnya seperti es krim —
"Ooomoo —" aku mengerjap dan Seunghyun sengaja menoleh. Menjulurkan lidahnya lalu mengusap punggung Jiyong terang-terangan.
Aku yang menyaksikan menganga sambil berkeringat dingin.
Pemandangan tak kalah panasnya pun berlanjut..
Jiyong dengan mudah berada dalam kungkungan Seunghyun. Mereka sudah saling merapatkan diri. Kedua tangan Seunghyun mulai turun ke bawah tubuh Jiyong dan meremas kedua bokongnya yang hanya berbalutkan celana olahraga itu.
Jiyong melenguh panjang, "Aaaahhh —"
Dan aku menjerit. Menutup semua mataku lalu menyerahkan ponsel itu pada Yeoju.
"AAANNNIYOOOO!!!!"
Masih dalam pikiranku, Seunghyun berubah menjadi maniak.
Berdendang seraya mengejekku yang mulai kehabisan akal.
"I have a pen.. I have apple —"
"Aahhhh !! Apple Pen .." Seunghyun mengedipkan mata genitnya ke arahku.
Spontan aku jatuh ke lantai dengan bokong mendarat terlebih dulu ke lantai kayu. Aku tak bisa lagi membedakan mana dunia nyata dan dunia khayalan saat memikirkan semua ini.
Ibuku memanggil namaku dengan keras. Aku yang tak peduli dan masih merasa adegan itu terus berputar di kepalaku, memilih berlari ke lantai atas menjeritkan kedua nama mereka yang menyebalkan.
"APA AKU BISA TAHAN MELIHAT MEREKA SEPERTI ITU SETIAP HARINYA NANTI??? AARRRGGGG !!!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.