Kenangan di Kaki Senja

49 5 0
                                    

"Kamu mau pesan apa?"
Suara anak perempuan berambut sebahu terdengar memulai percakapan dengan seseorang.
"Oh nasi goreng. Sebentar yah, aku buatkan dulu. Tunggu disitu!"
Tidak terdengar jawaban dari siapapun.
Ia hanya bercakap-cakap dengan dirinya sendiri.
Di depannya, tampak boneka kesayangannya, Dora.
Serasi dengan gaya rambutnya.
"Disini..."
Sibuk memosisikan bonekanya di sebuah bangku depan rumah.
"Kamu mau pedas atau ngga?"
"Oh ngga. Yaudah deh. Sabar ya."
Mengambil beberapa butir kerikil dan mencabut beberapa helai rumput dari pekarangan rumah.
Sreng. Sreng. Sreng. Mengaduk 'nasi goreng'nya di wajan kecil.
"Ini, habisin ya. Bayar loh kalau sudah."
Berjalan menuju ke boneka sembari membawa 'pesanan'. Lalu, berkacak pinggang dan memajukan bibirnya beberapa centi di depan 'teman'nya.
"Oh kamu mau bayar sekarang?"
Mata kecil coklat tua itu bersinar.
"Terimakasih... Kamu baik banget."
Menarik beberapa lembar uang-uangan dari tas Dora, lalu menciumnya.
"Hmm... Uangnya wangiii."
Menyengir lebar. Menunjukkan barisan gigi yang sudah menghilang beberapa.
"Kamu mau minum apa?"
"Air putih aja? Okedeh!"
Bergumam ria, sambil mengambilkan gelas mainan untuk boneka.
Dia sedang bermain masak-masakan.
Asyik sekali.
Tertawa, bernyanyi, dan berlari kecil kesana-kemari.
Siapa saja yang mendengarnya, pasti mengira ia sedang bermain dengan seorang teman. Padahal tidak.
Untuk seorang anak yang tidak pandai bergaul sepertinya, main sendiri tentu lebih menyenangkan.
Anak itu telungkup, lalu memainkan kakinya dan mengamati bonekanya dengan meletakkan kepala miring ke kanan di atas lipatan tangan.
Ia berkhayal Doranya dapat makan dan minum serta tersenyum menatapnya.
Lelah setelah memetik bunga, berburu belalang, bermain sepeda, dan bermain masak-masakan sendirian, ia pun tertidur.
Saat semburat jingga terlihat di kaki langit, anak itu terbangun.
"Aba, pulang yuk."
Suara anak kecil yang kira-kira berusia 5 tahun. Anak itu berkata sambil berlari kecil. Kaki kecilnya, gesit melangkahi satu per satu keramik lantai menuju kakeknya.
"Apa? Ili mau pulang?"
Bertanya balik untuk meyakinkan pendengaran usia 50-an. Terdengar kecewa. Cucunya baru bermain 3 jam di rumahnya. Ingatannya mengatakan, ia baru saja melihat cucunya berhasil menangkap belalang di rerumputan samping rumahnya.
"He...em..."
Setengah merajuk kakeknya yang kini sedang duduk disampingnya.
"Yaudah bilang dulu, Baa, Ili pulang dulu, Baa."
Abah, panggilan kesayangan anak kecil itu kepada kakeknya.
Senyap. Kemudian,
"Gak mau ah, malu."
Padahal sama kakek sendiri.
"Sini ngomong di kuping Aba. Bilang, Baa, Ili pulang dulu, Baa."
Masih menggoda cucunya.
Dia pikir, cucunya malu berkata sambil bertatap muka. Kemudian menyodorkan telinga, seolah berkata 'sini' tanpa suara.
Setelah terkumpul keberaniannya, akhirnya anak itu berkata,
"Baa, Ili pulang dulu, Baa"
Terdengar serak. Kelihatan seperti menahan tangis, bukan malu. Mungkin dia tak tega meninggalkan kakeknya, sedangkan dia sudah bosan bermain sendirian.
"Nah gitu dong. Hehe. Ayo kita pulang!"
Senyum terlihat di wajah bocah kurus itu.
...
Sangat berbeda dengan sifatnya sekarang.
Anak kecil itu, kini berubah menjadi remaja periang, dan suka bersosialisasi.
Setidaknya, kelihatan seperti itu. Ialah aku. Laili. Panggil saja aku, Ili.
Kata orang, jadilah diri sendiri. Tetapi, untuk apa jadi diri sendiri kalau hanya hidup sendiri?
Kau mungkin berfikir, kau tidak sendiri, kau masih bersama Tuhan.
Memang benar.
Tetapi, relasi dengan sesama manusia juga penting.
Hidup ini, bukan hanya tentang dirimu saja.
Tanpa orangtua, kau tidak ada di dunia ini.
Juga kakak, adik, saudara, sahabat, teman, dan orang-orang yang kau temui, hadir untuk melengkapi hidupmu.
Mulailah untuk mencoba melihat sekitar.
Kita tidak akan tahu apa yang terjadi di masa depan.
Tidak sedikit orang yang mengecewakanmu, tetapi tegarlah. Masih banyak orang yang menyayangimu.
Aku tidak suka senyuman itu. Bibir yang mengembangkan senyum, namun mata itu tidak bersinar.
Kosong.
Jika ingin meneteskan air mata, jangan sungkan untuk melepaskannya sesekali. Kau tidak ingin lupa bagaimana caranya menangis, bukan?
Kau sudah berusaha keras menyenangkan hati orang lain. Menangis belum tentu berarti lemah, kan?
...

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: May 06, 2017 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

PilihankuWhere stories live. Discover now