Mimpi yang berbenturan dengan realita, sungguh luar biasa rasanya.
Kau tau kopi?
Kopi hitam tanpa gula.
Ya, rasanya serupa.
Bagi beberapa orang mungkin biasa saja, bahkan sedap.
Tapi lain halnya aku, sama sekali tidak suka.
Pahit.
Pahitnya pekat.
Aku tak salahkan realita, tapi mimpi, yang membuat segalanya semakin pahit.
Hadirnya mimpi indah membuat realita terasa pahit.
Ia datang tanpa kuundang, di saat aku tak berinya kesempatan.
Tapi mengapa rasanya pahit?
Mimpi indah selayaknya berikan rasa manis.
Aku, sama dengan pikiran orang2 di luar sana.
Bingung.
Kemudian aku paham, kenapa pahit.
Karena dalam mimpi, harapan itu telah kugenggam erat.
Namun tak sampai dalam hitungan jam, realita kembali merebutnya dariku.
Rasa manis yg sedikit, begitu hilang sangat cepat, rasanya jadi pahit.
Aku tersedak.
Tapi mungkin ini skenarioNya.
Terima saja.
Meski aku kembali tersedak karena rasa pahit yg teramat pekat.
Boleh minta gula?
Aku tak tahan.(©Hnf, 2017)

KAMU SEDANG MEMBACA
Meninggalkan memori di ruang yang tepat
PoetryMenulis bagiku sama dengan meninggalkan memori di ruang yang tepat. Ia sepenuhnya kutinggal di sana, di setiap rongga huruf dan jarak di antaranya. Hingga tak ada lagi yg tersisa dalam diri. Setidaknya itu harapanku. Namun yg sering terjadi adalah i...