Pagi yang tenang di Amerika menyambut minggu ke 2 musim panas tahun ini. Mobil yang berlalu lalang meramaikan kota Pennsylvania yang tidak terlalu sibuk. Sekolah-sekolah yang sudah meliburkan murid-muridnya membuat ketenangan semakin terasa. Tapi, tentu saja ketenangan tidak dirasakan oleh David. Malam ini dia harus segera terbang ke Indonesia bersama kedua orangtuanya. Baginya ini tidak baik, hal ini merupakan malapetaka.
David benar-benar murung, raut wajahnya tertekuk hingga merubah pagi musim panasnya menjadi mendung. Bahkan ia sudah bingung harus melakkan apalagi agar kedua orang tuanya bisa membatalkan keberangkatan hari ini. Berbagai cara telah ia lakukan. Dari mulai berpura-pura sakit, menjadi anak yang benar-benar patuh pada orang tua, hingga kabur dari rumah. Tapi, semuanya percuma. Setelah polisi menyuruhnya pulang secara paksa karena nekat membobol mesin parkir. Akhirnya ia pasrah harus menngikuti kedua orang tuanya jika tidak ingin masuk penjara.
"Kamu mau kemana?" Ucap ibu David, seorang wanita Indonesia yang menggunakan kerudung biru langit yang menutupi kepalanya.
"Aku harus mengucapkan selamat tinggal pada teman-temanku." Tanpa menoleh David berjalan menuju cafe tempat ia dan teman-temannya makan.
Topi snapbacknya yang berwaarna merah marun ia pasang di kepalanya dengan tangan yang ia simpan di kantung celana jeansnya itu.
Sesampainya ia di cafe ke-6 temannya telah menunggu David. Tidak ada wajah yang benar-benar bahagia di antara wajah pemuda-pemuda itu. Keheningan pun tercipta seketika.
"Bajumu bagus." Jashon memecahkan keheningan. Pemuda keturunan Afrika-Amerika itu membuat teman-temannya tersenyum.
"Benarkah? Aku membelinya di Azamon." Lagi-lagi David membalas candaan ringan membuat pemuda itu tertawa. Sekalipun raut wajah sedih tak terbendung dari wajah-wajah mereka.
Mereka terdiam. Tak ada kata yang benar-benar ingin di sampaikan selain ucapan selamat tinggal.
"Kami akan merindukanmu." Tiba-tiba saja Marc memeluk David dan membuat ke 5 pemuda lainnya juga memeluk mereka berdua dari belakang.
"Aku pasti akan mengunjungi kalian."
"Aku harap kau mengunjungi kami di musim panas tahun depan." Sambung Jashon.
Anak-anak itu kembali bercakap-cakap tanpa henti, sangat banyak sekali hal-hal yang mereka bicarakan. Tawa-tawa renyah yang membanjiri seisi cafe dan membuat mereka semua lupa waktu. Tak terasa mereka telah bercakap lebih dari 5 jam dan waktu telah menunjukkan pukul 7.45 pm waktu setempat. Sementara David harus sudah di bandara pada pukul 9 pm. Dan ia pun memilih untuk berpamitan dengan kawan sejawatnya itu dan kembali rumah.
"Akhirnya kamu pulang juga." Ucap Ayah David yang tengah memasukkan koper-koper ke dalam bagasi taxi, "Lekas mandi dan ganti bajumu."
"Tidak usah, nanti kita terlambat!" Ucap ibu David terburu-terburu.
Dengan santainya David masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil barang tanpa raut terburu-buru sedikitpun. Semuanya ia lakukan dengan setengah hati sambil beberapa kali menghela nafas.
"Saatnya berangkat!" Perintah ayah David pada supir taxi.
Mobil kuning itu melaju dengan kecepatan rata-rata menyusuri jalan raya. Tidak ada hal-hal yang bisa dipikirkan David selain teman-teman yang ia tinggalkan dan kehidupannya di negara baru. Saat pandangannya kosong menatap pemandangan dari balik jendela taxi, Ibu David merangkulnya.
"Semuanya akan baik-baik saja." Bisik ibunya dan kemudian mencium kepala David.
Tepat pukul 10.35 pm, pesawat lepas landas dari Pittsburgh International Airport menuju Bandar Udara Soekarno Hatta.
*Tulisan cetak miring percakapn dalam Bahasa Inggris
Bersambung...
Preview Next Episode
Hari pertama masalah di sekolah tercipta.
Cerita akan diterbitkan seminggu sekali.

YOU ARE READING
Bukan Hanya Tentang Kita
RomanceHal-hal yang terjadi dalam hidup bukan semata-semata karena kebetulan atau ketidak sengajaan. Melainkan karena sebuah rencana yang telah diatur dengan rinci.