Beep beep... beep beep...
Junka mematikan alarmnya dan bangun dari posisi tidurnya. Ia jalan menuju ke jendela besarnya itu dan membuka tirainya untuk melihat sebuah kotak Sydney yang sibuk di pagi hari.
Sebuah hari yang baru untuk mengawali sebuah perawalan yang baru. Alice dan gengnya sudah tidak ada dan semuanya bebas. Tak ada nasib buruk lagi untuk sekarang.
"Pagi Junka," sapa Ronald dari belakang pintu koneksi. Lalu, ia masuk ke dalam kamar Junka dan memeluknya dari belakang.
"Pagi Ronald," jawab Junka dengan senyum yang manis.
"Bagaimana dengan keadaanmu?" tanya Ronald.
"Baik. Justru aku senang sekali hari ini! Alice dan gengnya sudah tidak ada. Aku merasa seperti burung kecil yang baru saja berhasil kabur dari perangkap sih burung gagak."
"Pfft... burung gagak?" tanya Ronald sambil menaikkan alisnya dan tertawa kecil.
"Hahaha... kadang-kadang imajinasiku memang sedikit aneh," jawab Junka sambil tertawa.
"Yo what's up my everybody? Kembali lagi bersama saya, Richard Knox," ujar Richard. Yang pastinya ia muncul dari pintu koneksinya.
"Hahaha... mau jadi presenter bang?" tanya Ronald.
"Terserah aku lah," jawab Richard sambil ikut menatap kesibukan Sydney yang ada di bawah sana. "Isn't this lovely?"
"Iya," jawab Ronald.
"Aku senang dia sudah tidak ada," gumam Junka.
"Sama," ujar Ronald dan Richard.
"Well, meskipun Alice masih tinggal di kota yang sama dengan kita, yang penting dia tidak akan ada untuk mengganggu kita setiap hari lagi," ujar Junka.
"Aku dengar dia dan keluarganya pindah ke Finlandia dan menyekolahkan Alice ke dalam sekolah asrama khusus untuk perempuan," ujar Ronald.
"Wow... pasti dia bakal cerewet matang-matangan tuh, hahaha..." tawa Richard.
"Hahaha... iya. Akhirnya aku bisa merasakan sebuah kebebasan dan kemerdekaan," ujar Junka. "Anyways, apa yang akan kita lakukan hari ini?"
"Hmm... sebuah piknik besar akan menyenangkan," jawab Ronald. "Lagipula, kita semua juga membutuhkan satu hari yang bisa mengrilekskan pikiran kita."
"Iya, itu adalah ide yang bagus," ujar Richard.
"Well, apa yang kalian tunggu-tunggu? Ayo kita bersiap-siap," ujar Junka sembari mengambil sepasang pakaian dari kopernya. "Dan jangan lupa untuk memberitahukan ini kepada yang lainnya."
"Sip."
Lalu, kedua laku-laki itu keluar dari kamar Junka dan menutupi pintu konseksi tersebut. Junka masuk ke dalam kamar mandi dan menyalakan salah satu karya Charlie Puth sembari mulai mandi.
***
"Hei Ronald, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ujar Richard.
"Apa?"
"Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau pantas menjadi cowok Junka. Kamu itu orangnya baik hati, lucu, protective, dan easy-going. Sedangkan aku, aku bukan apa-apa. Aku hanya seorang laki-laki biasa."
"Junka sendiri adalah cewek yang spesial bagiku dan aku tak sanggup melihatnya sedih atau meneteskan air matanya sedikit pun. Aku tidak bisa menjadi cowok yang baik untuknya. Tapi kamu bisa. Cara Junka menatapmu dan tersenyum, itu adalah Junka yang selama ini kucari. Dan hal spesial itu berasal darimu. Aku hanya merasa seperti kakaknya. Bukan pacarnya."

KAMU SEDANG MEMBACA
Common Fate ✔️
Подростковая литература[ B O O K 1; PROSES EDITING] Junka Akihabara dan sahabatnya telah bersatu selama 3 tahun berturut-turut. Mereka semua dipertemukan di Tokyo dimana mereka bersekolah di sekolah yang sama. Semua orang mengenal mereka sebagai sekumpulan sahabat yang s...