Penyesalan

14 0 0
                                    

Malam ini dia datang padaku membawa semua perasaan yang dulu pernah ku berikan padanya. Dia datang dengan sejuta pertanyaan yang tampak jelas di wajahnya.

Dia bertanya padaku, mengapa rasa yang dulu manis kini mulai terasa hambar. Aku tertawa mendengarnya. Apakah dia tak tahu pertanyaan yang dia lontarkan itu bagaikan lelucon bagiku. Aku menyudahi tawaku ketika ku lihat raut wajahnya yang aneh.

Aku menjelaskan kepadanya bahwa rasa yang dulu pernah ku berikan untuknya kini perlahan mulai menguap bersatu dengan angin dan terbang entah kemana. Aku tak mau lagi bersusah payah mencarinya kembali. Karena saat ini aku ingin belajar untuk bahagia tanpa dirinya

Namun sepertinya dia tak terima atas jawabanku. Dia kembali bertanya, mengapa aku ingin bahagia tanpa dirinya. Kali ini aku kembali tertawa atas pertanyaan konyolnya.

Bisakah sedikit saja dia menggunakan otaknya untuk malam ini. Wanita mana yang rela terus merasakan sakit saat melihat pria yang sangat ia cintai lebih memilih bersama dengan wanita lain. Ingat ! Aku tak setegar itu. Aku tak bisa terus-terusan menunjukkan senyum palsuku kepada semua orang saat melihat dirimu bermesraan dengan dirinya.

Aku melihat dia menggelengkan kepalanya. Dia berteriak bahwa semua ini tak adil. Dia berteriak seolah dirinyalah yang tersakiti. Hey lihatlah ! Satu satunya orang yang tersakiti dalam kasus ini adalah diriku. Seharusnya aku yang berteriak bahwa semua ini tak adil. Tapi sudahlah aku tak ingin memperpanjang masalahku dengan dirinya. Aku memintanya untuk segera meninggalkan aku dan rumahku

Dia terus menatapku. Sangat jelas kebencian tercipta disana. Aku memilih mengalihkan pandanganku, tak ingin bertemu pandang dengan matanya. Tak lama ia pun pergi meninggalkan diriku yang kini mulai menangis. Menumpahkan semua air mata yang sejak tadi aku tahan. Aku tak bisa seperti ini. Aku sangat mencintai dirinya walau sakit hati menjadi konsekuensinya.

Aku sangat menyesali perkataanku tadi kepadanya. Aku hanya ingin melihat reaksinya namun ternyata semuanya diluar ekspektasiku. Dia benar-benar membenciku. Jiwaku seolah melayang melihat dia melemparkan tatapan kebencinya kepadaku

Aku menangis seorang diri di depan pintu rumahku. Bulan dan bintang menjadi saksi atas jatuhnya air mataku karena penyesalanku malam ini.


By : Dyah Tri Mega Utami

Hey hey hey !!! Aku kembali dong ke dunia ini.
Ayo dong vote dan commentnya. Masa di read aja. Sangat ditunggu loh vote dari kalian 😊😊😊

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 09, 2018 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Memori Masa LaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang