Mengejawantahkan Gelap dan Terang Kehidupan dalam Puisi. Dahulu pernah kumelangkah menuju terang cahaya indah. Sunggingan bibirku pun tampak merekah Menari di benakku tak kenal lelah. Singgasana emas di suatu negeri antah-berantah. Bak kuda tua ku berlari tertatih, terhuyung tubuhku tak kenal letih terseok langkah namun takkan terhenti. Telah kutinggalkan jarak jutaan senti terlalu jauh mula yang terlewati, kupastikan cahaya indah di penghujung nanti telah menanti. Namun apa nyana di pertengahan langkahku darahku berdesir lidahku kaku, mata seolah menatap tubuhku beku setiap sajak yang ada, seluruh organ indera bak tertancap paku jutaan perih serasa merengkuh. Mengombang-ambingkan ego dalam ragu bak ombak yang menghempas tepi karang. Ya Tuhan ada apa semua dengan langkah ini sulit kurasa tuk tetap jalani. Tertanda, Lelaki di ujung senja.
