RUMAH KAYU

169 3 2
                                    


AGUNG DH.

BAB. I

LUCAS turun dari bis. Berjalan kaki cukup jauh masuk ke hutan karet. Menuju desa rumah kakek belum ada angkutan melelahkan sekali. Tiba di jembatan desa Lucas harus menunggu jemputan yang dijanjikan. Tempatnya sepi dan agak gelap. Sinar matahari terhalang oleh rimbunnya daun karet. Saat menunggu Lucas dikagetkan oleh penampakan gadis di balik pohon besar. Menyusul penampakan makhluk yang lain. Mereka membicarakan lelaki yang duduk di pagar jembatan itu. Seakan Lucas sudah mereka kenali meskipun baru kali itu Lucas melihat keduanya. Kemudian tubuh mereka pelan-pelan menghilang

Belum hilang dari rasa penasarannya melihat kedua makhluk astral itu didengarnya suara mesin kendaraan datang. Bastian naik roda empat pemecah gerabah padi bersama seorang teman yang sudah Lucas kenali. Lama sekali ia tidak bertemu dengan teman sedesa Bastian itu.

"Kendaraanku mogok di tengah jalan," kata Bastian sambil meloncat turun lalu mereka saling berpelukkan. Karena sudah lama sekali tidak bertemu. Lucas terakhir bertemu Damar lima belas tahun yang lalu. Sekarang anak Pak Simon sudah besar. Tubuhnya kekar, berkulit agak gelap dan berambut keriting.

"Kebetulan Damar lewat kusuruh mengantarkan kemari untuk menjemputmu. Kamu tentu sudah mengenalnya," sambung Bastian.

"Lama tidak kemari kukira kamu sudah melupakan desa ini," kata Damar.

"Bukan karena itu, tetapi kesibukkanku. Selain itu.....," Lucas tak meneruskan bicaranya, karena merasa tidak enak menceritakan kesulitan mencari ojeg dan harus berjalan kaki cukup membuat badan capai sekali. Tetapi langsung disambung Bastian yang sudah tahu Lucas tidak pernah ke desa, "Jalan menuju desa rusak dan harus jalan cukup jauh."

"Bicara Bastian benar!" sahut Lucas. "Melelahkan sekali harus berjalan jauh."

"Desa ini luput dari perhatian pusat," kata Damar. "Listrik sudah masuk desa, tetapi jalannya tetap rusak!"

Mereka naik mesin slep ke rumah kakek. Roda empat buatan sendiri yang dijalankan memakai diesel untuk menggerakkan mesin pemecah gerabah. Yang bisa difungsikan jadi angkutan sederhana, mejalankan poros roda dan diberi batang kemudi sehingga bisa dinaiki seperti layaknya mobil. Mobil rakitan ini meluncur dengan aman masuk ke jalan-jalan desa. Damar menyewakan kepada penduduk yang baru panen padi.

Setelah melewati belakang bukit, Lucas dibuat terkejut melihat rumah yang dikenali pemiliknya. Dulu rumah itu milik Tuan Hendrik, belanda tua yang sering dipanggil dengan sebutan meneer, tinggal bersama istrinya bernama Nyonya Tamara. Lucas sering berkunjung bersama Bastian. Karena pemiliknya sering mengundang keduanya untuk datang. Di halaman depan ada kolam airnya dingin sekali. Meneer sering berenang bersama istrinya. Lucas dan Bastian hanya menonton di pinggiran sambil makan roti. Biasanya sehabis berenang Nyonya Tamara membakar ikan untuk dimakan bersama-sama. Lucas masih ingat enaknya masakan Nyonya Tamara. Tuan Hendrik pernah bercerita kepada Lucas, jatuh cinta kepada Nyonya Tamara dari masakannya yang enak turun ke hati. Tetapi itu sudah lama berlalu, ya lama sekali. Rumah itu sekarang sudah kotor dan kelihatan angker. Keluarga Tuan Hendrik sudah tidak ada lagi dan rumah kayu dibiarkan kosong dan rusak. Dinding kayunya banyak lepas sehingga nampak bolong.

"Rumah kayu itu dulu sering kita kunjungi," kata Lucas hampir tidak percaya melihat keadaan rumah itu sekarang. "Seperti baru beberapa tahun saja kejadiannya."

"Pemiliknya sudah meninggal," kata Bastian. "Ada yang mengatakan Nyonya Tamara dibunuh. Tetapi ada yang mengatakan pulang ke Belanda."

RUMAH KAYUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang