/12/
Pada lampu jalan itu
kau bertanya kepadaku:
rindu macam apa yang melukaimu?
kau diam. Lalu menunjuk luka di dahimu."Ini buah masa lalu,
kau petik
ketika menunggu
dalu geletik,"Di jemari,
kau kembali
pada satu cerita
itu. Sehingga aku lupa.Mengapa manusia tak pernah bersahabat pada kota,
untuk sekedar berjalan di trotoarnya?Apalagi pada sejarah. Lampu itu tetap di tempatnya. Bercahaya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Belajar Hidup Sehat
PoesíaHaiku ini seperti aforisme penyair mabuk yang sedang berusaha melewati hari-hari sebelum pelaksanaan operasi kantung kemih. Di sana kau bisa membacanya sambil berdoa agar penyair mabuk lekas tawakal atau mati. Sebab, kau tahu, kota yang terlampau ba...