15.00 WIB. Ruang K.401.
"Sudah selesai?"
Pintu studio dibuka, menampakkan wajah Pak Han, salah satu dosen senior Departemen Arsitektur, yang sudah keriput.
"Masih ada yang belum, Pak ...," Dimas, Kandidat Ketua Angkatan Arsitektur 2016, angkat suara.
Pak Han menyapu pandangannya pada seisi ruangan. Beliau melihat kepanikan mulai menyergap anak-anak didiknya. Kemudian, pandangannya dialihkan pada arloji merk Rolex yang terpasang rapi di tangan kanannya.
"Hm .... Kira-kira jam 15.30 bisa selesai? Saya ada meeting mendadak dengan klien jam 17.00 nanti. Kalian juga jadi bisa pulang cepat, kan?"
Semua anak saling bertukar pandang. Ada yang sudah ingin menangis, ada yang memelas, ada yang pasrah, ada yang santai. Permintaan Pak Han tidak terasa seperti permintaan, tetapi terasa seperti paksaan yang menunggu untuk diiyakan.
Dimas mewakili teman-teman seangkatannya. "Bisa, Pak. Nanti dikumpulkan di meja bapak saja?"
"Iya, di meja saya. Oke, saya tinggal, ya. Nanti setelah mengumpulkan tugas, kalian boleh pulang, kok."
"Baik, Pak. Terima kasih, ya, Pak."
Setelah mengangguk, Pak Han keluar dari studio. Keadaan langsung kacau. Anak-anak yang belum selesai mengerjakan tugasnya buru-buru mengerjakan apa yang belum mereka kerjakan. Mereka saling berteriak. Ada yang berteriak untuk meminjam alat, ada yang berteriak karena stress.
"Yang udah selesai, kumpulin aja di meja depan. Terus, bantuin yang masih ngerjain, ya! Jangan apatis, oke?" perintah Dimas. Ia sendiri sudah selesai, tepat saat Pak Han masuk ke kelas. Dirinya segera membantu teman-temannya yang belum selesai mengerjakan tugas.
"HUHUHU GIMANA, NIH, HITUNGAN GUE BELOM KELAR!!"
"ADA YANG BISA BANTUIN GAMBAR NGGA??"
"BAGAS, BANTUIN, YA? PLIS BANGET!!"
"Ratri mau dibantuin ngga?"
"Adhia, bantu Kanya aja. Kasian, tuh, detailnya belom ditulis."
"Tita sama Angga udah selesai, nih, siapa yang mau dibantuin lagi?"
"Dimas, ini ditaro di meja aja?"
Keadaan kelas kacau. Yang sudah selesai segera membantu yang belum. Seiring waktu berjalan, kepanikan mereka makin meluap. Yang belum selesai panik karena takut tidak selesai, sedangkan yang sudah selesai ikut panik karena temannya sudah hampir gila. Dasar mahasiswa.
"PUJI TUHAN, SELESAI!!"
Ditandai dengan teriakan Ratri sebagai mahasiswa terakhir yang menyelesaikan tugas pada pukul 15.26 WIB, mahasiswa baru Departemen Arsitektur berhasil menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Dimas mengambil tumpukan tugas, dibantu oleh Adhia yang langsung mengambil setengah tumpukan itu dari tangan Dimas.
"Gue sama Adhia ke meja Pak Han, ya. Kalian pulang aja," ucap Dimas.
"Beneran pulang, nih? Kalau ada Mabim gimana?" Raska bertanya khawatir.
"Santai, lah. Pulang aja. Orang kating belom dateng juga, kan," Angga menjawab dengan santai.
"Iya, tuh. Kating, kan, ngga ada. Mending pulang sekarang biar ngga ada Mabim!" Ajeng mendukung Angga.
"Ya udah, pada pulang, gih! Gue sama Dimas ngumpulin tugas, ya!"
Dimas dan Adhia berjalan menuju pintu. Anak-anak lain langsung merapikan barang masing-masing. Beberapa sudah menyandang tas dan barang bawaannya malah.

KAMU SEDANG MEMBACA
Dramatektur
Cerita PendekFakta: Total air mata yang dikeluarkan saat mengerjakan tugas dari dosen lebih banyak daripada saat nonton drama Korea.