" Mulai tertata "

59 10 5
                                    

" Sam gimana sekolahnya?" tanya Mama di meja makan, " Fine-fine aja" jawab gua. "Sam kamu harus janji, kali ini, kamu harus bisa bertahan hidup di desa kecil ini" kata Mama lagi, "Mah bukan Asam mah, dari dulu juga Asam juga jelasin, Iyya emang Asam pake obat itu, tapi bukan karena kemauan Asam Mah, Asam bisa jaga diri" sahut gua agak keras. "Sam udah berapa kali mamah bilang, kamu kesini bukan buat jelasin dan buktiin, tapi untuk sembunyi!" sahut mamah, "Trus papah?!" skakmat kan, mamah gua ngga bisa jawab lagi, yang mamah mau denger cuma Asam berhasil sembunyi, sembunyi dari teriakan - teriakan obat itu dan papah, mamah juga ngga tau entah Asam punya temen atau ngga, entah Asam bisa masuk lab atau ngga, atau entah sampai kapan orang-orang bakal ngga tau bahwa Asam ini Monster! Yang mamah mau cuma Asam bisa lari dan lari, tanpa tau luka di kaki.

Percuma.
Buang-buang waktu aja gua berdebat masalah yang terus berlanjut tanpa ujung. Percuma. Percuma aja gua anaknya kalau yang Berusaha itu cuma gua. Capek. Capek gua nanggung dosa yang bukan gua jadi pangkal nya.
" Udahlah mah, Asam mau berangkat" kata gua tanpa salam, tanpa dianter dan tanpa uang jajan.

Jarak sekolah dari rumah ngga begitu jauh sih, kira-kira 1 kiloan lah, lumayan buat gua refresh. Lewat sawah, lewat gudang bawah, jalan setapak, kerikil yang terhempas. Wahhh,, terus aja gua hidup disini, sama Navi hehe.

Itu Naviiiii..... pake sepeda, waaaaaa, bahkan saat mengayuh sepeda pun gua tersyentuhh.
Pantesan dia awet muda, ternyata pake sepeda.
" Buruan jalan" dorong seseorang dari belakang. Taraaaaataraaatartaa, dia Natty. Haha sekarang gua jalan sama ni bocah. Haha dia jalan, haha sama gua. Haha berdua. Haha, di depan ada anjing sama anaknya. Haha, si Natty malah lempar batu, kampretttt yang kena batunya mamahnya " Lari Sam, lari" tarik si Natty, eh ni cewe buset larinya kenceng amat. Kerikil nya nancep-nancep di sepatu gua,sakit anjayy. Ngos-ngosan nyampe sekolah. Udah tadi gua habis mandi,sekarang ketek gua berlendir lagi gara-gara si Natty Keling kampret ini. Makin benciiiiiii. Si Navi ilang lagi.

"Fyuh,, seru kan" kata seorang cewe pake setengah nafas.
"Seru ndasmu, liat sepatu gua udah mulai laper" sahut gua menunjukkan sepatu gua yang mau lepas.
" Kayak mulut buaya, kulit sepatu km" masih sempet dia ketawa.
"Receh, gabut kagak lucu!" Ejek gua.
Ehh, mas Bagus dateng juga akhirnya, sambut gua pake senyuman berseri.
"Minggir lu" kata gua sambil dorong si Natty.
"Eh, Mas Bagus, mimpi apa semalam mas? Kok jam segini baru dateng. Padahal mas piket di hari yang indah ini" kata gua sok puitis ke Bagus.
"Aku sakit, aku sakit gigi" ini dia nyanyi apa sakit gigi?
"Tadi si Navi pake sepeda Gus, cantik banget dia ngayuh sepeda, rugi lu kagak dapet liat, padahal ajang cuci mata hahah" kata gua ngeggoda si Bagus.
"Sekali km liat lagi, aku colok mata kamu pake pensil" wahh serem ni anak wkwkwk. Gus, gua ngga sengaja suka sama dia. Tapi tenang aja, ngga mungkin gua pacarin kok. Paling gua jadiin sandaran. Hehe, sorry ya Gus.

Dilabrak.
"Udah dong mas Asam, jangan liatin Navi terus" kata Bagus sambil nunjukin pensil ke mata gua.
"Gua ga liat dia, gua butuh ventilasi cahaya kalee" gua mengelak.
"Eh Gus coba deh lu liat Natty, dia cantik juga loh, liat tuhh, rambutnya halus..." belum sempet gua nyambung malah si Bagus nyaut, " padahal rambutnya kusut" dasar kampret, "eeh kaga boleh gitu, yaudah, sepatunya keren ada debunya,...."
"Padahal aslinya kumuh kan?" Terrrr...
"Yang lain deh, bibirnya seksi kek di sulam" coba gua ngeyakinin Bagus.
"Disulam matamu, udah berminyak kaya gitu, korban gorengan tuh" yaampun ni anak sampe segitunya.
Natty, reall haterslu disini.
Mulai.
"Mending kamu deketin hal yang bisa buat km Untung" kata mamah,UNTUNG ahaaa... mamah is the best mah emang, kata-kata mamah gua bikin gua terinspirasi sebuah Sinaran suci menuju Navi.
Dan sinar itu adalah kegelapan Natty. Hehe. Kata orang deketin bayangannya baru kamu bisa tangkep orangnya. Dan bayangannya adalah Natty.
Natty, mulailah kamu jadi teman ku ya? Mulailah sama-sama menata hubungan lokal yang menguntungkan.

Natty.
"Natty, kapan-kapan ajak aku nonton drama ooppa itu ya?" Celetuk gua.
"Oh my God, kamu? Mau nonton oppaku? Demi kekuatan bong soon apakah kamu siap dengan alurnya yang seperti petir? Kamu bisa terlempar jauh ke angkasa raya, kamu bisa kehilangan dunia nyata dan jatuh ke dunia yang fana, tidak apa kawan, genggam saja tanganku. "salah ya kata-kata gua tadi? Kenapa ni cewe baca mantra? "Iyah pokoknya ajak aku nonton" sahut gua dengan tatapan tajam.
Dan. Terlihat benang-benang cemerlang di mata Natty, mungkin dia baru pertama dapet teman yang bersedia nemenin dia dan segala hal buruk tentang dia.
Kelas musik.
Kampret kelas musik, huaa gua lupa semua kunci gitar. Mampus gua Mampus. Pada gurunya killer, ini pertama kalinya ada kelas seni kaya kelas kimia, kebanyakan ikatan ion. Ribet banget ni guru. Jangan gua, jangan gua, semoga bukan gua yang maju. Tuhan hamba tau engkau maha tau.

"Kembar" naaa tihta sang penguasa tak bisa di tolak lagi. Kembar maju. Hahahaha. Dengan semangat si Natty maju membawa gitar, dan Navi maju menuju piano. Ohh my God, pianis manis di hari Kamis yang gerimis.
"Pak, itu aku" kata si Natty sambil ngelirik si Navi yang mengangguk.
1,2,3 mulai...
Seandainya ini bukan ketikan, seandainya ini bisa di dengar, kalian bakal tau merdu suara Navi mengalir bersama air hujan yang terus turun mengiringi lagu yang sempurna. Semua mata tertuju ke pianis manis bagai kismis, termasuk mata gua.
Navi, aku yang kamu nyanyikan. Biarkan kamu bernyanyi dan aku liriknya.
Navi, teruslah manis seperti saat menjadi pianis.

~oppaya~Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang